in

Kelola Sampah Organik Hingga 50 Ton Perhari, Bakti Lingkungan Djarum Foundation Mampu Kurangi Sampah di TPA Sebesar 30 Persen

Aktivitas pemprosesan sampah organik oleh pegawai menjadi pupuk organik di Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang dilaksanakan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation di Kudus, baru-baru ini.

MASALAH sampah menjadi tantangan setiap hari yang dihadapi seiiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi masyarakat. Untuk itu jika sampah tidak dikelola dengan baik dan diantisipasi mulai sekarang, nantinya justru akan membawa dampak negatif.

Demi mewujudkan lingkungan menjadi resik dan ciamik, langkah itu sudah dilakukan di Kabupaten Kudus. Seperti terus menggencarkan program pengolahan sampah organik dengan menggandeng para mitra untuk bergerak bersama mulai dari sektor swasta sepeti rumah makan, hotel, dan pasar tradisional maupun unsur pemerintah desa.

Para mitra itu bertanggungjawab untuk memilah sampah organik yang dihasilkan di lingkungan sekitarnya, untuk diolah menjadi pupuk organik di Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) sejak 2018 lalu. Dan hasilnya cukup signifikan, karena sudah bisa mengurangi timbunan sampah organik hingga 30 persen dari total sampah yan diproduksi di Kabupaten Kudus sebesar 170 ton perhari. Sekaligus mengurangi beban yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Ini solusi kami mengingat poduksi sampah terus meningkat, total mencapai 170 ton perhari. Tentunya dengan berkolaborasi menggandeng stakeholder di tingkat hulu. Baik itu masyarakat, sektor swasta dan pemerintah,” kata Sekda Kudus, Revlisianto Subekti yang mewakili Bupati Kudus saat memberikan sambutan dalam acara Inagurasi Gerakan Digital Kudus ASIK dan Apresiasi 370 Mitra Pengelolaan Sampah Organik di Kantor Oasis Djarum Kretek Factory, sekaligus memperingati Hari Peduli Sampah, baru-baru ini.

Ditambahkan Sekda, bahwa produksi sampah di Kudus terus bertambah, apalagi sebentar lagi ada momen lebaran. Sehingga melalui Dinas Perdagangan bersama Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus memassifkan kampanye Kudus Resik.

“Tentunya berkolaborasi dengan anak-anak muda turun ke masyarakat membawa kantong sampah dan mengedukasi untuk bisa membuang sampah di tempat yang disediakan. Sehingga lingkungan sekitar terjaga dari ceceran sampah,” katanya.

“Agar sampah organik dari daun dan sisa sampah sayuran pasar bisa didaur ulang jadi pupuk. Dan TPA seharusnya bukan tempat pembuangan namun tempat pemprosesan. Apalagi usia TPA Tanjungrejo kini hampir 30 tahun sehingga tidak layak untuk tempat pembuangan,” lanjutnya.

Untuk itu, pihaknya mendukung langkah dari BLDF untuk mengelola sampah organik.

“Kami apresiasi program dari BLDF yang memilah sampah organik bersama dengan para mitra untuk pengelolaan sampah di Kabupaten Kudus. Sehingga membuat pemandangan di Kudus menjadi bersih dan resik,” tegasnya.

Sementara, Mutiara Diah Asmara, Director Communications Djarum Foundation mengatakan, diharapkan melalui gerakan digital Kudus ASIK bisa menjadi motivasi masyarakat Kudus, khususnya generasi muda untuk dapat berpartisipasi dalam memilah sampah demi menjaga lingkungannya tetap bersih.

“Kami pun berharap keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk memilah sampah bisa menjadi bagian dari keseharian,” paparnya.

Seperti diketahui, sampai saat ini, sejak diluncurkan pada 2018, program pemilahan sampah organik yang diprakarsai oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation atau BLDF telah menggandeng 370 mitra dari berbagai sektor, termasuk rumah makan, pasar tradisional, masyarakat desa, hotel, hingga koperasi di Kabupaten Kudus.

Melalui kolaborasi ini, sampah organik yang dihasilkan dikelola dan didaur ulang di Pusat Pengolahan Organik (PPO) menjadi pupuk organik, sehingga berkontribusi signifikan dalam mengurangi jumlah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). (HS-06)

Pemprov Jateng Rangkul 9 Perusahaan, Upayakan Eks Buruh Sritex Bisa Bekerja Kembali

Pimpin Rapat OPD Perdana, Ahmad Luthfi Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur di Tahun Pertama