HALO SEMARANG – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Diah Pitaloka mendorong Kementerian Agama terus melakukan penguatan program moderasi, termasuk di antaranya melalu media sosial.
Dengan demikian moderasi beragama, yang memberi jalan tengah dalam dialog-dialog literasi keagamaan, dapat tersampaikan lebih masif secara virtual.
Hal ini sekaligus untuk mengedukasi masyarakat, mengenai toleransi antarumat beragama dalam kehidupan sosial.
Menurut Diah, kecenderungan dialog yang terbentuk masyarakat melalui media sosial saat ini justru homogen, di tengah banyaknya informasi. Sehingga ketika memasuki ruang dialog lain, seringkali menimbulkan perdebatan tajam.
Hal ini, lanjut Diah perlu ditanggulangi dengan moderasi yang dibangun, dengan penuh literasi akurat.
Penyampainya pun harus orang-orang yang kompeten, salah satunya dari Kementerian Agama. Adapun wadahnya, juga melalui media sosial.
“Kami mendukung penuh upaya-upaya yang dilakukan Kementerian Agama, melalui program moderasi, sehingga akan sangat membantu, mungkin lama-lama metodenya berkembang, saya pikir bagus juga kalau dilakukan di media virtual supaya lebih luas lagi (penyampaian literasi beragama),” kata Diah baru-baru ini, seperti dirilis dpr.go.id.
Lebih lanjut Legislator F-PDI Perjuangan itu, meminta Kementerian Agama, untuk terus melakukan inovasi-inovasi, dalam membangun proses moderasi umat beragama melalui internet.
Pasalnya, saat ini, internet merupakan wadah berbagai informasi, yang tidak jarang menimbulkan masalah intoleransi antarumat beragama dan sosial, hingga dapat menyebabkan perpecahan.
Masalah yang timbul dari informasi bebas di internet, juga bukan hanya pada kehidupan sosial secara umum, melainkan juga kepada perkembangan anak-anak dan trafficking atau perdagangan manusia.
Semua itu terjadi, karena masyarakat Indonesia masih lemah dalam hal literasi informasi etika komunikasi, interaksi, pandangan-pandangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab itu Diah berpendapat masyarakat perlu diedukasi mengenai keberagaman Indonesia yang sebetulnya merupakan kekayaan dan kekuatan bangsa jika persatuan tetap terjaga melalui internet.
“Kami berharap akan ada era saling toleransi yang kuat, saling menghargai, menghormati perbedaan di antara masyarakat yang justru akan memperkuat Indonesia,” katanya. (HS-08)