MENYUSURI jalan raya di Kota Semarang setiap pagi, dimulai dengan petualangan unik. Pengendara motor meliuk-liuk menghindari lubang jalan yang rusak, sementara sopir mobil mengumpat saat ban mereka bergoyang karena jalan tak rata. Ini bukan sekadar perjalanan ke kantor, tapi ujian ketangkasan sehari-hari. Kota ini, dengan segala pesonanya, punya ciri khas yang tak tergantikan: jalan rusak, banjir, dan kemacetan yang setia menemani.
Misal UNESCO punya kategori warisan budaya takbenda, lubang-lubang dan banjir di jalan utama Semarang pasti masuk nominasi. Mereka bukan cuma kerusakan atau masalah, tapi simbol ketangguhan warga yang sudah hafal setiap celah aspal serta titik banjir saat hujan.
Ambil contoh kemacetan di jalan-jalan utama seperti Jalan Kedungmundu, Ngaliyan, Sampangan, Jalan Supriyadi, Jalan Majapahit, Woltermonginsidi, Arteri Soekarno-Hatta, atau Jalan Arteri Yos Sudarso. Setiap pagi dan sore, arus kendaraan berhenti total, seolah-olah semua orang sepakat untuk meditasi bersama di tengah asap knalpot. Apalagi setelah hujan deras, ampun…
Data dari tahun 2025 menunjukkan lonjakan kendaraan pribadi yang tak sebanding dengan infrastruktur jalan, membuat macet jadi rutinitas tak terhindarkan. Dump truck yang melintas dari Mranggen, Kabupaten Demak menambah drama, dengan perbaikan jalan yang justru bikin antrean lebih panjang di Jalan Majapahit.
Saat musim hujan, mecat, banjir, dan jalan rusak seakan sepekat berkumpul, jadi rute perjalanan spiritual uji kesabaran warga.
Warga mau protes? Tapi apa daya, macet dan banjir ini sudah seperti tradisi lama yang tak boleh hilang. Kalau hilang, bagaimana kita ingat betapa sabarnya orang Semarang?
Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum kerap menyampaikan bahwa kerusakan tersebut sedang tangani, tapi perbaikan sering datang telat, seperti tamu undangan yang lupa alamat. Begitu juga dengan persoalan rob dan banjir, sejak beberapa tahun lalu pemerintah daerah selalu mengeluarkan statmen “Kami siapkan program penanganan”, meski sampai saat ini banjir masih saja menjadi momok.
Sampai akhir Mei 2025, Pemkot Semarang memang sudah perbaiki 25,8 kilometer ruas jalan, termasuk tambal sulam lubang-lubang itu. Tapi kenapa rasanya lubang baru selalu muncul lebih cepat daripada yang ditambal? Mungkin karena proyek publik di sini suka main tambal sulam, seperti menjahit baju dengan benang yang mudah putus. Hasilnya, jalan yang baru ditambal dengan aspal sudah rusak lagi karena aspalnya belum punya chemistry hubungan dengan seniornya.
Smart City
Sekarang, mari kita bicara soal klaim Semarang sebagai kota pintar. Program Smart City digadang-gadang sejak lama, dengan fokus pada teknologi informasi, lampu jalan pintar, dan pengelolaan sampah.
Ada proyek Smart PJU berbasis IoT untuk penerangan jalan, yang katanya hemat energi dan mudah dipantau. Tapi di lapangan, realitanya beda cerita. Jalanan seperti medan tempur, dengan lubang yang siap menjebak ban motor, dengan aspal yang mudah mengelupas setelah tergenang, dan buruknya sistem drainase jalan yang mengubah jalan jadi aliran sungai baru. Mana pintarnya kalau warga harus pintar-pintar menghindar lubang sambil cek aplikasi lalu lintas?
Mungkin “smart” di sini artinya pintar dalam improvisasi, seperti sopir angkot yang hafal jalan pintas untuk hindari macet di Jalan Siliwangi.
Bahkan, truk overload bikin Jalan Woltermonginsidi rusak parah, dan warga cuma bisa mengeluh sambil tetap setia pada penderitaan.
Kalau dipikir-pikir, jalan rusak, banjir, dan macet ini sudah jadi bagian dari identitas Semarang. Mereka ajarkan warga sabar, kreatif, dan tangguh. Tanpa lubang, bagaimana anak muda belajar slalom di jalan? Tanpa macet, mana ada waktu buat scroll ponsel sambil nunggu keluaran SGP keluar? Tanpa banjir, ah ide sindiran sudah habis.
Tapi serius, kalau terus begini, kota ini bakal kehilangan daya saing. Perbaikan harus lebih cepat dan tahan lama, bukan cuma tambal sementara. Mungkin saatnya anggarkan lebih banyak untuk infrastruktur, daripada untuk membiayai tim siluman, tim percepatan, atau tenaga ahli OPD yang tak jelas dan memakan anggaran yang buanyaknya minta ampun.
Akhir kata, yuk kita usulkan jalan rusak dan banjir Semarang jadi warisan budaya. Biar turis yang datang bangga dengan foto-foto di lokasi banjir. Siapa tahu, ini jadi atraksi baru: tur off-road di tengah kota.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)