in

Pertamina EP Implementasikan CO2 Removal Package dengan Amine System Pertama di Dunia

Direksi PHE dan Manajemen Pertamina EP meninjau pembangunan Fasilitas Produksi Stasiun Pengumpul Akasia Bagus Stage 1 pada awal Desember 2024. (Foto : Dok PHE / Kementerian BUMN)

 

HALO SEMARANG – Pertamina EP Zona 7, terus berupaya meningkatkan potensi produksi hidrokarbon di Indramayu, melalui proyek Optimasi Pengembangan Lapangan-Lapangan (OPLL) Akasia Bagus – Gantar.

Proyek ini melibatkan dua strategi utama, yakni pengeboran 22 sumur pengembangan serta pembangunan Fasilitas Produksi SP Akasia Bagus (ABG) Stage 1 dan Stage 2.

Langkah ini menjadi lanjutan dari Plan of Development (POD) Lapangan Akasia Bagus, yang telah dirancang sejak 2017.

Melalui upaya tersebut, Pertamina menargetkan peningkatan produksi sebesar 12,71 juta barel minyak (MMSTB) dan 10,53 miliar kaki kubik gas (BSCF).

General Manager Pertamina EP area Jawa bagian barat, Afwan Daroni mengatakan bahwa proyek ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan Lapangan Akasia Bagus.

“Proyek ini didesain untuk mengolah minyak dan gas dengan kapasitas total sebesar 9.000 BLPD dan 22 MMSCFD, termasuk untuk mengolah associated gas dari 19 sumur lapangan,” kata dia, seperti dirilis laman resmi Kementerian BUMN RI.

Terdapat 12 sumur pengeboran telah diselesaikan dan total terdapat 26 sumur produksi di Lapangan Akasia Bagus.

Saat ini, produksi eksisting diolah dan ditampung menggunakan Early Production Facilities (EPF) ABG Tahap 1, sesuai persetujuan SKK Migas, hingga berlanjut ke fase onstream.

Proyek ABG Stage 1 ini akan melewati dua kali fasilitas produksi onstream, yaitu fasilitas cair yang direncanakan pada Februari 2025, lalu menyusul fasilitas AGRU (Acid Gas Removal Unit) pada Mei 2025.

Afwan juga menjelaskan, upgrading fasilitas produksi akan dilengkapi dengan CO2 Removal Package dengan amine system (MDEA), Gas Dehydration Unit dan Thermal Oxidation (TOX).

Tujuannya adalah untuk mengurangi kadar CO2, H2S dan air, agar sesuai spesifikasi penjualan gas yang termaktub dalam Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) eksisting di wilayah Jawa Barat.

“Teknologi baru yang diimplementasikan dalam mendesain AGRU dengan amine system ini merupakan yang pertama di dunia, yang akan mengolah gas dengan kadar CO2 sebesar 65% mole,” jelas Afwan.

Di sisi lain, tingginya kadar CO2 membuka peluang bagi Pertamina EP untuk mengembangkan lapisan gas dari oil rim (zona minyak tipis di bawah gas) melalui metode Carbon Capture, Utilization & Storage (CCUS).

Inisiatif ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mendukung pencapaian target emisi nol bersih (net zero emission).(HS-08)

Kemenkes RI Tegaskan Penggunaan AI Dalam Dunia Kesehatan Harus Prioritaskan Keselamatan Pasien

Satlantas Polresta Surakarta Sosialisasikan Operasi Lilin Candi dengan Bagikan Es Cendol Dawet