HALO SEMARANG – Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag, Eny Retno Yaqut, meminta jajarannya menjadi agen penguatan moderasi beragama. Agen moderasi beragama, menurut dia dapat dimulai dari pemberian pendidikan toleransi pada anak-anakdi rumah.
Pesan ini disampaikan saat Eny, ketika memberikan sambutan pada Silaturahmi dan Pembinaan DWP UP Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Balai Diklat dan Litbang Keagamaan se-Indonesia di Pusdiklat Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (18/11/2022).
“Kita punya kewajiban menyukseskan program penguatan moderasi beragama. Kita harus bisa jadi contoh, menjadi agen penguatan moderasi beragama,” kata Eny Yaqut, seperti dirilis kemenag.go.id.
Menurut Eny, sebagai ibu, pengurus dan anggota, insan DWP juga harus dapat membekali anak-anak sejak dini, agar tumbuh menjadi pribadi yang bisa saling menghargai sesama, meski berbeda.
“Kita perlu memberi dasar pengetahuan kepada anak-anak bahwa kita diciptakan berbeda-beda,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.
“Ajarkan ke anak-anak, bahwa Tuhan mengajarkan kita untuk bisa menerima perbedaan dan menganggapnya sebagai anugerah yang indah. Indonesia multikultural, dan anak perlu dibekali tentang ini,” sambungnya.
Berbicara penguatan Moderasi Beragama, Eny memaparkan empat indikatornya. Pertama, memperkuat komitmen kebangsaan.
“Kita harus menjadi pribadi yang dapat melihat Indonesia sebagai rumah bagi semua,” ujarnya.
Kedua, toleran. “Orang moderat akan menghargai perbedaan pendapat, wacana dan apapun juga,” terangnya.
Ketiga, menghargai budaya lokal. Artinya, kata Ibu Eny, tidak apriori dan antipati dengan budaya yang ada di wilayahnya.
“Kita menghargai kalau masyarakat mengadakan upacara adat, tanpa harus mencampuradukkan dengan keyakinan keagamaan kita,” sebutnya.
Keemoat, anti kekerasan. Artinya, tidak pernah menggunakan kekerasan dalam bentuk apapun juga, baik verbal maupun fisik, untuk memaksakan kehendaknya pada orang lain.
“Kepada ibu yang jadi ustadzah, saya titipkan nilai-nilai baik ini untuk disampaikan ke jemaahnya. Ibu yang jadi guru dan dosen, sampaikan ini ke anak didiknya agar terwujud sikap saling menghormati atas setiap perbedaan,” pesannya. (HS-08)