in

Kisah Tarrare Yang Kini Menjelma jadi Pejabat Rakus dan Tamak

Gambar ilustrasi AI.

ADA satu jenis kelaparan yang tak bisa diatasi dengan nasi bungkus. Kelaparan itu berdiam di balik meja berstempel, hidup dari rapat ke rapat, dan selalu punya alasan administratif.

Di banyak daerah, kelaparan ini menjelma menjadi perilaku pejabat yang rakus, tak pernah puas menimbun harta, dan sibuk dalam upaya mengawetkan kakayaan dan kejayaan pribadi.

Uang rakyat diperlakukan laksana piring prasmanan: siapa cepat, dia kenyang; siapa lambat, silakan cuci piring.

Kisah para pejabat rakus ini mengingatkan pada Tarrare, pria Prancis abad ke-18 yang tercatat dalam literatur medis sebagai pemilik nafsu makan mengerikan.

Lahir sekitar 1772 dan meninggal dunia tahun 1798, Tarrare mampu melahap porsi untuk 15 orang, menyantap daging mentah, bahkan menelan benda yang tak pantas masuk menu, seperti kayu.

Anehnya, tubuhnya tetap kurus, beratnya berkisar 45–50 kilogram. Dokter kala itu mencatat bau badan menyengat, perut mengembang, dan rasa lapar yang kembali muncul tak lama setelah makan. Hidupnya singkat, berakhir tragis, dan menyisakan pertanyaan besar: ke mana perginya semua makanan itu?

Pertanyaan serupa sering muncul saat publik membaca kabar korupsi daerah. Anggaran masuk, proyek dilelang, pengadaan digelar, laporan kinerja dirilis.

Namun jalan berlubang tetap banyak, layanan publik kecau, dan kesejahteraan warga tetap minimalis. Uang mengalir deras, hasilnya entah ke mana. Ada perut yang terus mengembang, ada kota yang tetap lapar. Ironi ini terasa akrab di banyak tempat, dari balai kota, kabupaten, sampai kantor provinsi.

Tarrare punya diagnosis yang membingungkan ilmuwan sezamannya. Ada dugaan gangguan metabolisme, ada pula spekulasi masalah hormon. Pejabat rakus juga punya diagnosis versi lokal: kebutuhan politik, biaya kontestasi, solidaritas tim pemenangan, rasa tamak serta rakus, dan dalih “sudah biasa”.

Setiap kali ada yang tertangkap penegak hukum dan ditanya, jawabannya selalu terdengar canggih, meski ujungnya sama: perut kekuasaan minta diisi lagi. Setelah satu piring habis, piring lain datang. Setelah satu periode usai, periode lain menunggu. Tak ada yang benar-benar peduli tentang rakyat, selain hanya dianggap sebagai angka-angka yang dibutuhkan saat perhitungan suara.

Catatan sejarah menyebut Tarrare sempat direkrut militer Prancis. Ia diberi ransum ekstra, tetap kelaparan, lalu sakit. Ia juga pernah dijadikan objek eksperimen medis, menelan kotak kayu, ular, dan benda aneh lain.

Hasilnya nihil. Dalam dunia birokrasi, eksperimen juga rajin dilakukan. Nama program diganti, logo dipoles, pidato diperpanjang. Warga menunggu dampak, laporan menunggu tanda tangan. Hasilnya sering nihil, kecuali satu hal: nafsu dan ketamakan para penguasa yang tetap terjaga.

Di tingkat lokal, publik kerap menyaksikan adegan yang berulang. Di Pemkot Semarang dan banyak daerah lain, rumor beredar lebih cepat dari klarifikasi.

Proyek muncul mendadak, anggaran membengkak, foto peresmian bertebaran. Ketika masalah mencuat, ada rapat darurat dan janji evaluasi. Warga diminta sabar, seolah kesabaran bisa menggantikan jalan rusak. Di sini, masyarakat tahu ada yang tak beres, namun tangan terasa pendek. Kotak suara sudah dipakai, aduan sudah dikirim, sisanya tinggal menunggu.

Masyarakat seperti dipertontonkan lakon drama karya Samuel Beckett “Waiting for Godot” atau Menunggu Godot.

Tarrare wafat muda, diduga akibat tuberkulosis, dengan tubuh yang tak pernah menikmati hasil makannya. Nafsu besar, umur pendek. Pesan ini mestinya sederhana: kerakusan dan ketamakan jarang membawa kebahagiaan jangka panjang.

Namun dalam politik lokal, pesan itu sering dibaca terbalik. Kekuasaan dianggap vitamin, uang dianggap imun. Padahal sejarah dan hukum punya selera humor sendiri. Hari ini kenyang, besok mual, dan berakhir di belik jeruji besi.

Ada ironi lain yang lebih halus. Tarrare hidup di masa kelaparan Eropa, sementara ia menelan apa pun yang ditemui. Pejabat rakus hidup di tengah janji pelayanan publik, namun memilih menelan anggaran di saat rakyat sedang berjuang untuk sekadar bertahan hidup.

Di satu sisi ada rakyat yang menunggu air bersih, sekolah layak, dan transportasi aman. Di sisi lain ada elite yang mengoleksi jam, mobil, tas, dan properti. Keduanya berada di kota yang sama, namun kenyataannya berbeda.

Tarrare menjadi legenda medis, dipelajari untuk memahami tubuh manusia. Pejabat rakus menjadi legenda lokal, dipelajari warga untuk memahami batas kesabaran.

Bedanya, Tarrare tak berpura-pura. Ia lapar dan mengaku lapar. Pejabat rakus rajin berkata bijak, efisiensi, akuntabilitas, dan prioritas, sambil menyembunyikan sendok di balik map.

Bila Tarrare bisa bicara hari ini, mungkin ia akan iri pada birokrasi kita. Ia harus makan di depan umum, dicurigai dokter, dan berakhir cepat. Di sini, makan bisa dilakukan rapi, berjas, dengan prosedur lengkap.

Namun hukum dan ingatan publik punya metabolisme sendiri. Ia mencerna pelan, lalu bekerja.

Semoga sebelum kesabaran rakyat ikut menipis, nafsu makan kekuasaan bisa lebih terkendali. Bukan demi kesalehan, melainkan demi satu hal sederhana: rakyat sudah terlalu lama lapar, dan mereka berhak kenyang.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Bank Jateng Dukung Program Loyalitas MyAmbarrukmo

Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi, Mahasiswa KKN UPGRIS Latih Ibu PKK Desa Keji