in

Kemenag Susun Ecotheopedagogy, Padukan Ekoteologi dalam Pedagogi

Kepala BMBPSDM Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani dan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Buku Ecotheopedagogy, belum lama ini. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kementerian Agama menerapkan nilai ekoteologi dalam pendidikan, untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan.

Langkah ini dikembangkan melalui konsep Ecotheopedagogy yang memadukan nilai ekoteologi, pedagogi, dan kesadaran lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani, dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Buku Ecotheopedagogy bertema “Mengajarkan dan Mencari Solusi Masalah Ekologi secara Islami” di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

Menurutnya, pendidikan ekologis tidak cukup hanya memberikan pengetahuan, tetapi harus mendorong peserta didik memahami persoalan lingkungan dan mampu mencari solusinya.

“Ecotheopedagogy harus membawa peserta didik pada pembelajaran yang mendalam. Persoalan lingkungan tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami, direfleksikan, dan dicari solusinya,” tegasnya, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, pendidikan juga perlu menggeser paradigma yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam menuju kesadaran sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab untuk merawat lingkungan.

Karena itu, materi Ecotheopedagogy perlu menghadirkan persoalan ekologis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Kaban Dhani–sapaan akrabnya–juga menekankan pentingnya membangun tanggung jawab ekologis dari lingkungan terkecil, mulai dari rumah, RT/RW, hingga sekolah dan madrasah.

Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan harus tumbuh melalui kebiasaan dan tindakan nyata, bukan berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas.

“Menjaga lingkungan harus dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah, lingkungan RT/RW, hingga sekolah dan madrasah, semuanya harus menjadi ruang untuk membangun kebiasaan menjaga dan merawat lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, buku Ecotheopedagogy perlu merespons nilai pendidikan yang dikembangkan Kementerian Agama, yakni maslahat, rukun, dan cerdas.

Dengan demikian, pembelajaran ekologi diharapkan tidak hanya membangun pemahaman peserta didik mengenai lingkungan, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab dalam menjaganya.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, mengatakan pengembangan Ecotheopedagogy merupakan respons FTK terhadap kebijakan Menteri Agama mengenai program ekoteologi yang perlu diterjemahkan pada level fakultas.

Menurutnya, buku tersebut berpeluang menjadi rujukan yang lebih luas apabila disusun secara komprehensif dan teruji, baik dari aspek substansi maupun didaktik-metodik. Terlebih, Dekan FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung dipercaya sebagai Ketua Forum FTK PTKI se-Indonesia.

“Jika buku Ecotheopedagogy FTK UIN Sunan Gunung Djati Bandung isinya lengkap dan teruji secara substansi serta didaktik-metodik, buku ini bisa menjadi pilot project untuk diterapkan di seluruh FTK se-Indonesia,” ujar Rektor.

Melalui pengembangan Ecotheopedagogy, nilai ekoteologi diharapkan semakin dekat dengan proses pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini menjadi salah satu upaya menerjemahkan kesadaran ekologis ke dalam pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami persoalan, mencari solusi, serta membangun kebiasaan menjaga lingkungan. (HS-08)

 

 

 

Puluhan Fotografer Berburu Momen “Meriah Indonesia” di Mal Ciputra Semarang

INSA Yacht Festival 2026 Dorong Ekosistem Wisata Bahari Indonesia