in

Kasus LSD Aktif di Kendal Tinggal 88, PMK 73 Kasus

Acara Pertemuan Petugas Medik dan Paramedik Veteriner, Penanganan Reproduksi Pada Ternak Dampak PMK dan LSD, yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, di salah satu agro wisata di Kendal, Senin (20/3/2023).

HALO KENDAL – Dari 297 total penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Kendal, terdapat 88 kasus aktif, sembuh 205, dan mati empat ekor. Kebanyakan ternak dari luar Kendal.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Puji Yuwono dalam acara Pertemuan Petugas Medik dan Paramedik Veteriner, Penanganan Reproduksi Pada Ternak Dampak PMK dan LSD, di salah satu agro wisata di Kendal, Senin (20/3/2023). Kegiatan ini juga menghadirkan nara sumber Dosen Universitas Gadjah Mada, Drh Agung Budiyanto MP PhD.

“Kasus LSD aktif di Kecamatan Plantungan sebanyak 44, kemudian Sukorejo 14, Patean 14 dan Pageruyung 14. Sedangkan di Kecamatan Ringinarum hanya ada satu kasus aktif,” beber Puji.

Dirinya memaparkan, penyakit disebabkan oleh virus cacar (pox virus) pada ternak sapi dan kerbau, dengan morbiditas 45 persen dan mortalitas mencapai 10 persen.

“Gejalanya, masa inkubasi empat hari sampai dengan lima pekan, ternak demam tinggi dan lesu, kemudian pembengkakan limfonedus, juga terdapat leleran di mata dan hidung, serta muncul lesi cacar atau nodul pada permukaan kulit,” papar Puji.

Kabid PKH menyebut, cepatnya penyebaran virus didukung oleh kondisi cuaca dan kelembaban. Karena menurutnya, sangat bagus untuk perkembangan virus.

“Cara penularannya, kontak langsung melalui lesi kulit, darah, leleran hidung dan mata, juga air liur. Selain itu vector melalui gigitan serangga, seperti nyamuk atau lalat penghisap darah dan caplak. Faktor penyebab lain yaitu melalui peralatan, pakaian dan sebagainya,” terang Puji.

Dirinya juga menjelaskan, langkah yang telah diambil Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, adalah dengan melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada peternak.

Untuk pengendalian dan penanganan, lanjut Puji, pihaknya juga melakukan langkah pembatasan lalu lintas, karkas, kulit, dan semen. Tidak memasukkan ternak dari daerah tertular dan isolasi ternak sakit.

Selain itu juga melaksanakan vaksinasi, penanganan hewan mati (disposal) dengan benar, pembersihan dan disinfeksi area kandang dan lingkungan, serta memberikan pengobatan suportif pada ternak, dan pengendalian vektor lalat, nyamuk, dan caplak.

“Pelaksanaan survailans, vaksinasi LSD dan pengobatan kepada ternak yang terpapar terus dilakukan. Untuk target vaksinasi 10 ribu ekor sapi dan kerbau,” jelas Puji.

Sementara untuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), total kasus 1.235 dengan kasus aktif sebanyak 73, sembuh 1.152, mati 13, dipotong 41, dan dijual enam ekor.

“Kasus PMK aktif yaitu, Pageruyung 30, Sukorejo 16, Plantungan sembilan, Patean delapan, Weleri lima, Patebon tiga, Cepiring dan Kangkung masing-masing satu,” imbuh Puji.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memasukkan atau membeli ternak dari wilayah lain terutama dari daerah yang terpapar.

“Kepada peternak, kami imbau untuk selalu menjaga kebersihan kandang, menerapkan biosecurity baik lingkungan, peralatan dan personal, serta pemberian pakan ternak yang berkualitas,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Pandu, kepada masyarakat bisa melaporkan kepada petugas jika menjumpai ternak yang bergejala terdampak virus LSD.(HS)

KemenPAN RB Anugerahkan Penghargaan Penguatan Kebijakan SPBE kepada Pemerintah Kota Semarang

Sambut Ramadan, Buka Puasa di Hotel Aruss Berundian Umroh