HALO BLORA – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora kini menaruh harapan pada Ketua Umum Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi), Siswanto, untuk membantu menagih komitmen Dirut Perum Bulog agar membeli tebu petani sesuai ketentuan harga pemerintah (franko pabrik), serta melakukan renovasi dan reformasi total manajemen internal PT GMM.
Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora, H Sunoto, dalam rapat koordinasi bersama Ketua Umum Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi), baru-baru ini, di Cafe Kuma, Jalan Bhayangkara, Karangjati, Blora.
Sunoto mengungkapkan bahwa berbagai ikhtiar telah dilakukan untuk memperjuangkan nasib petani tebu di Blora, namun belum membuahkan hasil.
Ia kini menaruh harapan besar pada Siswanto, yang disebut Sunoto sebagai sosok tokoh muda berkaliber nasional asal Blora, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Blora.
“Kami bersyukur di Bumi Blora ada sosok seperti Pak Siswanto. Di tengah kesibukannya, beliau masih berkenan hadir dan peduli pada persoalan yang menghimpit petani tebu,” ujar Sunoto.
Lebih lanjut Sunoto mengatakan saat ini, luas areal tebu di Blora mencapai sekitar 8.000 hektare dan telah memasuki musim giling 2026.
Namun petani diliputi keresahan, karena Pabrik Gula PT GMM Bulog, berhenti beroperasi sejak September 2025 akibat kerusakan berat pada dua unit boiler.
Trauma mendalam masih membekas pada lebih dari 30.000 petani tebu, yang menanggung kerugian lebih dari Rp500 miliar pada musim giling 2025, akibat salah kelola manajemen PT GMM Bulog.
Sekretaris APTRI, Anton Sudibdyo, menambahkan bahwa tidak beroperasinya pabrik mengakibatkan harga tebu musim ini merosot.
Kondisi ini mulai dimanfaatkan oleh pemilik modal melalui praktik jual beli tebu sistem pok-pokan.
Sementara itu, Agus Joko Susilo memperingatkan jika masalah fundamental ini tidak segera diatasi, petani tebu Blora terancam mengalami penderitaan berkepanjangan.
Langkah ke Istana
Menanggapi hal tersebut, Siswanto memberikan apresiasi atas kegigihan pengurus APTRI.
Ia mengaku turut merasakan penderitaan tersebut karena tebu miliknya sendiri pada musim giling 2025 tidak tertebang hingga musim berakhir.
Sebagai solusi, Siswanto menawarkan langkah strategis. Mengacu pada keberhasilannya membantu perizinan penambang minyak di Blora, dia berencana membawa aspirasi ini langsung ke Pemerintah Pusat.
APTRI dijadwalkan melakukan audiensi dengan Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman.
Penasehat APTRI, Bambang Sulistya, menyarankan agar momentum ini dipersiapkan dengan data akurat dan dipertanggungjawabkan. Ia berharap langkah ini menjadi solusi terbaik bagi kesejahteraan petani tebu di Bumi Blora Mustika. (HS-08)


