KEKUASAAN kerap membuat seseorang lupa pada tujuan awal mengapa ia diberi mandat. Dari titik inilah muncul apa yang dikenal sebagai jerat kekuasaan, sebuah kondisi ketika kekuasaan tidak lagi digunakan untuk melayani, melainkan diselewengkan.
Jerat ini umumnya merujuk pada penyalahgunaan wewenang (abuse of power), yakni penggunaan kekuasaan secara negatif demi keuntungan pribadi, dengan mengorbankan kepentingan orang lain dan melanggar prinsip keadilan.
Salah satu pintu masuk utama ke dalam jerat tersebut adalah keserakahan (greed). Jack Bologne, melalui teori yang dikenal sebagai GONE Theory (Greed, Opportunity, Needs, Exposure), menempatkan keserakahan sebagai faktor internal paling dominan yang mendorong terjadinya korupsi.
Menurut teori ini, praktik korupsi lahir dari pertemuan antara dorongan serakah, adanya kesempatan, tekanan kebutuhan, serta rendahnya risiko pengungkapan. Ketika unsur-unsur itu bertemu, kekuasaan yang seharusnya menjadi alat pengabdian justru berubah menjadi sarana penyimpangan.
###
Di Bikini Bottom, ada satu episode SpongeBob SquarePants yang selalu relevan tiap musim pemberitaan korupsi daerah: saat Mr. Krabs menjaga resep rahasia Krabby Patty sambil terus menghitung koin di laci kasir.
Ia bersumpah setia pada bisnis, pada aturan, pada moral versi spanduk. Namun di balik meja kasir, logika bekerja satu arah: untung dulu, prinsip belakangan.
Dalam realitas politik saat ini, kisah ini kerap hadir ulang dengan pemeran berbeda, latar gedung pemerintahan, dan dialog yang lebih rapi.
Berita penangkapan kepala daerah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi datang berkala, hampir berirama. Kadang bupati, kadang wali kota, kadang gubernur. Polanya mirip: proyek publik, perizinan, fee, dan eksekutor.
Sang pemimpin berdiri di podium, bicara soal integritas, moral, dan aturan, lalu di belakang layar ada tangan lain yang bekerja. Tangan itu disebut orang kepercayaan, atau kerabat.
Di titik ini, Tuan Krabs tersenyum. Ia paham betul seni menyuruh tanpa menyentuh.
Aturan dibuat ketat untuk rakyat kecil. Pelanggaran kecil ditindak tegas. Namun untuk urusan proyek besar, standar mendadak lentur.
Dalam episode “Chocolate with Nuts”, SpongeBob dan Patrick menjual cokelat dari pintu ke pintu. Mereka bekerja jujur, meski sering ditipu. Kontras dengan Tuan Krabs yang mencari celah untung tanpa keluar keringat.
Analogi ini terasa pas saat melihat masyarakat yang berusaha untuk bekerja dan mencari rezeki dengan jalan lurus, sementara pemimpinnya sibuk menyusun skema, kuasai anggaran, siapkan eksekutor, dan siapkan kasirnya.
PKL diminta patuh aturan, sementara penguasa mengatur aliran dana lewat orang lain. Semua berjalan seolah bersih, padahal jejaknya ada.
Istilah “melalui tangan orang lain” punya daya magis. Ia memberi jarak psikologis. Sang pemimpin merasa aman karena tidak memegang uang. Eksekutor merasa terlindungi karena bekerja atas perintah. Rantai ini rapuh, namun sering dipakai.
Saat tertangkap, narasi pun siap: tidak tahu, tidak terlibat langsung, tidak menerima uangnya, hanya lalai mengawasi.
Di Bikini Bottom, ini setara dengan Mr. Krabs berkata, “Bukan saya yang mengambil uang itu, kasir yang melakukannya.”
Banyak pemimpin rajin melarang rakyatnya melanggar aturan lewat surat edaran dan spanduk. Hukuman bagi pelanggaran kecil ditegakkan. Parkir liar ditertibkan. PKL digusur. Namun kebijakan besar diselimuti prosedur yang ruwet. Di balik keruwetan itu, peluang muncul. Standar ganda bekerja halus. Larangan berlaku ke bawah, kelonggaran ke atas.
###
Keserakahan justru memperpendek usia jabatan dan merusak warisan. Data KPK menunjukkan hukuman, penyitaan, dan stigma sosial tidak ringan. Keluarga ikut menanggung. Karier berhenti.
Tuan Krabs sering kalah karena kikirnya sendiri. Ia kehilangan karyawan, pelanggan, bahkan rasa hormat. SpongeBob, dengan kepolosannya, tetap berdiri karena jujur.
Namun tulisan ini bukan tentang Bikini Bottom dan jerat kekuasaan Tuan Krabs. Kebetulan, penulis merupakan warga Kota Semarang yang semalam terjebak hujan deras di kawasan Simpanglima yang banjir, dan mendengar pembicaraan orang lain tentang beberapa unggahan media sosial yang sedang ramai diperbincangkan tentang kota ini.
Sedangkan kabar dari Bikini Bottom, ada tenaga alih daya di beberapa dinas yang belum diperpanjang kontrak kerjanya. Dan rencananya kontrak kerja mereka baru akan diperpanjang setelah Lebaran, alasan yang tak diungkap: penghematan agar tak harus memberikan tunjangan hari raya.
Aih, padahal mereka adalah rakyat Bikini Bottom sendiri. Merekalah yang memiliki hak atas uang rakyat. Dan merekalah bagian dari yang memberikan mandat untuk pemimpin saat ini yang berkuasa di Bikini Bottom.
Mbok jangan terlalu tamak Tuan Krabs. Karena tamak jadi pangkal berbagai dosa lain seperti dengki, hasud, dusta, curang, dan kezaliman.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


