HALO SEMARANG – Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang menargetkan tingkat keamanan pangan di Kota Semarang menjadi sebesar 90 persen. Sebab, saat ini peringkat keamanan pangan baru diangka 87,3 persen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih menjelaskan, bahwa target tahun depan tingkat keamanan pangan di Kota Semarang mencapai 90 persen, mengingat saat ini telah diangka 87,3 persen.
“Untuk mencapai target tersebut, kami berupaya untuk terus melakukan sosialisasi terhadap para pelaku usaha, baik UMKM, pedagang pasar tradisional sampai pasar modern di Kota Semarang. Termasuk sejumlah ahli gizi yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG),” paparnya, dalam acara FGD yang digelar Dinas Ketahanan Pangan untuk Memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia Tingkat Kota Semarang di Aula Balaikota Semarang, Kamis (26/6/2025).
Menurutnya, kondisi produk pangan dari produsen yang dijual ke masyarakat mulai membaik. “Misalnya, adanya penurunan produk mie basah yang masih mengandung zat- zat berbahaya seperti borax dan formalin ini makin berkurang, dan semoga kedepan sudah bisa habis. Termasuk ikan asin ada yang dicampuri dengan bahan formalin tujuannya agar bisa bertahan lama,” katanya.
Namun, kata Endang jika aturan tersebut telah disosialisasikan untuk ditaati, tapi pedagang tidak mau berubah, arahan yang disampaikan dari pak direktur keamanan pangan tadi untuk diambil tindakan tegas. “Karena membahayakan tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit sehingga merugikan kesehatan masyarakat,” katanya.
Endang menjelaskan, pihaknya sebelumnya, telah melakukan kegiatan Pasar Pangan Segar dan Aman (Pas Aman). “Pasar yang aman ini diinisiasi mulai di Pasar Johar, kemudian baru disusul di Pasar Pedurungan. “Selain dua pasar ini, diharapkan, akhir tahun 2025 ini semua pasar di Kota Semarang bisa didorong dan juga memenuhi kriteria sebagai Pasar segar dan aman. Sehingga bisa dijadikan acuan masyarakat untuk berbelanja di semua pasar di Kota Semarang karena di dalamnya telah menjamin keamanan pangannya,” ungkapnya.
“Untuk mendorong keamanan pangan baik dari cemaran zat yang berbahaya seperti kimia, fisika dan biologi di bahan pangan kami pun memberikan pendampingan agar pelaku usaha mengurus izin edar pangan. “Pelaku pasar bisa mendaftarkan untuk mendapatkan izin edar, kami juga menerbitkan register putih, dengan bantuan kemasan agar pedagang bisa naik kelas. Jika mereka berkembang, baru ditingkatkan agar produk pangannya bisa ditujukan untuk pasar ekspor,” jelasnya.
Selain itu, para ahli gizi MBG telah dilatih untuk mengambil sampel makanan di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Termasuk, untuk melaporkan menu, sebelum terdistribusi agar aman dikonsumsi. “Kami juga memberikan bantuan berupa laboratorium kit untuk mudahkan pemeriksaan terhadap MBG,” pungkasnya.(HS)