MUSIK Rebana yang biasa kerap kita jumpai ketika acara yang berkaitan dengan daur hidup manusia seperti perkawinan, tradisi cukur rambut bayi, khitanan dan lainnya merupakan bagian dari kesenian Islam yang masih eksis sampai sekarang.
Dahulu, musik rebana menjadi sarana penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, sambil melantunkan shalawat dan hadroh. Rebana sendiri adalah gendang berbentuk bundar dan pipih yang merupakan alat musik khas suku Melayu. Bingkai berbentuk lingkaran terbuat dari kayu yang dibubut dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing.
Konon rebana mulai masuk ke Pulau Jawa pada abad ke-13, dibawa oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi.
Habib Ali memperkenalkan rebana dan kasidah dengan cara mengajarkan sholawat sebagai sarana kecintaan terhadap Rasulullah SAW. Kemudian rebana mulai menyebar ke berbagai daerah seperti Kalimantan dan Jawa.
Dan perkembangan rebana pun seakan mengakar rumput dan diteruskan oleh para alim ulama sebagai sarana syiar agama Islam sampai sekarang.
Untuk menguri-uri kesenian rebana agar makin dikenal luas, terutama oleh generasi muda, juga akan digelar lomba rebana tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Kadar Yanto, yang juga panitia lomba rebana mengatakan, bahwa rebana punya ciri khas nuansa Islami yang kental dan juga sebagai sarana syiar Islam.
“Sehingga kami gelar lomba rebana sekaligus untuk memperingati Haul Mbah Syafi’i Piyoro Negoro,” katanya, Rabu (19/3/2025).
Yanto, sapaan akrabnya, menjelaskan, lomba rebana ini digunakan untuk meramaikan acara tahunan, yakni Haul Mbah Syafi’i Piyoro Negoro, yang merupakan ulama yang menyebarkan agama Islam di Indonesia.
Dari sejarahnya, Mbah Syafi’i merupakan tokoh agama yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa pada tahun 1600-an. Beliau juga pendiri Pondok Pesantren Luhur Dondong Wonosari, yang juga merupakan pondok tertua di Indonesia.
“Konon, Mbah Sholeh Darat yang dikenal sebagai guru dari KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama), serta Raden Ajeng Kartini (Pahlawan Emansipasi Wanita) pun sempat belajar agama dengan Mbah Syafi’i,” paparnya.
Dia menjelaskan, karena digunakan sebagai sarana penyebaran Islam termasuk oleh Mbah Syafi’i, pihak panitia ingin mencoba Nguri-uri musik rebana klasik.
“Rebana sebagai sarana penyebaran Islam, sehingga kita ingin ada regenerasi, untuk umur bebas, dan juga tidak ada batasan gender,” ujarnya.
Pendaftaran peserta akan dibuka sampai 10 April mendatang dan bisa dilakukan secara online melalui link, bit.ly/Formulir PendaftaranRebana25. Sementara lomba akan digelar 18 dan 19 April.
Sementara, Kadar Lusman, salah satu tokoh masyarakat menjelaskan, bahwa sosok Mbah Syafi’i merupakan salah satu tokoh penyebar Islam di Indonesia dan mendirikan salah satu pondok tertua di Jawa Tengah.
Konon jaman dahulu beliau juga ikut berjuang melawan penjajah. Nantinya haul ini, kata dia juga akan dimeriahkan pengajian akbar serta kirab budaya.
“Beliau ini punya jasa yang besar selain mendirikan pondok dan syiar agama, dulu juga ikut melawan penjajah, jadi wajib hukumnya sebagai generasi muda kita ngur-uri budaya leluhur,” ujar Pilus, sapaan akrabnya.
Pria yang menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Semarang ini menjelaskan, Pemkot Semarang telah menjadikan Makam Mbah Syafi’i sebagai destinasi religi di Kota Semarang.
“Dengan adanya event lomba dan beragam kegiatan, tentu harapannya juga bisa menggerakkan perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (HS-06)