in

Karya Tulis Dua Mahasiswa Ini Jadi Pemenang Writing Competition Djarum Beasiswa Plus 2021/2022

Para pemenang I, II dan III Writing Competition Djarum Beasiswa Plus 2021/2022 kategori eksakta berfoto bersama dewan juri tingkat nasional, Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman, M. Rur. Sc (kiri), Zulfika Satria Kusharsanto, ST, MT, M.Sc, (kedua kiri), dan Joko Intarto (kanan).

HALO SEMARANG – Karya tulis kategori noneksakta berjudul ‘BerSATU: Aplikasi Terintegrasi Untuk Memaksimalkan Potensi Atlet Serta Mempersiapkan Dan Menjamin Masa Depan Atlet Indonesia’ oleh Andi Ameera Sayaka Cakravastia dari Institut Teknologi Bandung, dan karya tulis eksakta dengan topik ‘Oksimeter Janin Non-Invasif Untuk Mendeteksi Hipoksia Kandungan Menggunakan Kontrol  Optode dan Algoritma Ekstraksi Sinyal Janin’ oleh Najla Rasikha Putri Harza dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya sebagai juara Writing Competition Djarum Beasiswa Plus, yang pengumumannya dilakukan pada 23 September 2022 bertempat di Hotel Padma Ubud, Bali.

Dua karya tulis ini mengungguli 243 karya tulis lain yang dikirim peserta kepada paniyia lomba Beswan Djarum 2021/2022.

“Melalui karya tulis Writing Competition kami berusaha mewujudkan hasil pemikiran yang cerdas, kreatif, dan inovatif yang mampu menjawab tantangan serta permasalahan di sekitar masyarakat. Hal ini merupakan upaya kami untuk mendorong para Beswan Djarum (penerima program Djarum Beasiswa Plus) dapat berkontribusi di tengah  masyarakat. Djarum Foundation melalui Program Djarum Beasiswa Plus mengapresiasi pemikiran generasi muda, terlebih dari karya tulis pemikiran mereka muncul ide-ide baru yang diharapkan menjadi langkah awal kontribusi mereka pada Indonesia,” ujar Lounardus Saptopranolo, Program Officer Bakti Pendidikan Djarum Foundation, seperti dalam rilis yang diterima halosemarang.id, Selasa (27/9/2022).

Djarum Foundation melalui Program Djarum Beasiswa Plus konsisten mendukung dunia pendidikan di Indonesia.

Writing Competition Beswan Djarum 2021/2022 merupakan salah satu kelanjutan dari berbagai pelatihan soft skills yang telah diberikan setelah sebelumnya menerima pelatihan Leadership Development.

Tahun ini, terdapat ratusan  karya tulis yang dikirim untuk mengikuti Writing Competition di babak final tingkat regional, dan hanya 16 besar yang  lolos ke babak final tingkat nasional.

Para finalis tingkat nasional telah melakukan presentasi karya tulis yang diuji langsung oleh dewan juri Prof Dr Ir Ronny Rachman, M Rur Sc, Guru Besar dari Institut Pertanian Bogor, Joko Intarto sebagai CEO Jagaters yang mengelola 34 studio produksi video conference di Jakarta, serta  Zulfika Satria Kusharsanto, ST, MT, M.Sc, seorang Perekayasa Ahli Muda di Badan Riset dan Inovasi Nasional, dan  juga merupakan Alumni Beswan Djarum 2011/2012.

Prof Dr Ir Ronny Rachman, M Rur. Sc, Ketua Dewan Juri Tingkat Nasional, mengungkapkan, pihaknha senang sekali  bisa melihat langsung 16 finalis mempresentasikan karya tulisnya.

“Hal yang paling menggembirakan adalah tahun ini topik yang diangkat cukup beragam dan relevan dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Misalnya, memanfaatkan bahan alami untuk pengobatan dan kesehatan, kepedulian terhadap atlet, permasalahan pencemaran lingkungan, permasalahan manajemen energi terbarukan, dan masih banyak lagi,” katanya.

“Kami dewan juri memilih karya tulis Aplikasi berSATU dan Oksimeter Janin Non-Invasif karena ide mereka menarik  dan solutif. Isu di bidang olahraga masa depan atlet dan kesehatan bayi akibat kekurangan oksigen adalah isu yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Kami berharap karya tulis mereka ini menjadi langkah awal generasi muda yang peduli terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat. Sekaligus hasil pemikiran yang cemerlang dari para generasi muda sangat berharga untuk membangun bangsa di masa mendatang,” tambah Prof Ronny.

