HALO PEKALONGAN – Tempat Ibadah Tri Dharma (TTID) Klenteng Po An Thian Pekalongan kembali menggelar Kirab Ritual dan Budaya Imlek Tahun 2025 Pekalongan, baru-baru ini.
Kirab diawali dengan serangkaian ritual dan atraksi barongsai serta marching band, berlangsung di halaman Klenteng setempat, di Jalan Belimbing No 5 Sampangan, Kecamatan Pekalongan Timur.
Setidaknya terdapat 11 tandu yang terdiri atas 10 tandu Dewa dan Dewi dan 1 tandu pendupaan yang mengikuti kirab kali ini.
Sepuluh Dewa dan Dewi yang ikut dalam Kirab Ritual dan Budaya Imlek 2025 Kota Pekalongan ini, terdiri atas YM Sin Long Tay Tee (Dewa Pengobatan dan Pertanian), YM Tek Hay Cin Jin (Dewa Perdagangan), YM Kwan Seng Tee Koen (Dewa Kejujuran dan Kesetiaan), YM Lie Lo Cia (Dewa Pelindung Anak-Anak), dan YM Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi).
Selain mereka juga YM Hauw Ciang Kun (Panglima Macan Pelindung Manusia), YM Hian Thian Siang Tee (Dewa Kaisar Langit Utara dan Pembasmi Ilmu Hitam), YM Thian Siang Seng Boo (Dewi Pelindung Kaum Nelayan), YM Kwan Se Im Po Sat (Dewi Kwan Im / Dewi Welas Asih), dan YM Kongco Han Tan Kong (Dewa Kekayaan).
Selain 11 tandu yang ikut dalam kirab ini, 6 barongsai dan 1 naga/liong dari Perkumpulan Liong Samsie Dharma Asih Semarang.
Juga cosplay ataupun tiruan Dewa dan Dewi seperti Dewi Kwan Im, Sun Go Kong, Tong Sam Cong, Wu Jing, Cut Pat Kay dari Sanggar Seni Tridharma Mekar Teratai Semarang.
Ikut pula memeriahkan, Marching Band Gita Jala Nusantara SUPM Nusantara Batang, Musik Rampak Putra Pandawa Pekalongan yang menampilkan musik khas bambu tradisional, serta Sanggar Kudo Bekso Utomo 1970 yang menampilkan kesenian sintren, jaranan, jamang, dan bantengan.
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid atau yang akrab disapa Mas Aaf, mengapresiasi atas terselenggaranya Kirab Ritual dan Budaya Imlek Tahun 2025, yang diselenggarakan oleh Klenteng Po An Thian Pekalongan.
Dia menilai, untuk perayaan tahun ini lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, hal ini menunjukkan suatu bentuk Bhinneeka Tunggal Ika di tengah masyarakat Indonesia khususnya Kota Pekalongan.
“Inilah sebetulnya Indonesia, inilah seharusnya Kota Pekalongan. Semua suku, ras, agama kalau hal positif pasti kita dukung, termasuk pada Perayaan Kirab tahun ini dalam rangka Cap Go Meh di Klenteng Po An Thian Pekalongan yang setiap tahunnya selalu meriah dan dipadati masyarakat,” ucap Mas Aaf, seperti dirilis pekalongankota.go.id.
Pihaknya berharap, melalui kegiatan kirab ritual dan budaya Imlek ini bisa semakin menguatkan dan menyatukan masyarakat Kota Pekalongan yang sangat beragam.
Meskipun berbeda-beda agama, suku, ras, dan budaya namun tetap hidup rukun berdampingan.
Ia juga bersyukur, di lokasi Klenteng Po An Thian atau sepanjang Jalan Belimbing sudah tidak banjir lagi, seiring dengan kebersihan pembangunan Sistem Penanganan Banjir dan Rob.
“Mudah-mudahan Saudara kita yang akan melakukan Hari Keagamaan masing-masing bisa selalu lancar dan saling hormat menghormati. Dari FKUB juga selalu support full. Dalam kegiatan ini juga hadir tokoh ulama kharismatik, Maulanan Habib Luthfi bin Ali bin Yahya. Mudah-mudahan Perayaan ini membawa kesejahteraan, kedamaian dan kesuksesan untuk masyarakat Kota Pekalongan,” harapnya.
Ketua Yayasan TTID Klenteng Po An thian Pekalongan, Heru Wibawanto Nugroho menghaturkan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat, yang setiap tahunnya selalu antusias menyambut dan menghadiri serta menjaga keamanan dalam Kirab Imlek ini.
Dirinya menilai, solidaritas dan tenggang rasa di Pekalongan merupakan sebuah anugerah, karena warganya dapat hidup berdampingan dengan aman dan nyaman, walaupun berbeda dari suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).
Kirab Imlek 2024 ini juga merupakan ajang budaya yang juga dapat meningkatkan pariwisata di Kota Pekalongan, selain dari sebagai ritual untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga dapat menetralkan hal-hal negatif yang ada di Kota Pekalongan dengan kirab ini.
“Kirab ini adalah puncak Perayaan Hari Imlek pada 14 Bulan Imlek, besoknya dilanjutkan Cap Go Meh tanggal 15, malamnya kita makan lontong Cap Go Meh. Secara umum tidak ada perbedaan dari perayaan kirab ritual dan budaya dari tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan sekitar 2000 peserta kirab,” tutur Heru.
Pada kirab kali ini, lanjutnya, umat dan simpatisan Tridharma Klenteng Po An Thian Pekalongan berdoa agar di tahun
yang baru dapat membawa kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat, termasuk berdoa agar Pekalongan dapat terbebas dari segala macam bencana.
Kirab Ritual & Budaya Imlek ini telah dilaksanakan bertahun-tahun di Kota Pekalongan setiap hari ke-14 di bulan pertama penanggalan Imlek dengan tujuan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Alam Semesta karena dapat diberikan kelimpahan berkah, dan juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan perantara para Dewa dan Dewi untuk dapat dijauhkan dari segala macam bencana.
“Melalui kirab ini juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar Kota Pekalongan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, dapat selalu mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan, serta para pemimpin daerah maupun nasional dapat selalu dibimbing oleh Tuhan Yang Maha Esa dan Para Dewa & Dewi untuk dapat menjadi pemimpin yang adil, amanah, berada di jalan yang benar, dan mengutamakan rakyatnya, serta tak lupa memohon dan bersyukur atas persatuan dan kesatuan serta kesejahteraan Indonesia,” kata dia. (HS-08)