Reservoir Siranda, Salah Satu Pemicu Pertempuran Lima Hari Semarang

Reservoir kuno Siranda PDAM Tirta Moedal Kota Semarang terletak di Jalan Diponegoro, Semarang yang masih terawat baik.

TIDAK banyak generasi muda sekarang yang memahami sejarah tentang pertempuran lima hari di Semarang. Peristiwa heroik yang memakan korban banyak warga Kota Semarang itu kini tinggal kenangan. Beberapa saksi bisu pertempuran itu pun kini masih terawat dengan baik. Di antaranya, Lawangsewu dan Reservoir Siranda. Bahkan, untuk mengenangnya, dibangun sebuah tugu setinggi 53 meter yang dikenal dengan nama Tugu Muda.

Saksi bisu yang paling monumental namun banyak dilupakan sebenarnya adalah Reservoir Siranda. Bisa dikatakan bangunan aset PDAM Tirta Moedal Kota Semarang yang ada di Jalan Diponegoro, Semarang ini merupakan salah satu pemicu terjadinya Perang Lima Hari di Semarang. Serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia melawan tentara Jepang di Semarang pada masa transisi kekuasaan ke Belanda yang terjadi pada tanggal 15–19 Oktober 1945, dalam catatan sejarah memang ada dua penyebab utama. Yaitu larinya tentara Jepang dan tewasnya dr Kariadi.

Nah, meninggalnya dr Kariadi inilah yang menurut catatan sejarah hendak mengecek Reservoir Siranda yang kabarnya akan diracun tentara Jepang.

- Advertisement -

Humas PDAM Kota Semarang, Joko Purwanto mengatakan, bangunan reservoir Siranda sampai sekarang masih berfungsi sebagai tempat penampungan air sebelum didistribusikan ke pelanggan PDAM.

Dan menurut perkiraan dibangun pada tahun 1912 oleh Pemerintah Belanda. Sedangkan sumber airnya berasal dari moedal daerah Gunungpati.

“Untuk reservoir Siranda yang mengalirkan air ke daerah Semarang Kota, seperti daerah Simpanglima, Jalan Pemuda dan kawasan Kota Lama serta kawasan Pelabuhan lama di Mberok,” katanya, Jumat (16/8/2019).

Ditambahkan, Joko, selain reservoir Siranda, pada sekitar tahun 1912 tersebut juga dibangun reservoir Kepoh dan Reservoir Jomblang. Reservoir Kepoh untuk mengalirkan air ke daerah Semarang bagian atas, seperti Candi Baru, Sisingamangaraja, dan Gajahmungkur. Sementara Reservoir Jomblang untuk mengalirkan air ke daerah Pecinan, Semarang Timur.

Adapun terkait dengan sejarah dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang, keberadaan reservoir Siranda tidak lepas hubungannya dengan perjuangan bangsa Indonesia, khususnya di Kota Semarang.

Saat itu suasana Kota Semarang menjadi panas dan terdengar kabar bahwa pasukan Kidobutai akan mengadakan serangan balasan terhadap pemuda Semarang. Pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti senjata delapan Polisi Istimewa yang sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang.

“Kedelapan polisi itu dibawa dan disiksa ke markas Kidobutai di Jatingaleh, seiring dengan meluasnya desas-desus yang menggelisahkan masyarakat bahwa reservoir (cadangan air minum) Siranda di Candi Lama akan diracuni oleh tentara Jepang,” papar Joko.

Dokter Karyadi yang menjabat sebagai Kepala Laboratorium Purusara langsung meluncur ke Siranda untuk mengecek kebenarannya. Meskipun sang istri, drg Soenarti, telah mencegahnya untuk pergi karena suasana yang sangat membahayakan, tetapi dia berpendapat lain.

Dia harus menyelidiki desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Dan, kenyataannya dia tidak pernah sampai ke tujuan, jenazahnya ditemukan di Jalan Pandanaran. Berita gugurnya dr Karyadi menyulut kemarahan warga Semarang. Terjadilah pertempuran yang meluas ke berbagai penjuru kota. Korban pun berjatuhan dimana-mana.

Dari beberapa sumber yang dirangkum menyebutkan, Pertempuran Lima Hari di Semarang terjadi saat tentara Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945 dan menyusul diproklamasikannya Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Seharusnya selesailah kekuasaan Jepang di Indonesia.

Akan tetapi, pertempuran justru terjadi di Semarang, Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Pada 13 Oktober 1945, tentara Jepang Kidobutai yang bermarkas di Jatingaleh menolak penyerahan senjata sehingga terjadi ketegangan antara pemuda Indonesia dan tentara Jepang, termasuk Mayor Kido sang komandan yang pada 14 Oktober 1945 tidak memberikan persetujuannya meskipun dijamin oleh Gubernur Wongsonegoro bahwa senjata tersebut tidak digunakan untuk melawan Jepang.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.