Pemenang I kategori noneksakta adalah Andi Ameera Sayaka Cakravastia dari Institut Teknologi Bandung yang  mengangkat topik mengenai ‘Bersatu: Aplikasi Terintegrasi Untuk Memaksimalkan Potensi Atlet Serta  Mempersiapkan Dan Menjamin Masa Depan Atlet Indonesia’. Ameera mengungkapkan, latar belakang topik ini adalah karena kepedulian terhadap para pahlawan olahraga Indonesia yang harus berjuang sekuat tenaga demi  mendapatkan kehidupan kayak selepas karir olahraganya.

“Aplikasi ‘berSATU’ dilengkapi dengan berbagai fitur bantuan berupa layanan serta edukasi dari berbagai aspek yakni, karier atlet profesional, finansial, kesehatan mental, pendidikan, dan sosial. Melalui aplikasi terintegrasi ‘berSATU’ diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan dengan memaksimalkan potensi atlet serta membantu para atlet mempersiapkan masa depannya,” katanya.

Tercatat dari karya tulis Ameera bahwa berdasarkan data 7/10 mantan atlet Indonesia mengaku saat ini hidupnya  belum sejahtera secara finansial. Mereka rela mengorbankan masa muda demi membela tanah air, sehingga mereka  harus kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan masa depan mereka di dunia kerja profesional. Aplikasi  ‘berSATU’ hadir untuk membantu atlet muda Indonesia memaksimalkan potensi mereka sebagai atlet dan mempersiapkan masa depan setelah karier olahraganya berakhir.

Selain layanan edukasi, ‘berSATU’ juga akan menerapkan pendekatan rantai nilai untuk dapat memetakan pihak-pihak yang terlibat dalam memberikan pelayanan persiapan karier guna menunjang prestasi dan masa depan atlet-atlet Indonesia.

Sementara pemenang I kategori eksakta ialah Najla Rasikha Putri Harza dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember,  Surabaya dengan topik ‘Oksimeter Janin Non-Invasif Untuk Mendeteksi Hipoksia Kandungan Menggunakan Kontrol  Optode dan Algoritma Ekstraksi Sinyal Janin’.

Sejak 1984

Najla mengungkapkan, menurut WHO, 23% kematian bayi yang baru lahir disebabkan oleh Birth Asphyxia.

“Asfiksia terjadi ketika otak bayi dan organ tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi sebelum, selama, atau tepat setelah lahir. Salah satu cara untuk mencegah asfiksia adalah dengan memonitor kondisi bayi secara berkala. Maka dikembangkan alat oksimeter janin yang non-invasif agar dapat  digunakan secara aman dan portable di mana saja. Metode alat yang diajukan menggunakan Optode Control and Fetal Signal Extraction Algorithm. Metode ini menangkap sinyal gabungan dari Ibu dan janin, lalu dengan algoritma  ekstraksi akan memisahkan sinyal janin, dan menghasilkan informasi terkait tingkat dan status SpO2 janin,” katanya.

Berdasarkan karya tulis, Najla merancang sebuah sistem terintegrasi yang terdiri dari hardware dan software untuk melakukan pengukuran SpO2 janin secara non-invasif. Alat ini disebut dengan ‘Fetox’ (Fetal Oximeter). Sistem ini  terdiri dari hardware berupa detector band yang berisikan emitter dan detector untuk mengemisikan foton dan menangkap sinyal pantulan foton, control board untuk mengontrol kerja detector band dan melakukan ekstraksi sinyal janin, serta software berupa program untuk menampilkan visualisasi data SpO2 janin. Tujuan utama dari ‘Fetox’ adalah untuk membantu mengurangi tingginya kematian bayi disebabkan birth asphyxia, serta memberikan  alternatif metode pengukuran SpO2 secara non-invasif.

Sebagai informasi, sejak tahun 1984, Djarum Foundation melalui Program Djarum Beasiswa Plus secara konsisten mendukung  pendidikan di Indonesia, berbagai pelatihan soft skills telah diberikan pada 12.886 mahasiswa/i berprestasi.

“Kami  berharap program ini dapat mendorong dan mempersiapkan pemimpin yang tidak hanya cerdas dan berkarakter kuat, tetapi juga kritis dan kreatif dalam menciptakan solusi atas fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar,” tambah Lounardus.(HS)

Mengurai Problem Kemiskinan Ekstrem, Wakil Ketua DPRD Jateng Heri Pudyatmoko: Perlu Kerja Keras

Kantor Imigrasi Semarang Buka Layanan Paspor Kolektif di Bank OCBC NISP Ngaliyan