SUARA peluit bersahut-sahutan memecah riuh lalu lintas di pertigaan Jerakah, Kota Semarang. Di bawah terik matahari, sejumlah petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang berdiri tegap di tepi jalan. Tangan mereka terangkat, memberi isyarat tegas: berhenti.
Satu per satu truk sumbu tiga yang hendak melintasi jalur tanjakan Silayur disuruh putar balik. Tujuannya jelas, menuju kawasan pergudangan BSB City bukan berarti bebas melanggar aturan.
Pemandangan ini bukan sekadar rutinitas penertiban lalu lintas. Ada misi yang lebih besar sedang dijaga: mencegah kecelakaan kembali merenggut korban di jalur yang belakangan dikenal sebagai titik rawan.
Selama sepekan terakhir, para petugas berjaga hampir tanpa jeda. Dari pagi hingga siang, bahkan kadang berlanjut hingga sore, mereka menghadang kendaraan berat yang melintas di luar jam operasional. Dengan gerakan yang tegas namun tetap humanis, mereka memastikan aturan tidak sekadar menjadi tulisan di atas kertas.
Di tengah panas yang tak bersahabat, peluit menjadi bahasa. Tiupan pendek berarti melambat, panjang berarti berhenti. Sementara tangan yang terulur adalah garis batas antara risiko dan keselamatan.
Yang menarik, upaya ini tidak menuai keluhan berarti dari masyarakat. Justru sebaliknya, dukungan mengalir dari warga sekitar.
Ahsana Nadia, mahasiswa UIN Walisongo Semarang sekaligus warga Ngaliyan, melihat kehadiran petugas sebagai langkah nyata yang sudah lama dinanti.
“Menurutku program ini bagus untuk direalisasikan, apalagi melihat banyaknya kecelakaan yang terjadi sebelumnya. Harusnya bisa konsisten, tidak hanya di awal saja,” ujarnya.
Bagi Nadia, kehadiran petugas di lapangan bukan hanya soal penegakan aturan, tetapi juga simbol keseriusan pemerintah dalam melindungi warganya. Ia berharap kebijakan ini tidak bersifat sementara, melainkan menjadi kebiasaan yang terus dijaga.
Dukungan warga tak berhenti pada kata-kata. Dalam beberapa hari terakhir, pemandangan kecil namun hangat kerap terlihat: pemilik warung dan warga sekitar menghampiri petugas, membawa air minum dingin, teh hangat, hingga camilan sederhana.
Di bawah matahari yang menyengat, perhatian kecil itu terasa besar.
“Bagus banget, berarti masyarakat juga mendukung. Karena dampaknya kan kembali ke mereka juga,” kata Nadia.
Di balik interaksi sederhana itu, terselip rasa saling menjaga—petugas menjaga jalan, warga menjaga semangat petugas.
Bagi para personel Dishub, tugas ini bukan tanpa tantangan. Selain panas dan debu jalanan, mereka juga harus berhadapan dengan pengemudi yang terkadang enggan diputar balik. Namun pendekatan persuasif tetap menjadi pilihan utama.
Senyum, penjelasan singkat, dan kesabaran menjadi pelengkap dari peluit dan isyarat tangan.
Nadia pun menitipkan pesan sederhana bagi para petugas yang setiap hari berdiri di garis depan keselamatan itu.
“Semoga tetap semangat. Diingat saja kalau yang dikerjakan ini untuk masyarakat, jadi harus diprioritaskan,” tuturnya.
Dari pertigaan Jerakah, sebuah potret kebersamaan terlukis di tengah hiruk pikuk kota. Petugas yang berdiri tanpa lelah, warga yang datang dengan dukungan tulus, dan jalan yang perlahan menjadi lebih aman.
Di balik setiap peluit yang ditiup dan setiap truk yang diputar balik, ada harapan yang terus dijaga: agar tanjakan Silayur tak lagi menjadi saksi bisu kecelakaan berikutnya.(HS)


