in

Puncak Musim Kemarau, Tanaman Hias Median Jalan di Kota Semarang Banyak yang Mati

HALO SEMARANG – Dampak puncak musim kemarau yang terjadi pada Agustus ini, membuat tanaman hias yang ditanam di median jalan di Kota Semarang menjadi kering, meranggas, dan akhirnya mati. Seperti tanaman hias jenis bougenville atau bunga kertas di median Jalan Raya Mangkang, tepatnya di depan SPBU Terminal Mangkang. Tanaman hias di median jalan hampir seluruhnya meranggas dan nampak gosong berwarna hitam. Biasanya tanaman bougenville nampak indah dengan aneka warna bunga yang mekar ada merah, putih dan merah jambu, ungu. Namun kali ini tak terlihat.

Salah satu warga Mangkang, Budi mengatakan, tanaman jenis bougenville di median jalan ini sudah terlihat mengering sejak beberapa pekan ini. Hal itu karena akhir-akhir ini kondisi cuaca Kota Semarang yang panas ekstrem di tengah musim kemarau. Jadi tanaman yang tidak kuat panas akan cepat kering dan mati.

“Padahal sebenarnya jenis tanaman bougenville kuat dengan cuaca ekstrem dan hidup meski pada musim kemarau sekalipun. Atau karena imbas tidak ada hujan atau jarang disiram oleh petugas kami juga kurang tahu,” ujarnya, saat ditemui, Selasa (22/8/2023).

Keringnya tanaman di median jalan, membuat pemandangan di beberapa ruas jalan raya Kota Semarang seperti gersang dan tandus. “Tidak ada yang mengurangi polusi udara di jalan raya, yang dilalui kendaraan angkutan berat yang padat. Sebaiknya tanaman tersebut dirawat agar tumbuh dengan baik dan subur jadi menambah pemandangan wajah kota,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi dari Disperkim Kota Semarang, yang membidangi masalah pertamanan di Kota Atlas.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Sutikno mengatakan, puncak musim kemarau di Kota Semarang diperkirakan akan terjadi pada Agustus-September. Dan di daerah-daerah lainnya di wilayah Jawa Tengah, puncak musim kemarau secara umum akan terjadi pada bulan yang sama yakni Agustus-September. “Seperti di Wonosobo, Temanggung dan Magelang dan daerah sekitarnya,” terangnya, baru-baru ini.

Sementara, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengingatkan akan adanya ancaman gagal panen pada lahan pertanian tadah hujan imbas fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang mengakibatkan kekeringan. Situasi ini menurutnya berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.

“Pemerintah daerah perlu melakukan aksi mitigasi dan aksi kesiapsiagaan segera. Lahan pertanian berisiko mengalami puso alias gagal panen akibat kekurangan pasokan air saat fase pertumbuhan tanaman,” ungkap Dwikorita.

“Di sektor perikanan, perubahan suhu laut dan pola arus selama El Nino dan IOD positif yang mendingin, biasanya justru berpotensi meningkatkan tangkapan ikan. Peluang dari kondisi ini harus dimanfaatkan karena dapat mendukung ketahanan pangan nasional,” tambah dia.

Dwikorita menyebut, fenomena El Nino dan IOD Positif saling menguatkan sehingga membuat musim kemarau tahun ini dapat menjadi lebih kering dan curah hujan pada kategori rendah hingga sangat rendah. Jika biasanya curah hujan berkisar 20 mm per hari, kata dia, maka pada musim kemarau ini angka tersebut menjadi sebulan sekali atau bahkan tidak ada hujan sama sekali.

Puncak kemarau kering ini, tambah Dwikorita, diprediksi akan terjadi di bulan Agustus hingga awal bulan September dengan kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan tahun 2020, 2021, dan 2022.(HS)

Raih Top Agent of The Year, Generali Indonesia Komitmen Cetak Agen Berkualitas

Delapan Wilayah Kecamatan di Kota Semarang Mulai Terdampak Kekeringan