HALO SEMARANG – Perpustakaan Kementerian Agama mengajak masyarakat menjadikan membaca sebagai ruang refleksi melalui kegiatan Silent Reading bertema “Baca Hening untuk Healing”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara tahunan Perpustakaan Kementerian Agama, sekaligus menyambut Hari Kunjung Perpustakaan, yang akan diperingati pada September 2026.
Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan Silent Reading. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama, mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, hingga wakil kepala sekolah.
Kepala Bagian Umum, Perpustakaan, dan Barang Milik Negara (BMN), Rizky Riyadu Taufiq, mengatakan Perpustakaan Kementerian Agama secara konsisten menghadirkan berbagai kegiatan literasi untuk menumbuhkan budaya membaca di lingkungan Kementerian Agama maupun masyarakat luas.
Menurutnya, membaca merupakan fondasi penting dalam membangun pengetahuan sekaligus membentuk karakter. Karena itu, budaya literasi perlu terus diperkuat agar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Perpustakaan Kementerian Agama rutin menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan semangat literasi bagi masyarakat, pegawai, mahasiswa, dan pelajar. Melalui kecintaan terhadap membaca, kami berharap budaya literasi terus tumbuh sebagai budaya positif yang mendukung kemajuan bangsa,” ujarnya di Jakarta, Kamis (6/8/2026), seperti dirilis kemenag.go.id.
Rizky juga mengajak seluruh peserta menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang dimulai dari lingkungan keluarga.
Menurutnya, setiap orang dapat memberikan kontribusi bagi bangsa, sesuai dengan perannya, termasuk melalui pendidikan di dalam keluarga dan penyebarluasan pengetahuan kepada masyarakat.
“Hidup adalah proses pembelajaran yang tidak mengenal batas usia. Bangsa Indonesia pun terus belajar dan melakukan evaluasi agar semakin mandiri setelah meraih kemerdekaan,” tuturnya.
Salah seorang peserta dari komunitas Forum Buku Berjalan, Bisyar, mengaku termotivasi mengikuti kegiatan Silent Reading karena hobi membaca. Selain itu, ia juga belum pernah mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.
Bisyar mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang terbuka bagi masyarakat umum. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang yang inklusif dan tidak hanya diperuntukkan bagi pegawai Kementerian Agama.
“Alhamdulillah kegiatan ini dibuka untuk umum. Ini menunjukkan bahwa membangun kebiasaan membaca bisa dilakukan di mana saja, oleh siapa saja, tanpa memandang usia,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dikembangkan dengan menambahkan sesi berbagi atau diskusi buku sehingga peserta tidak hanya membaca secara mandiri, tetapi juga memperoleh wawasan baru.
“Selain sesi silent reading, saya berharap ke depan ada sesi berbagi buku, diskusi buku, atau sharing session bersama penulis. Kalau silent reading lebih bersifat personal bagi pembacanya, akan lebih menarik jika dilengkapi dengan diskusi atau berbagi pengalaman bersama penulis untuk menambah insight dan wawasan,” tuturnya. (HS-08)


