in

Wujud Syukur Limpahan Rezeki, Warga Gempolsewu Kendal Gelar Nyadran Sedekah Laut

Tradisi Sedekah Laut atau Nyadran di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Jumat (26/6/2026).

HALO KENDAL – Sebagai wujud rasa syukur atas rezeki hasil tangkapan laut, warga nelayan di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal menggelar Tradisi Larung Sesaji Sedekah Laut atau Nyadran, Jumat (26/8/2026).

Ribuan warga pun antusias menyaksikan prosesi tradisi turun-temurun yang rutin dilaksanakan tersebut, seraya berdoa, agar nelayan selalu diberikan keselamatan saat melaut. Selain warga setempat, mereka juga datang dari desa sekitar, maupun dari luar daerah.

Puncak sedekah laut ditandai dengan pelarungan sesaji berupa kepala sapi, aneka jajanan pasar, serta hasil bumi ke tengah laut yang diiringi ratusan kapal nelayan berhias.

Ketua Panitia Sedekah Laut, Bambang Purwantono menjelaskan, kegiatan larung sesaji merupakan acara inti dari seluruh rangkaian pesta laut yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat nelayan, yaitu sebagai wujud rasa syukur atas hasil laut.

“Larung sesaji adalah wujud rasa syukur para nelayan atas kelimpahan hasil laut yang mereka peroleh selama bertahun-tahun mencari nafkah di laut,” jelasnya.

Bambang mengungkapkan, untuk sesaji berupa kepala sapi, aneka jajanan pasar, dan hasil bumi dibawa ke tengah laut untuk didoakan bersama sebelum dilarungkan.

Usai prosesi, para nelayan tampak mengambil air di sekitar lokasi sesaji yang telah dilarung untuk kemudian dipercikkan ke kapal masing-masing sebagai simbol harapan memperoleh keselamatan dan rezeki yang melimpah.

“Kami berharap tradisi Sedekah Laut Gempolsewu terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus semakin berkembang menjadi agenda wisata unggulan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan setiap tahunnya,” ungkap Bambang.

Sementara Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, yang hadir untuk membuka kegiatan, dalam sambutannya menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten Kendal untuk mendorong Sedekah Laut Gempolsewu masuk dalam Kalender Event Nasional (KEN) Kementerian Pariwisata.

“Kami pemerintah daerah, siap mendukung kegiatan tradisi seperti ini agar ke depannya bisa menjadi event tingkat nasional. Kami juga sudah berkomunikasi dengan Kementerian Pariwisata, sekaligus mengajukan Sedekah Laut Gempolsewu masuk dalam Kalender Event Nasional,” ungkapnya.

Bupati menegaskan, laut merupakan salah satu sumber kehidupan. Untuk itu pihaknya mengajak seluruh nelayan dan masyarakat untuk terus menjaga kebersihan laut, tidak menggunakan alat tangkap yang merusak, dan senantiasa menjaga ekosistem perairan serta pesisir agar tetap lestari.

Dirinya juga berharap, masyarakat menyadari pentingnya kebersihan lingkungan terutama di sekitar area Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tawang, Desa Gempolsewu, demi kenyamanan dan kemaslahatan bersama, agar senantiasa ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

“Selanjutnya, saya titip agar kebersihan TPI ini dan kebersihan desa pada umumnya senantiasa dijaga. Apalagi setelah event besar seperti ini tentunya berpotensi banyak sampah,” tandasnya.

Sedangkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kendal, Triono mengatakan tradisi Nyadran adalah bentuk rasa syukur nelayan kepada sang pencipta yang telah melimpahkan rezeki melalui hasil laut berupa ikan dari berbagai macam jenisnya, tanpa menabur bibit-bibit ikan di laut.

“Mari kita jaga kelestarian laut dan rasa syukur yang dikemas dalam kearifan lokal. Harapannya pemerintah daerah bisa menganggarkan atau menetapkan anggaran untuk kegiatan ini, sebagai ikon daerah,” ungkapnya.(HS)

Pemprov Jateng Bagikan Rp 385,5 Juta dan Emas 22,5 gram ke Wajib Pajak Lewat Gebyar Hadiah Samsat 2026

Wagub Jateng Sebut Perempuan Jadi Motor Utama Produksi Pangan