HALO KENDAL – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Tiongkok yang akan melakukan agenda keliling Nusantara selama bulan Ramadan, memilih Pondok Pesantren Darul Amanah Sukorejo, Kabupaten Kendal sebagai kick-off dimulainya Roadshow dan Seminar tentang Santri Indonesia di Tiongkok, beberapa waktu lalu di GOR Darussalam PP Darul Amanah Kendal.
Dalam kegiatan roadshow PCI NU Tiongkok menyampaikan informasi tentang studi, beasiswa dan peluang lainnya di Tiongkok untuk para santri atau masyarakat Indonesia.
Kemudian juga diberikan gambaran tentang kehidupan, pengalaman santri dan Islam di Tiongkok, memberikan perspektif tentang Tiongkok secara budaya, ekonomi dan sosial. Selain itu berpartisipasi dalam mendukung dan penguatan hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok di level masyarakat.
Terdapat enam lokasi yang akan menjadi tempat seminar dari PCI NU Tiongkok yang telah diagendakan.
Setelah agenda di PP Darul Amanah Sukorejo Kendal, agenda selanjutnya dillaksanakan di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pontianak Kalimantan Barat, Sabtu (16/3), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan UIN Ar Raniry Banda Aceh, Selasa (19/3), UNU Mataram NTB, Sabtu (23/3) dan yang terakhir di kota Indramayu Cirebon Jawa Barat, Sabtu (30/3).
Dalam kesempatan ini Rois Syuriah PCI NU Tiongkok, Kiai Ahmad Syaifuddin Zuhri yang menjadi pemateri menyampaikan, kegiatan pesantren di Tiongkok lebih menggunakan metode Dakwah Bil Hal.
“Di negeri Tiongkok, kita kegiatan dakwah lebih mengutamakan kemampuan kreativitas perilaku da’i secara luas atau yang dikenal dengan action, approach atau perbuatan nyata dengan perilaku sehari-hari,” terangnya.
Lebih lanjut Kiai Zuhri menjelaskan, untuk menjadi imam masjid di Tiongkok tidak sembarangan orang. Selain mereka itu benar-benar orang pondok, mereka harus diverifikasi oleh instansi setempat, dan digaji oleh negara Tiongkok.
“Tidak bisa dibayangkan bahwa negara yang notabene komunis menggaji seorang muslim yang jadi imam masjid,” jelasnya.
Lebih jauh Kiai Zuhri memaparkan, dakwahnya santri itu saat masuk kerja ke perusahaan di Tiongkok. Harus ada yang mengatakan kepada bosnya pada jam 12 siang butuh istirahat untuk melakukan ibadah sholat dan lainnya. Hal itu dilakukan, karena kebanyakan di sana menganut paham atheis. Sehingga kalau tidak ada yang menyampaikan itu tidak tahu.
“Harapan dari PCI NU Tiongkok adalah, supaya semakin banyak santri yang juga menimba ilmu disana. Yang sedang populer di negara Tiongkok itu maju dalam soal engineering dan IT-nya. Beasiswa disana tidak ada ikatan selanjutnya, artinya begitu kita lulus justru disarankan untuk pulang dan berkontribusi di negaranya sendiri,” paparnya.
Antusiasme peserta dapat dilihat dari jumlahnya yang mencapai 1.000-an didominasi kalangan santri. Terlebih ketika sesi tanya-jawab dengan narasumber dan pameran foto-foto Islam dan kegiatan NU di Tiongkok.
Salah satu santri, Habibah Nabila asal Semarang mengungkapkan, selama ini dia maupun dari teman-temannya belum memahami soal Tiongkok.
“Namun, dengan datangnya narasumber seorang santri yang menimba ilmu di sana menjadikan kita lebih banyak rasa keingintahuannya hingga kelak. Semoga bisa mendapatkan kesempatan beasiswa ke Tiongkok,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah Kendal KH Mas’ud Abdul Qodir mengapresiasi dari peran santri di Tiongkok. Karena dengan adanya santri yang belajar delapan tahun di Tiongkok datang ke pondok ini, mudah-mudahan dapat menginspirasi santri untuk meneruskan studi ke Tiongkok.
“Mungkin kita tahu ada info beasiswa, tapi alur untuk masuk ke sana itu yang perlu diperhatikan dan dicatat. Untuk mendapatkan ilmu itu mahal, nah datangnya informasi beasiswa seperti ini perlu disebarluaskan. Terlebih kita juga ikut berperan serta memperkuat hubungan bilateral dua negara antara Indonesia dengan Tiongkok,” ujar Kiai Mas’ud. (HS-06)