SUASANA berbeda terlihat saat Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung menemui petani di Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar. Alih-alih forum resmi, ia memilih cara sederhana: ngobrol santai sambil ngopi di warung atau angkringan.
Momen itu terjadi saat Luthfi meninjau Embung Alastuwo di Desa Wonolepo, Rabu (8/4/2026). Di bawah terik matahari, suasana hangat justru terasa di bawah atap warung sederhana, tempat gubernur, bupati, dan para petani duduk sejajar tanpa sekat.
“Ayo sekarang ngobrolnya sambil ngopi di warung, biar lebih santai,” ajak Luthfi kepada para petani.
Didampingi Bupati Karanganyar, Rober Christanto, Luthfi membaur dengan warga. Duduk di kursi kayu sederhana, ditemani kopi, teh, dan kudapan ringan, obrolan pun mengalir dari candaan hingga persoalan serius sektor pertanian.
“Mpun, sak niki permasalahane jenengan napa? Ini mumpung ada gubernur sama bupati,” ujarnya membuka dialog.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan petani dan perwakilan gabungan kelompok tani (gapoktan) untuk menyampaikan berbagai keluhan. Mulai dari irigasi tersier dan sekunder yang belum optimal saat kemarau, kebutuhan sumur dan pompa air, hingga kekurangan alat pertanian serta gagal panen akibat curah hujan tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Luthfi memastikan pemerintah hadir dengan solusi konkret. Ia menyebut, pada Juni 2026 mendatang, Pemprov Jawa Tengah akan mengucurkan bantuan sekitar Rp4,1 miliar untuk Kabupaten Karanganyar.
Bantuan itu mencakup perbaikan jaringan irigasi, bantuan traktor, mesin pengering padi, hingga benih jagung dan tebu.
“Biar nanti distribusinya diatur oleh bupati,” kata Luthfi, disambut antusias para petani.
Selain itu, ia juga memastikan ketersediaan pupuk dalam kondisi aman. Para petani pun mengakui distribusi pupuk saat ini relatif lancar dan mudah diakses.
Luthfi menegaskan, pada 2026 ini Pemprov Jawa Tengah memang memprioritaskan program swasembada pangan. Karena itu, berbagai kebutuhan penunjang produktivitas pertanian terus digenjot.
“Pompa sudah kami siapkan, tinggal bapak-bapak mencari sumber air. Kalau ada puso atau gagal panen, ajukan asuransi, nanti kami bantu teruskan ke Jasindo,” jelasnya.
Bagi para petani, pendekatan santai ini terasa lebih bermakna. Perwakilan Gapoktan Sumber Rejeki Desa Sroyo, Kecamatan Jaten, Admin, mengaku senang dengan cara dialog yang dilakukan gubernur.
“Bagus, memperhatikan masyarakat kecil, terutama petani. Kalau petani diperhatikan, hasilnya pasti lebih optimal,” ujarnya.
Lewat obrolan sederhana di angkringan, jarak antara pemimpin dan rakyat seolah lenyap. Aspirasi tersampaikan tanpa formalitas, solusi pun langsung dijawab—menunjukkan bahwa pendekatan humanis bisa menjadi kunci dalam membangun kepercayaan dan mempercepat pembangunan.(HS)