in

Produsen Mebel di Luar Negeri Gunakan Mesin Ukir, Perajin di Jepara tak Takut Kehilangan Pasar

 

HALO JEPARA – Keberadaan mesin computer numerical control (CNC) yang mampu menghasilkan produk ukiran kayu, tidak membuat pengukir dan pelaku usaha bidang ini khawatir akan kehilangan pasar dari luar negeri.

Hal tersebut mengemuka dalam dialog khusus, yang membahas regenerasi seni ukir Jepara, Kamis (30/12).

Dialog ini diproduksi oleh TVRI Jawa Tengah, di kompleks kantor Bupati Jepara, dengan menghadirkan tiga narasumber. Masing-masing adalah adalah Bupati Jepara Dian Kristiandi, pengukir senior sekaligus pelaku usaha mebel Sutrisno, dan pengukir dari kalangan milenial Rendra Styawan.

Pengukir senior Sutrisno mengatakan, keberadaan mesin CNC tidak akan mampu menggantikan produk ukir dengan karakter seperti yang dihasilkan pengukir Jepara.

“Gen kami di Jepara adalah gen pengukir. Jadi ukiran Jepara tak akan hilang.

Karakter ukiran kami berbeda. Tidak bisa ditemukan di mana pun,” kata Sutrisno, seperti dirilis Jepara.go.id.

Dengan kondisi ini dia meyakini ukiran Jepara akan tetap lestari dan menjadi heritage Jepara, bahkan nasional.

Mesin CNC pun tak akan bisa menghasilkan produk ukir sebagaimana yang dihasilkan tangan-tangan terampil pengukir Jepara.

Bupati Dian Kristiandi menyebut, di Jepara, seni ukir adalah budaya yang diwariskan turun-temurun. Pada masa keemasan Ratu Kalinyamat abad XVI, patih kerajaan bergelar Sungging Badar Duwung mengajarkan seni ini secara luas kepada rakyat Jepara. Pola pewarisannya menjadikan pasar internasional mengenal kualitas ukir Jepara sebagai yang terbaik.

Menurut Dian Kristiandi, berdasarkan data tahun 2020, unit usaha besar yang dimiliki Jepara di sektor ini dikelola 387 eksportir. Sedangkan skala kecil hingga menengah mencapai 3.438 unit usaha. Sektor ini mendominasi kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) rata-rata berkisar 34,5 persen. Mebel ukir juga mendominasi penyerapan tenaga kerja, nilai investasi, nilai produksi, dan nilai ekspor Jepara.

Keyakinan ini diperkuat pengukir milenial Hendra Styawan. Menurutnya, meski dalam jumlah yang terbatas masih terdapat pengukir milenial yang begitu mencintai Jepara dan budaya. Komunitas ini menggariskan, generasi muda Jepara adalah trah pengukir yang harus menguri-uri budaya adiluhung tersebut.

Terkait upaya pewarisan kepada generasi milenial dan sesudahnya, Bupati Jepara Dian Kristiandi mengatakan, selain lomba mengukir yang digelar rutin, ada sejumlah upaya lain juga dilakukan untuk mewariskan ukir. Di antaranya melalui lembaga pendidikan formal dan melibatkan organisasi kemasyarakat. Demikian juga dengan berbagai fasilitasi kepada asosiasi-asosiasi dan pelaku industri.

“Tahun 2022 kami akan melakukan pendataan pengukir untuk mengetahui jumlah pengukir yang ada di masing-masing strata lalu akan menentukan kebijakan yang sesuai untuk pelestariannya,” tambah Andi.

Strata pengukir berdasar kemampuan di Jepara, dimulai dari pemula, terampil, mahir, dan ahli.

Pengukir senior Sutrisno mengatakan, perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap minat generasi muda. Jika pada masa lalu 9 dari 10 anak di desa-desa penghasil ukir mau belajar mengukir, maka anak-anak sekarang yang berminat belajar ukir tinggal 3 persen. Dia berharap orang tua di daerahnya mau mengenalkan ukir kepada anak-anaknya pada kisaran usia 9 atau 10 tahun.

“Siapkan mental mereka untuk mengenal ukir. Di Jepara ada komunitas-komunitas yang bisa mengenalkan. Kami juga terlibat dalam lomba mengukir yang rutin digelar Pemkab Jepara setiap tahun. Bahkan pernar mencatatkan rekor MURI mengukir terbanyak oleh para pengukir perempuan,” kata Sutrisno.

Jika anak-anak sudah mengenal ukir, maka kegiatan reguler ini bisa memancing keinginan untuk mengembangkan kemampuan seiring pengalaman estetis yang meningkat.

Dia berpesan agar pemerintah daerah mengembangkan ukir sebagai produk seni dan industri secara beriringan.“Kalau seni saja, pengukirnya akan sedikit. Kalau industri saja, kreativitas akan teerpasung sehingga tidak melahirkan produk ukir baru,” katanya. (HS-08)

Laksanakan Pengawasan Terpadu Obat dan Makanan, Pemkab Blora Gandeng BPOM Semarang

Milad 11 Tahun, SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta Perkuat Smart School