in

Kiai Mlati dan Sejarah Kabupaten Klaten

Kompleks makam Kiai dan Nyi Mlati di Kampung Sekalekan, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah. (Foto : klatenkab.go.id)

 

HALO KLATEN – Bupati dan jajaran Forkopimda Klaten, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-220 Kabupaten Klaten, Sabtu (27/7/2024), berziarah ke makam tokoh-tokoh pendahulu, termasuk Kiai dan Nyai Mlati yang merupakan tokoh pembuka lahan yang kini menjadi wilayah kabupaten Klaten.

Lalu bagaimana sejarah wilayah di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta itu ?

Menurut keterangan yang dirilis klatenkab.go.id, dokumen tentang sejarah Klaten, tersebar di berbagai arsip-arsip kuno, dokumen kolonial, dan manuskrip Jawa.

Catatan itu seperti tertulis dalam Serat Perjanjian Dalem Nata, Serat Ebuk Anyar, dan Serat Siti Dusun.

Juga dalam Sekar Nawala Pradata, Serat Angger Gunung, Serat Angger Sedasa dan Serat Angger Gladag.

Catatan tentang sejarah Klaten dalam bundel arsip Karesidenan Surakarta, juga merujuk pada dokumen Soerakarta Brieven van Buiten Posten, Brieven van den Soesoehoenan 1784-1810, dan Daghregister van den Resi dentie Soerakarta 1819.

Juga merujuk pada Reporten 1787-1816, Rijksblad Soerakarta dan Staatblad van Nederlandsche Indie.

Babad Giyanti, Babad Bedhahipun Karaton Negari Ing Ngayogyakarta, Babad Tanah Jawi dan Babad Sindula menjadi sumber lain untuk menelusuri sejarah Klaten.

Baik sumber arsip kolonial, arsip kuno maupun manuskrip Jawa, ternyata saling memperkuat dan melengkapi dalam menelusuri sejarah Klaten.

Dalam berbagai catatan itu, antara lain terungkap sejumlah tokoh penting, antara lain keberadaan Kiai dan Nyi Mlati. Pasangan suami istri yang konon tinggal di kampung Sekalekan ini, dipercaya sebagai cikal bakal Klaten.

Kedua abdi dalem Kraton Mataram ini, diberi tugas oleh raja untuk menyerahkan bunga melati dan buah joho, untuk menghitamkan gigi para putri kraton (Serat Narpawada, 1919:1921).

Guna memenuhi kebutuhan bunga melati untuk raja, Kiai dan Nyai Mlati menanami sawah milik Raden Ayu Mangunkusuma, istri Raden Tumenggung Mangunkusuma, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Polisi Klaten, yang kemudian dipindah tugaskan istana menjadi Wakil Patih Pringgalaya di Surakarta.

Namun disayangkan, belum ditemukan sumber sejarah tentang akhir riwayat Kiai dan Nyai Mlati. Silsilah keduanya juga tidak diketahui.

Hanya diketahui, setelah Kiai dan Nyai Mlati. Keduanya dimakamkan di Kampung Sekalekan, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah.

Sejarah Klaten juga dapat ditelusuri dari keberadaan Candi Hindu dan Budha, serta barang-barang kuno.

Asal muasal desa-desa kuno tempo dulu, seperti Pulowatu, Gumulan, Wedihati, Mirah-mirah dan Upit, menunjukan keterangan terpercaya.

Peninggalan atau petilasan Ngupit bahkan secara jelas menyebutkan pertanda tanggal yang dimaknai 8 November 66 Maeshi, oleh Raden Rakai Kayuwangi.

Berdirinya Benteng atau loji Klaten di masa pemerintahan Sunan Paku Buwana IV juga mempunyai arti penting dalam sejarah Klaten.

Pendirian benteng tersebut peletakan batu pertamanya dimulai pada hari sabtu Kliwon, 12 rabiulakir, Langkir, Alit 1731 atau sengkala Rupa Mantri Swaraning Jalak atau dimaknai sebagai tanggal 28 Juli 1804.

Sumber sejarah ini dapat ditemukan dalam Babad Bedhaning Ngayogyakarata dan Geger Sepehi. Catatan sejarah ini oleh pemerintah Kabupaten Klaten melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2007 sebagai Hari Jadi Kabupaten Klaten yang diperingati setiap tahun. (HS-08)

Rayakan HUT, Rombongan Pemkab Klaten Ziarah ke Makam Kiai Mlati hingga Tokoh Pendahulu

Rekatkan Persatuan, 6.000 Warga Desa Selakambang Purbalingga Gelar Grebeg Sura dan Ruwat Bumi