HALO SRAGEN – Pemerintah Kabupaten Sragen tidak akan merasa eman-eman, menghibahkan tanah produktif, untuk pembangunan gedung Politeknik Pariwisata Sragen, yang nantinya menjadi terbesar di Indonesia.
Dukungan terhadap pembangunan Politeknik Pariwisata Sragen itu, disampaikan Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, setelah acara Sosialisasi LSD di Gedung Kartini Sragen, Jumat (3/2/2023).
Menurut Bupati, kesediaan Pemkab untuk menghibahkan tanah kelas 1 di Gemolong tersebut, juga menjadi alasan bagi Pemerintah Pusat, untuk memberikan anggaran yang cukup besar, demi terwujudnya Politeknik Pariwisata Sragen tersebut.
“Kami Pemkab tidak eman – eman menghibahkan tanah produktif kalau untuk pembangunan ekonomi di Sragen. Mulai 2023 ini sudah dialokasikan anggaran Rp 150 miliar, untuk pembangunan gedung awal,” kata Bupati, seperti dirilis sragenkab.go.id.
Selain gedung kampus, juga akan ada pembangunan hotel dan dapur, untuk praktik para mahasiswanya.
Sementara terkait penerimaan mahasiswa angkatan pertama, Bupati mengatakan untuk sementara, seluruh proses perkuliahan akan dilaksanakan di Technopark Ganesha Sukowati Sragen.
Sebelum gedung selesai dibangun, Politeknik Pariwisata Sragen seluruhnya akan diampu Politeknik Pariwisata Bali, mulai dari tenaga pengajar dan pengelolaanya akan langsung dikelola Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
“Angkatan pertama dibuka pendaftaran untuk 30 mahasiswa dulu. Insya Allah Juni tahun ajaran 2023/2024, sudah menerima pendaftaran mahasiswa. Sampai selesai dibangun Politeknik Pariwisata Sragen, sementara kami gunakan ruangan di Technopark dulu,” kata dia.
Menurutnya pembangunan politeknik pariwisata tersebut, juga merupakan salah misi Kabupaten Sragen.
Untuk itu, dia berharap Politeknik Pariwisata Sragen yang menjadi satu-satunya di Jawa Tengah ini, dapat memberikan dampak ekonomi yang sangat positif untuk masyarakat Sragen, di utara Bengawan Solo.
Sekda Sragen, Hargiyanto mengatakan pembangunan Politeknik Pariwisata Sragen di Kelurahan Kwangen, Kecamatan Gemolong, dipastikan mulai dilaksanakan tahun ini.
Kampus seluas 20,3 hektare itu, nantinya menjadi politeknik pariwisata terbesar di Indonesia, dan didesain oleh Kemenparekraf, dengan alokasi dana mencapai Rp 2,7 triliun.
Adapun penandatanganan nota kesepahaman tentang pengelolaan sementara perguruan tinggi itu, telah ditandatangani Pemkab Sragen dan Direktur Politeknik Pariwisata Bali, pada 24 Januari lalu.
“Kemarin saya sudah tanda tangan MoU dengan Direktur Politeknik Pariwisata Bali. Sementara untuk pengelolaan Politeknik Pariwisata Sragen di bawah Politeknik Pariwisata Bali dulu. Karena untuk tahap awal pengelolaan Poltekpar Sragen dikelola oleh Politeknik Pariwisata Bali, maka pembukaan pendaftaran mahasiswa baru akan dikelola mereka,” ungkap Sekda.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Sragen, Aris Wahyudi, mengungkapkan pembuatan site plan itu menjadi wewenang pengelola kampus.
Aris mengatakan Disperkimtaru hanya pengesahan pembangunan gedung, fasilitas umum, dan fasilitas sosial.
“Sebenarnya dari dokumen rencana detail tata ruang (RDTR) dan rencana tata ruang wilayah (RTRW) sudah bisa dipakai sebagai acuan,” kata dia. (HS-08)