HALO SEMARANG – Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, mengakui serangan siber saat ini kian merebak di Indonesia. Untuk itu skema dalam proses pengamanan perlu diperkuat.
“Kita menghadapi kondisi yang rentan terkait dengan masalah serangan siber. Sehingga mau tidak mau, kita harus mempersiapkan pengamanan di bidang serangan siber,” kata Kapolri dalam Rakorwas Kompolnas-Polri di Ancol, Jakarta Utara, Rabu (17/7).
Dalam menghadapi hal ini, Kapolri menjelaskan, pihaknya telah menyusun sejumlah regulasi, untuk memperketat keamanan dari layanan digital Polri.
Nantinya aplikasi hingga situs layanan Polri, akan terlebih dulu di-asesmen keamanannya oleh Komite TIK Polri.
Selain itu, eks Kabareskrim ini memastikan, Korps Bhayangkara bakal melakukan peningkatan infrastruktur keamanan data.
“Mulai dari perangkat anti DDOS dan tentunya beberapa sistem pengamanan lain yang harus kita siapkan termasuk mekanisme pengamanan data,” jelas Kapolri, seperti dirilis humas.polri.go.id, Kamis (18/7/2024).
Dia juga mengatakan, salah satu upaya pengamanan juga dengan melakukan penetration testing (pentest) atau tes penetrasi secara berkala.
Tes penetrasi, juga dikenal sebagai tes pena, adalah simulasi serangan cyber, terhadap sistem komputer, untuk memeriksa kerentanan yang dapat dieksploitasi.
“Artinya sistem keamanan yang sudah kita buat, harus kita coba untuk kita terobos, apakah ini masih baik atau harus kita tingkatkan lagi,” lanjut Kapolri.
Kapolri mengatakan, saat ini juga telah dibentuk tim Computer Security Incident Response Team (CSIRT), yang bertugas melakukan penyelidikan pelaku kejahatan di bidang siber.
Tim ini hasil kerja sama Polri, Badan Sandi Siber Negara (BSSN), dari Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.
“Ini tentunya terus kita lakukan, karena memang perkembangan kejahatan siber terus meningkat, sehingga selalu dibuat hal-hal baru untuk bisa menerobos sistem keamanan,” kata Kapolri. (HS-08)