HALO BANJARNEGARA – Desa Jenggawur Kecamatan Banjarmagu, Kabupaten Banjarnegara sudah lama dikenal sebagai sentra beras premium. Bahkan desa ini dinobatkan sebagai penyangga pangan.
Meski hanya memiliki luas lahan sawah sekitar 121 hektare, namun beras Jenggawur mampu mendongkrak perekonomian petani lantaran harga beras lebih tinggi ketimbang harga beras lain di Banjarnegara.
Beras Jenggawur disebut setara dengan beras Delanggu dari Klaten, Beras Pandan Wangi dari Cianjur dan juga beras Brastagi dari Sumatera Utara yang sudah lebih dulu dikenal sebagai beras premium istimewa.
Koordinator Penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Banjarmangu, Cahyana Sembada menyampaikan, keunggulan beras Jenggawur lantaran faktor tanah.
Di mana tekstur tanahnya berbeda. Begitu juga dengan air yang yang mengairi sawah tersebut berasal dari Sungai Merawu.
“Itulah yang membuat rasa nasinya lebih enak dibandingkan daerah lain, meski jenis varietasnya sama,” ujar Cahyana kepada awak media, Rabu (14/1/2026).
Para petani di Desa Jenggawur mengandalkan varietas padi Inpari 32 sebagai primadona baru menggantikan IR 64 disamping varietas Barito.
Cahyana juga menyebut, luasan baku sawah 121 hektare, produktivitasnya pun cukup menjanjikan, yakni rata-rata 5 ton hingga maksimal 7,5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.
”Harganya pun cenderung lebih tinggi. GKP di tingkat petani minimal Rp.6.500 per kilogram, sedangkan harga berasnya di pasar bisa mencapai Rp 14.000 hingga Rp 16.500 per kilogram,” jelasnya.
Selain itu padi Jenggawur diburu oleh para konsumen. Bahkan sejumlah pedagang dari luar daerah seperti Wonosobo, Semarang dan Jakarta banyak berburu padi Jenggawur.
Sementara Kepala Desa Jenggawur, Pranyoto dengan bangga mengatakan, beras premium dari desanya banyak dikonsumsi oleh rumah makan besar di sejumlah daerah di Jawa Tengah.
“Rata-rata bilang rasanya lebih enak, pulen dan tidak cepat basi,” ujarnya, seraya menambahkan jika pesanan lokal juga terus meningkat.
Pranyoto juga mengungkapkan, dalam dua tahun terakhir, hasil panenan padi Jenggawur mengalami penurunan. Hal itu menurutnya akibat dari rusaknya bendungan Clangap.
”Alhamdulillah, para petani terbantukan saluran air yang dibuat warga dan Pemerimtah Kabupaten Banjarnegara di atas bendungan Clangap,” ungkapnya.
Kendati hasil panen menurun, lanjut Kades Jenggawur, namun bisa memenuhi kebutuhan pangan lokal.
“Kami berharap bendungan Clangap bisa segera dibangun lagi, mengingat satu-satunya sumber air untuk memenuhi kebutuhan sekitar 800 hektare lahan sawah yang tersebar di tujuh Desa di Kecamatan Banjarmagu, Madukara dan Wanadadi,” imbuhnya.
Pranyoto juga menyampaikan, untuk meningkatkan pendapatan petani, pihaknya berencana memperkuat peran Bumdes dan bersinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
”Wacananya ke depan kita ingin kumpulkan jadi satu produk unggulan desa melalui Bumdes. Tujuannya satu yaitu agar petani lebih sejahtera dan harga tetap stabil bagi masyarakat Banjarnegara,” jelasnya.
Sedangkan untuk menjaga kualitas dan meningkatkan produksi, Dinas Pertanian Banjarnegara kini mulai memperkenalkan penggunaan drone penyemprot pupuk dan pestisida.(HS)


