in

Indonesia Tipitaka Chanting di Magelang Sarat Nilai Moderasi Beragama

 

HALO MAGELANG – Sejumlah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menilai Gelaran Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2566 BE/2022 M, sarat dengan nilai-nilai moderasi beragama.

Pendapat itu antara lain disampaikan M Razi Muda Putra, mahasiswa UIN Yogyakarta, yang sedang melaksanakan KKN Tematik di Mendut 1 dan Mendut 2.

“Kami 19 orang sedang melaksanakan KKN di Mendut 1 dan Mendut 2. Diundang dalam penutupan ITC ini,” kata M Razi Muda Putra, dalam penutupan ITC dan Asalha Mahapuja 2566 BE/2022M, Minggu (10/7/2022).

Razi, begitu dia disapa, merupakan mahasiswa semester 6, Fakultas Ushuluddin Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Dia merasa senang diundang dalam acara ini.

“Seneng banget, bangga. Moderasi nya luar biasa. Bahkan fasilitasnya luar biasa,” kata Razi, seperti dirilis Kemenag.go.id.

Razi juga mengakui bahwa penyambutan Panitia ITC sangat memuaskan, para tamu disambut baik. Mengikuti acara ITC bagi Razi merupakan pengalaman pertamanya.

“Ini pengalaman perdana saya. Dan menjadi bagian dari KKN Tematik mengusung tema Moderasi Beragama,” kata Razi.

Bagi Razi, moderasi beragama adalah sikap beragama yang netral terhadap nilai-nilai keagamaan.

Sejalan dengan Razi, mahasiswi semester 6 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Biologi, Alisia Kurnia Ramadhani juga menyampaikan bahwa mengikuti acara ITC ini menjadi pengalaman pertamanya.

“Bangga menjadi bagian dari acara ini. Karena banyak perwakilan agama-agama berkumpul, bahkan umat Islam bisa berada di sini. Ini bentuk nilai toleransi yang cukup bagus,” kata Alisia.

Untuk diketahui, gelaran Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja 2566 BE/2022 M, yang sudah berlangsung sejak 8 Juli 2022, berakhir pada Minggu (10/7/2022).

Upacara penutupan berlangsung semarak, dihadiri masyarakat dan tamu undangan yang memenuhi Taman Lumbini pelataran Candi Borobudur.

Tidak hanya Umat Buddha, tokoh dari beragam, tokoh pendidikan, budayawan, dan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) juga hadir, terutama mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tampak hadir juga, Menag (2014 – 2019) Lukman Hakim Saifuddin dan Ibu Trisna Willy, Rektor UIN Suka Yogya, Al Makin, Ketua MUI Yogyakarta, Machasin, perwakilan FKUB Jateng, perwakilan Pdt dari Yogyakarta dan Semarang, serta tokoh lintas agama.

ITC dan Asalah Mahapuja 2566 BE/2022M ini diselenggarakan oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) bersama Keluarga Buddhis Theravada Indonesia, yakni Astinda, Magabudhi, Wandani dan Patria).

Salah satu yang menarik dalam ITC adalah ditempatkannya Kereta Kencana Mahadhatu, di Taman Lumbini pelataran Candi Borobudur. Kereta tak berkuda, berwarna keemasan itu, dijaga empat belas pengawal berpakaian lengkap. Mereka bagaikan mengawal istana raja di gerbang Kerajaan Majapahit.

Kereta Kencana Mahadhatu, dibuat pada 2019, di Sanggar Nakula Sadewa di bawah supervisi I Nyoman Alim Mustapha, seorang seniman kondang dari Magelang, dan didesain khusus oleh YM Sri Pannyavaro Mahathera.

Biasanya Kereta Kencana Mahadhatu digunakan untuk membawa Mahadhatu (Relik Agung) Buddha Gotama dari Vihara Mendut menuju Candi Borobudur pada setiap Asalha Puja. Namun kali ini, karena pandemi Covid-19 tidak dilakukan untuk prosesi arak-arakan.

Cukup menarik perhatian bagi para pengunjung candi Agung Borobudur, Kereta Kencana Mahadhatu ini dikeluarkan satu tahun sekali dan kali ini bertepatan dengan perayaan Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asadha Mahapuja 2566 BE yang digelar oleh Sangha Theravada bersama keluarga Buddhis Theravada Indonesia.

Tidak sedikit wisatawan lokal dan manca negara yang terkagum melihat Kereta Kencana Mahadhatu, sehingga merekapun tak menghilangkan kesempatan untuk melihat dan sekaligus berswafoto.

Ketua pelaksana ITC dan Asadha Mahapuja 2566 BE, Lie Harja Sigit menjelaskan bahwa Kerata Kencana Mahadhatu memiliki makna filosofis yang mendalam berhiaskan ornamen relief Jataka dari Candi Borobudur.

“Nilai sakral dari kereta ini adalah bercerita tentang kehidupan masa lampau Bodhisatta Siddhattha. Ini telah diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Disitu terdapat, relief Jataka yang diletakkan di kereta kencana adalah Mora Jataka, Vattaka Jataka, Sasa Jataka, dan Vessantara Jataka,” kata Lie Harja Sigit, saat ditemui di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (9/7/2022).

“Bagian atas Kereta Kencana Mahadhatu diberi mahkota dengan chatra (payung) bertingkat tiga, yang memiliki arti pujaan kepada Tiratana,” sambung Lie Harja Sigit.

Lie Harja Sigit juga menjelaskan bahwa Kereta Kencana memiliki mahkota dengan chatra (payung) bertingkat tiga yang berarti puja kepada Tiratana artinya tiga permata, di antaranya Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. (HS-08)

Pemkab Batang Pastikan Puluhan Hewan Kurban Bebas PMK

Tak Ada Kasus PMK, Petugas Temukan Cacing Hati pada Hewan Kurban