MINGGU pagi (12/4/2026) di kawasan barat Kota Semarang terasa berbeda. Dari Terminal Mangkang, ribuan orang bergerak perlahan dalam satu arus yang sama, bukan sekadar pawai, melainkan kirab budaya yang sarat makna. Mereka datang dari berbagai penjuru Kecamatan Tugu dan Ngaliyan, membawa semangat untuk mengenang sosok ulama besar, KH R.Syafi’i Piyoro Negoro, yang akrab disapa Mbah Syafi’i.
Langkah-langkah itu mengarah ke satu titik: kompleks pemakaman Mbah Syafi’i di Kelurahan Dondong, Wonosari. Sepanjang rute, warna-warni kostum tradisional, tabuhan rebana, dan replika kitab kuno menyatu menjadi pemandangan yang memikat sekaligus khidmat.
Kirab dilepas langsung oleh Kadarlusman, Ketua DPRD Kota Semarang. Di antara kerumunan, tampak pula anggora DPRD Provinsi Jateng, Krisseptiana Hendrar Prihadi serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, bersama perwakilan pemerintah setempat.
Bagi warga, kirab ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah cara merawat ingatan. Tahun ini, suasananya terasa lebih semarak. Ribuan peserta dari 48 kelompok, mulai dari tingkat RW hingga kelurahan di Ngaliyan, Tugu, Mijen, hingga Semarang Barat, turut ambil bagian.
Di antara barisan, replika kitab peninggalan Mbah Syafi’i menjadi simbol yang paling mencuri perhatian. Kitab itu bukan sekadar benda, melainkan penanda jejak keilmuan yang diwariskan turun-temurun.
“Haul tahun ini terasa lebih meriah. Antusiasme warga luar biasa. Ini bukan hanya kirab, tapi juga bentuk penghormatan atas perjuangan beliau,” ujar Kadarlusman, yang akrab disapa Pilus.
Nama Mbah Syafi’i memang lekat dalam sejarah panjang penyebaran Islam di Jawa. Ia dikenal sebagai ulama yang berdakwah sejak awal 1600-an. Di Dondong, ia mendirikan Pondok Pesantren Luhur sekitar tahun 1609, sebuah lembaga yang hingga kini masih bertahan dan menjadi pusat kegiatan keagamaan.
Namun, kisahnya tidak berhenti pada dakwah. Dalam sejumlah cerita yang beredar di masyarakat, Mbah Syafi’i juga disebut pernah terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Bahkan, ada yang meyakini ia memiliki peran penting dalam struktur pasukan di masa Sultan Agung.
“Konon beliau adalah komandan pasukan di era Mataram. Di wilayah Mangkang ini, beliau juga aktif berdakwah. Tapi literasinya masih terus kami telusuri,” kata Pilus.
Upaya menggali sejarah itu tidak mudah. Banyak dokumen penting yang hilang—sebagian terbakar pada masa penjajahan, sebagian lainnya rusak akibat banjir bandang. Yang tersisa kini lebih banyak berupa cerita lisan dan peninggalan yang masih dirawat di lingkungan pesantren.
Menariknya, nama Pondok Luhur Dondong juga sempat dikaitkan dengan sosok Mbah Sholeh Darat, guru dari tokoh-tokoh besar seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, hingga Raden Ajeng Kartini. Meski jejaknya masih terus ditelusuri, cerita ini menambah lapisan penting dalam sejarah lokal yang belum sepenuhnya terungkap.
Sebelum kirab digelar, rangkaian haul juga diisi dengan lomba rebana dan kegiatan keagamaan lainnya. Semua itu menjadi cara warga untuk merayakan sekaligus merawat tradisi.
Di tengah riuh pawai, ada satu benang merah yang terasa: keinginan untuk tidak melupakan. Sosok Mbah Syafi’i dihadirkan kembali, bukan hanya lewat doa, tetapi juga melalui gerak, musik, dan simbol budaya.
“Selain syiar agama, beliau juga pejuang. Menurut saya, beliau layak diusulkan sebagai pahlawan nasional,” ujar Pilus, sapaan akrab Kadarlusman.
Kirab pun berakhir di area pemakaman, tempat langkah-langkah itu akhirnya melambat. Dari hiruk pikuk jalanan, suasana berubah menjadi hening dan khidmat. Doa-doa dipanjatkan, menutup rangkaian yang bukan sekadar perayaan, melainkan perjalanan menelusuri jejak sejarah.
Di sana, di antara nisan dan pepohonan, kirab menemukan maknanya: bahwa masa lalu tak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu untuk kembali diingat.(HS)