in

Haul Mbah Syafi’i Piyoro Negoro: Merayakan Warisan dan Kebudayaan Lokal di Semarang

Santri membawa replika kitab raksasa merupakan peninggalan Mbah Syafi'i Piyoro Negoro untuk diarak dalam event kirab budaya, Minggu (20/4/2025).

DI bawah langit pagi yang cerah, ribuan orang berkumpul di Pondok Pesantren Luhur Dondong, Mangkang, Kota Semarang, untuk merayakan Haul Mbah Syafi’i Piyoro Negoro, seorang ulama besar yang meninggalkan jejak mendalam dalam penyebaran Islam di Indonesia. Acara yang berlangsung pada Minggu (20/4/2025) ini bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga sebuah perayaan meriah yang menampilkan kekayaan budaya lokal melalui prosesi kirab budaya.

Kirab ini menjadi sorotan utama, menampilkan replika perahu, masjid, hingga kitab suci, serta kesenian lokal yang mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Peserta kirab memulai perjalanan mereka dari Terminal Mangkang, melintasi Jalan Raya Mangkang, dan berakhir di Pondok Pesantren Luhur Dondong. Acara ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat, perwakilan Pemkot Semarang, dan tamu undangan lainnya.

Pj Sekretaris Daerah Kota Semarang, M Khadik, yang turut hadir dalam acara ini, menyampaikan apresiasi kepada panitia yang telah menyelenggarakan acara dengan meriah. “Sosok Mbah Syafi’i bukan hanya pendiri Ponpes Luhur sejak 1609, tetapi juga seorang pejuang melawan penjajah. Haul ini adalah penghormatan bagi beliau,” ujarnya.

Khadik mengungkapkan rencana Pemkot Semarang untuk memasukkan Haul Mbah Syafi’i ke dalam agenda budaya tahunan tingkat kota. “Dengan dukungan penuh, acara ini bisa menjadi lebih meriah dan membantu menggerakkan perekonomian masyarakat,” tambahnya.

Kadarlusman, tokoh masyarakat setempat yang juga Ketua DPRD Kota Semarang menyatakan, bahwa acara tahun ini lebih meriah berkat peserta dari berbagai wilayah yang mempersembahkan kebudayaan lokal mereka. “Kami berharap Pemkot Semarang bisa mengelola acara ini lebih lanjut, untuk menggali potensi budaya di tingkat kelurahan dan RW,” ujarnya.

Sebagai Ketua DPRD, Pilus, sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa Mbah Syafi’i, pendiri Ponpes Luhur Dondong, adalah tokoh yang berperan penting dalam syi’ar Islam dan perlawanan terhadap penjajah di era kolonial. “Mbah Syafi’i layak diakui sebagai pahlawan nasional,” tegasnya.

Dalam kirab, kitab peninggalan Mbah Syafi’i yang tersimpan rapi di Ponpes Luhur Dondong, Wonosari, Kecamatan Ngaliyan turut ditampilkan, menambah semarak acara yang juga diisi dengan lomba Rebana tingkat Jawa Tengah.

Dengan partisipasi 49 kelompok dari berbagai RW dan kelurahan, termasuk Ngaliyan Tugu, Mijen, dan Semarang Barat, acara ini tidak hanya merayakan warisan Mbah Syafi’i tetapi juga memperkuat ikatan komunitas dan kebanggaan budaya lokal. Pilus mengungkapkan, bahwa jasa Mbah Syafi’i dalam syi’ar agama dan perjuangan melawan penjajah, menempatkannya sebagai pahlawan yang layak dikenang sepanjang masa.(HS)

Pererat Toleransi dan Kepedulian Antarumat Beragama, Polres Sragen Gelar Minggu Kasih di Gereja

Tekan Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan, Wali Kota Semarang Gandeng Paralegal Muslimat NU