in

Semarang, Kota yang Selalu Siap Banjir Meski Belum Musim Hujan

Foto ilustrasi banjir di Semarang. (Dok/AI)

DI Semarang, banjir bukan sekadar bencana alam; ini adalah festival tahunan yang ditunggu-tunggu, lengkap dengan “parade” perahu karet, “arena bermain anak” di jalan raya yang tergenang, dan warga yang sudah mahir memprediksi cuaca melebihi aplikasi BMKG.

Tiap tahun, kota ini menggelar perayaan basah-basahan tanpa perlu menanti musim hujan. Dari rob romantis di pesisir hingga “kolam renang publik” di tengah kota, Semarang punya cara sendiri untuk menjadikan banjir sebagai bagian dari identitas budaya.

Tapi, di balik tawa getir warga, ada cerita tentang drainase yang mampet dan reklamasi yang seolah berlomba dengan laut untuk merebut ruang.

Semarang memang istimewa. Ketika kota lain masih sibuk mempersiapkan festival kuliner atau budaya, warga di kota ini sudah menyiapkan sandal jepit cadangan dan karung pasir, bahkan sebelum memasuki musim hujan.

Kalender banjir di sini lebih terprediksi ketimbang jadwal kereta api. Tanpa perlu pengumuman resmi, warga tahu kapan harus menggulung celana sampai lutut atau memesan ojek perahu.

Menurut data banjir di Semarang terjadi hampir setiap tahun, terutama di wilayah pesisir seperti Tambak Lorok, Tanjung Emas, dan Genuk, dengan rob sebagai penutup dramatis.

Pada 2023, banjir rob melanda beberapa kecamatan, merendam ribuan rumah dengan ketinggian air hingga satu meter. Tapi, jangan tanya BMKG soal kapan banjir datang, warga lokal dengan insting cuaca ala dukun sudah lebih jago membaca langit mendung.

Pokokke setiap hujan deras ya banjir. Wong drainasene rak fungsi,” kata Indra “Gendut” warga yang ditemui di kawasan Stasiun Tawang, Kamis (23/10/2025).

Bicara soal insting, warga Semarang punya kepekaan luar biasa terhadap tanda-tanda banjir. Bila langit mulai kelabu dan angin berbau basah, ibu-ibu di pasar sudah otomatis menyingkirkan dagangan ke tempat lebih tinggi.

Anak-anak sekolah tahu kapan harus bolos karena “jalan ke sekolah jadi sungai”. Bahkan, para penutur legenda urban di warung kopi bisa memprediksi banjir hanya dengan melihat genangan kecil di trotoar.

“Kalau di depan Alfamart sudah tergenang, besok pasti rob,” kata Pak Pur, sespuh warga di Semarang bagian pesisir, dengan keyakinan seolah dia lulusan meteorologi Harvard.

Sayangnya, kepekaan warga ini tak diimbangi oleh pejabatnya, yang memiliki tugas mengatur sistem drainase kota. Entah kenapa, mereka selalu tampak kaget setiap hujan turun.

Jalan-jalan utama Semarang punya bakat alami berubah menjadi kolam renang publik. Jalan Pahlawan, Kaligawe, hingga Pantura sering kali jadi ajang latihan renang dadakan.

Mobil-mobil terjebak, motor mogok, dan pejalan kaki berlomba menghindari cipratan air dari BRT yang nekat melaju. Di media sosial, foto-foto banjir ini jadi konten wajib, lengkap dengan caption penuh humor getir: “Semarang, kota seribu kanal, sayangnya semuanya mampet.”

Menurut laporan Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang pada 2022, banyak saluran drainase di kota ini tersumbat oleh sedimentasi dan sampah, ditambah kapasitas yang tak mampu menahan volume air saat rob atau hujan lebat.

Tapi, hei, setidaknya warga punya alasan untuk tidak ke kantor: “Maaf, Pak, mobil saya sedang belajar selam.”

Jiwa Puitis

Lalu, ada “rob yang romantis”, istilah yang cuma bisa lahir dari jiwa-jiwa puitis Semarang. Rob, banjir air laut yang masuk ke daratan, memang punya daya tarik tersendiri.

Pagi hari, warga pesisir bisa menikmati matahari terbit sambil berdiri di air setinggi mata kaki. Malam hari, lampu jalanan memantul di genangan, menciptakan pemandangan yang, kalau tidak ingat soal kerusakan rumah, bisa dibilang Instagramable dan estetik.

Namun, romantisme ini punya harga mahal. Reklamasi di kawasan pesisir, serta berubahnya fungsi lahan di area hulu, sering dikaitkan dengan memburuknya banjir rob. Studi dari Universitas Diponegoro (2021) menunjukkan bahwa reklamasi mengurangi area resapan air dan mengubah aliran air laut, membuat rob makin sering dan parah.

Tapi, tentu saja, proyek-proyek megah ini terus berjalan, seolah laut cuma tetangga yang bisa dibujuk dengan tembok beton.

Di tengah semua ini, pemerintah kota tak pernah kehabisan janji manis. Normalisasi sungai, pembangunan pompa air, hingga tanggul raksasa selalu jadi headline berita.

Sayangnya, proyek-proyek ini sering terlambat, molor, atau sekadar jadi bahan obrolan di rapat. Warga, yang sudah terlatih oleh pengalaman, tak lagi terlalu berharap. Mereka lebih sibuk mencari cara kreatif bertahan: ada yang membuka jasa antar makanan pakai perahu karet, ada pula yang menjual “paket wisata banjir” untuk turis yang penasaran.

Bahkan, anak-anak di kampung pesisir punya permainan baru: lomba perahu kardus di genangan rob.

Keajaiban Semarang terletak pada warganya yang tetap bisa tertawa di tengah banjir.

Tapi, tawa ini tak bisa menutupi fakta bahwa kota ini butuh lebih dari sekadar insting cuaca dan humor.

Drainase yang lebih baik, perencanaan tata kota yang memperhitungkan iklim, dan pengendalian reklamasi yang serius adalah kebutuhan mendesak.

Banjir mungkin sudah jadi “festival” tahunan, tapi bukan berarti Semarang harus selamanya jadi kota yang siap banjir, bahkan sebelum musim hujan tiba.

Mungkin suatu hari, warga bisa menikmati hujan tanpa harus berenang pulang ke rumah, atau setidaknya, punya kolam renang publik yang direncanakan, bukan kejutan dari alam dan buruknya tata kota.

Jadi, sambil menunggu banjir berikutnya, mari kita angkat gelas kopi dari warung Pak Sukir di Kaligawe. Tentu saja, sambil mengapung di perahu karet.

Karena di Semarang, hidup adalah seni menari di atas genangan dan lubang jalan, dengan senyum getir dan harapan yang tetap mengambang.(Tulisan ini disempurnakan AI-HS)

Kamboja dan Pemprov Jateng Jajaki Kolaborasi Sektor Pendidikan Hingga Pertanian

Banjir di Pantura Semarang Picu Kemacetan, Arus Lalu Lintas Terhenti