HALO SEMARANG – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, dalam hampir 10 tahun terakhir, melakukan inovasi dan terobosan untuk memberikan pelayanan pada umat Buddha, baik pelaksanaan kegiatan keagamaan, pendidikan maupun layanan teknis lainnya.
“Dalam kurun waktu Pemerintahan Bapak Presiden Joko Widodo dan atas arahan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Ditjen Bimas Buddha selalu mengedepankan pelayanan kepada umat Buddha mulai dari penyediaan layanan rumah ibadah sehat, layanan distabilitas, pemahaman moderasi beragama, dan pemenuhan kitab suci bagi umat yang berkebutuhan khusus,” kata Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi, di Jakarta, baru-baru ini seperti dirilis kemenag.go.id.
Dalam meningkatkan keyakinan melalui pembacaan kitab suci, Ditjen Bimas Buddha telah menyediakan beberapa kitab Suci Dhammapada berhuruf Braille, untuk umat berkebutuhan khusus.
Manfaat kitab Suci Dhammapada dengan huruf Braille ini, juga sudah dirasakan manfaatnya oleh umat Buddha.
Dirjen menambahkan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas telah diselenggarakan Dhammasekha sebagai Pendidikan Formal Keagamaan Buddha.
“Ditjen Bimas Buddha juga telah berhasil mendirikan puluhan Dhammasekha,” kata dia.
Sampai 2024 ini sudah ada 49 Dhammasekha yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan 741 siswa Nava Dhammasekha, 75 siswa Mula Dhammasekha, dan 32 siswa Uttama Dhammasekha.
Hingga saat ini yang sudah dalam proses terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (BAN-PDM) sejumlah 20 Dhammasekha.
“Untuk Mula Dhammasekha masih dalam proses,” jelas Supriyadi.
Guna menunjang peningkatan pembelajaran pendidikan keagamaan secara nasional dan mandiri, Ditjen Bimas Buddha juga menyediakan Learning Management System (LMS).
Sistem ini dapat membantu siswa dan Guru Pendidikan Agama Buddha, dalam melakukan pengembangan pendidikan dasar dan menengah.
Untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing, serta mendukung transformasi kelembagaan, tahun ini telah terbit Keputusan Menteri Agama Nomor 452 tentang Izin Perubahan Bentuk Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda Menjadi Institut Nalanda.
Terbitnya KMA ini menjadi awal bangkitnya Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) di Indonesia, untuk terus memacu diri begerak dan berkembang seiring tuntutan zaman.
Dalam upaya peningkatan penjaminan mutu PTKB melalui akreditasi, baik akreditasi BAN-PT, LAMDIK dan LAMPTKES, telah tercatat sebanyak 37 prodi pada 12 PTKB, dengan rincian peringkat akreditasi A ada 3 prodi, peringkat akreditasi unggul ada 2 prodi dan selebihnya peringkat akreditasi Baik Sekali dan Baik.
Selain itu, dalam rangka transformasi kelembagaan menuju perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri menjadi Institut terus bergulir dengan diterbitkannya PMA Nomor 13 Tahun 2024 tentang Perubahan PMA 81 Tahun 2022 tentang Pendirian, Perubahan dan Pembubaran Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri telah menjadi dorongan energi yang positif bagi PTKB, meskipun masih terdapat sedikit kendala untuk menuju Institut.
Mengalirnya salah satu dukungan dari pihak-pihak yang memiliki komitmen untuk memajukan dunia Pendidikan di daerah, juga sangat dirasakan oleh STABN Raden Wijaya Wonogiri Jawa Tengah, yang mendapatkan hibah tanah dari Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri seluas 83,776 M2 pada Tahun 2024 ini dan telah dilakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan gedung layanan pendidikan yang dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 2024 lalu dan berlanjut pada tahun 2025.
Pembangunan Gedung juga akan di lakukan pada STABN Sriwijaya Tangerang Banten ditargetkan awal tahun 2025 sudah di mulai peletakan batu pertama.
Beberapa inovasi dan terobosan yang dilakukan Ditjen Bimas Buddha dalam upaya melakukan pelayanan kepada umat untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. (HS-08)