HALO JEPARA – Menyembunyikan anak berkebutuhan khusus, terutama tunanetra, justru akan merugikan anak-anak itu, karena perkembangan mereka menjadi terhambat.
Hal itu diungkapkan Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Jepara, Marzuki dalam dialog di Radio Kartini FM Jepara.
“Bagi yang mempunyai anak tunanetra jangan disembunyikan, tapi harus didorong dan diberikan semangat agar bisa bergaul dengan lingkungan sekitar,” kata dia, seperti dirilis Jepara.go.id.
Diakui, masih banyak para orang tua merasa malu apabila ada anak atau anggota keluarga mereka berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.
Hal itulah yang membuat mereka kemudian berusaha menutup diri, dan menjaga agar anaknya tidak berinteraksi dengan orang lain. Padahal ini sangat merugikan kehidupan anaknya ke depan.
“Memiliki anak berkebutuhan khusus tentu bukan sebagai pilihan. Ini merupakan sesuatu yang sudah digariskan oleh Allah SWT dan harus kita terima,” kata Marzuqi.
Melalui dialog interaktif dengan tema, “Kecacatan Bukan Halangan untuk Berkarya” ini, Marzuki mengajak masyarakat yang memiliki keterbatasan, khususnya tunanetra, untuk lebih terbuka dan lebih mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka. Dengan begitu mereka mampu mandiri, dan memberikan kehidupan untuk keluarganya.
“Masih banyak yang mereka yang tertutup, bahkan disembunyikan keluarganya dari lingkungan. Ini malah kasian si anak,” kata dia.
Saat ini, ada 63 anggota tunanetra yang tergabung dalam Pertuni Jepara. Saat ini, mereka ingin mencari warga yang berkebutuhan khusus yaitu tunanetra untuk ikut bergabung dalam organisasi Pertuni. Lewat organisasi ini, mereka bisa saling support dan membantu satu sama lain.
“Kami masih bergerak ke desa-desa, untuk mengajak mereka yang sama seperti kita untuk bergerak bersama-sama untuk maju,” kata dia.
Sekretaris Pertuni Hariyanto menyambut baik, adanya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2019 tentang Penyandang Disabilitas di Kabupaten Jepara. Jika benar-benar diaplikasikan di lapangan, tentu akan memberikan angin segar bagi mereka yang berkebutuhan khusus.
“Kami menyambut baik Perda disabilitas. Semoga ini bisa dilaksanakan di lapangan,” katanya.
Diakui selama ini masih ada stigma negatif yang diberikan masyarakat bagi penyandang tunanetra. Untuk itulah perlu adanya edukasi kepada masyarakat, bahwa tunanetra ini tidak hanya dikenal untuk meminta-minta tetapi juga bisa hidup mandiri.
“Kami juga telah mengikuti edukasi dan pelatihan, seperti pijat. Ini bisa membantu untuk mendapatkan penghasilan,” Kata dia.
Dariono menambahkan, perhatian pemerintah kepada penyandang tunanetra sudah cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari dukungan pemerintah, melalui pelatihan-pelatihan, dan dukungan berbagai kegiatan yang digelar Pertuni Jepara. (HS-08)