HALO SEMARANG – Penasihat grand syaikh Al-Azhar, Mesir, Nahla Sabry El Seidy, menyebut diskriminasi pada perempuan dengan mengatasnamakan agama, justru terjadi akibat kebodohan. Menurut dia, ajaran Islam justru menegaskan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sederajat.
Hal itu diungkapkan Penasihat grand syaikh Al-Azhar, Mesir, Nahla Sabry El Seidy, ketika menjadi pembicara dalam Kuliah Umum Internasional bertajuk Kepemimpinan Perempuan dalam Islam, di Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Dalam acara di Aula Program Pascasarjana, Kampus II, UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, Nahla Sabry El Seidy didampingi penerjemah Engkos Kosasih.
Adapun sebagai moderator, adalah Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Siti Sanah.
Lebih lanjut Nahla Sabry El Seidy mengatakan, dalam ajaran Islam, kedudukan perempuan dan laki-laki sama kecuali derajat ketaqwaan.
Nahla menegaskan bahwa dalam Al-Qur’an dan hadis, kedudukan perempuan mendapat apresiasi dalam bentuk almusawah (persamaan derajat), dalam berbagai level eksistensi, kontribusi, dan partisipasi baik dalam level privat maupun publik.
“Bagaimana perempuan terlibat dalam proses kecerdasan umat, yang mana semua terjadi pada masa nabi SAW, bahkan perempuan pun diperbolehkan dalam medan pertempuran, dan di luar itu perempuan berperan dalam aspek sosial, politik, ekonomi dsb,” tegasnya.
Menurutnya, peran perempuan itu sangat vital, sangat strategis untuk mengembangkan kehidupan Islam dalam multi dimensinya.
Syariat Islam menjelaskan berkali-kali bagaimana peran perempuan dalam membangun masyarakat, bahwa perempuan sebagai mitra laki-laki, sebagaimana sabda Rasul Saw, bahwa wanita adalah mitra dari para kaum lelaki.
“Karena syariat Islam sebenarnya tidak mengenal istilah diskriminasi terhadap wanita, marginilisasi terhadap perempuan, sehingga perempuan dalam syariat Islam adalah unsur pokok akan terjadinya kebangkitan umat,” tegas dia, seperti dirilis laman resmi Kementerian Agama RI, kemenag.go.id.
Menurut dia, terdapat dua penyebab terjadinya marginalisasi perempuan dan kemunduran dalam penghargaan pada kesetaraan gender.
Pertama karena tidak berkomitmen mengikuti prinsip-prinsip agama yang sebenarnya mengagungkan peran perempuan dan Kedua terjerumus pada tradisi kurang baik, yang mendiskriminasikan perempuan.
“Al-Azhar mempunyai peran dalam merekontruksi pemahaman-pemahaman yang bersifat miskonsepsional, terkait bagaimana peran perempuan, Al-Azhar melihat bahwa diskriminasi perempuan atas nama agama adalah dilandasi dengan kebodohan,” tegas dia.
Nahla juga memberikan rekomendasi dari kegiatan ini kepada para pimpinan kampus, untuk melibatkan lebih banyak partisipasi perempuan dalam pembuatan kebijakan kampus dan memberikan peningkatan kapasitas perempuan dalam penggunaan teknologi.
Sementara itu terkait seminar tersebut, Rektor UIN Bandung, Rosihon Anwar saat membuka acara, mengucapkan selamat datang kepada Nahla Sabry El Seidy.
Hadir juga, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Ahmad Zainul Hamdi; Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, Republik Arab Mesir, Abdul Muta’ali; serta pengurus PSGA UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
“Saya ingin menyebutkan Abdul Muta’ali secara khusus, karena atase kebudayaan ini adalah lulusan UIN Bandung, Fakultas Syariah dan Hukum. Kami sangat berbangga, salah satu alumnus kita jadi atase kebudayaan. Mudah-mudahan nanti jadi Duta Besar sekalian. Harapanya,” jelas Rektor.
Menurut dia, seminar ini sangat penting untuk memperkuat peran UIN Bandung sebagai pusat penyebaran Islam menuju kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
“Peran dan kepemimpinan perempuan dalam segala aspek kehidupan. PSGA sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mempersipkan kajian ilmiah bersama Prof Nahla Sabry El Seidy, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semuanya,” ucap Rosihon. (HS-08)