in

Kemenag Diskusikan Penguatan Moderasi Beragama dengan Ormas Islam

Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin. (Foto : Kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG –  Konservatisme saat ini mendominasi wacara keagamaan di media sosial. Hal ini menjadi salah satu indikasi, bahwa konservatisme dalam beragama menguat di Tanah Air.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk forum Diseminasi Moderasi Beragama bagi Ormas Islam, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, baru-baru ini.

Dalam dikusi yang membahas strategi implementasi moderasi beragama itu, hadir sejumlah narasumber, yaitu Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf; Tim Ahli Moderasi Beragama, Alissa Wahid; Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo KH Afifuddin Muhajir; dan Kepala Detasemen Khusus (Kadensus) 88 Irjen Martinus Hukom.

Diskusi yang berlangsung dua hari, 23-24 April ini, diikuti peserta dari PBNU, serta sejumlah tokoh dan ulama. Hadir juga jajaran Ditjen Bimas Islam, Staf Khusus Menag Nuruzzaman dan Ishfah Abidal Aziz, serta Tenaga Ahli Menag.

Dalam pengantar diskusi, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, mewakili Menag Yaqut Cholil Qoumas, mengatakan indikasi menguatnya konservatisme beragama melalui media sosial tersebut, merupakan hasil penelitian sejumlah lembaga, termasuk UIN Jakarta.

“Fakta berdasarkan penelitian, 67 persen wacana keagaman di media sosial didominasi wacana keagamaan konservatif. Yang moderat hanya 22 persen dan di situ teman-teman NU yang aktif bersama ormas Islam lainnya, dan sisanya liberal dan Islamis,”  kata Kamaruddin Amin, seperti dirilis Kemenag.go.id.

Menurut dia, konservatisme Islam di Indonesia adalah fenomena yang harus direspon bersama.

“Ini adalah substansi dan tujuan pertemuan kita, yakni merespon realitas,” kata Dirjen Bimas Islam Kamaruddin di Jakarta.

Lebih lanjut, Kamaruddin Amin mengatakan Kemenag memiliki 50 ribu penyuluh di Indonesia. Ditjen Bimas Islam terus berupaya untuk mengoptimalkan peran mereka agar menjadi instrumen pengarusutamaan wacana keagamaan moderat, melalui medium digital, tidak lagi konvensional.

Diseminasi Moderasi Beragama bagi Ormas Islam selanjutnya diisi dengan diskusi panel. Tim Ahli Moderasi Beragama, Alissa Wahid, memaparkan tentang Arah dan Kebijakan Penguatan Moderasi Beragama Kementerian Agama.

Sementara  KH Afifuddin Muhajir mendadar Konsep Moderasi Beragama dalam Perspektif Fiqih Ushl Fiqh. Sedangkan Irjen Martinus Hukom – Kepala Detasemen Khusus (Kadensus) 88 menjelaskan Perkembangan Kehidupan Sosial dan Keagamaan di Indonesia. (HS-08)

Resmikan Gedung RSIA NU di Cepu, Bupati Blora : Rasanya seperti Mimpi

Prakiraan Cuaca Semarang dan Sekitarnya, Senin (25/4/2022)