in

Dinar Indah Banjir Lagi, Harus Ada Relokasi Sementara Warga Terdampak

Banjir akibat tanggul di Sungai Babon yang jebol di Perumahan Dinar Indah RT 6 RW 26, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang jebol Sabtu (18/2/2023) sore.

HALO SEMARANG – Rumah warga di Perumahan Dinar Indah, Meteseh, Kecamatan Tembalang lagi-lagi tergenang banjir lantaran tanggul sungai Babon yang berhulu di Kabupaten Semarang itu jebol dan airnya melimpas ke permukiman warga cukup tinggi pada Sabtu (18/2/2023). Hal ini ditanggapi serius oleh Sekretaris Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono. Dia mengatakan, pihaknya meminta Pemerintah Kota Semarang segera melakukan relokasi sementara bagi warga terdampak banjir karena tanggul sungai jebol lagi.

“Apalagi mengingat saat ini cuaca musim hujan dengan intensitas hujan masih tinggi. Dan khusus untuk warga terdampak banjir, diajak rembugan bersama Pemkot Semarang dan warga harus ada relokasi sementara, mengingat warga saat ini terus menerus was-was dan merasa khawatir tiap kali hujan turun,” terangnya, Minggu (19/2/2023).

Dirinya juga mendukung warga direlokasi karena kondisi tempat tinggalnya selalu diterjang banjir, misalnya bisa ditempatkan sementara di rumah susun (rusun) atau dengan sistem tukar guling lahan.

“Lokasi Dinar Indah dijadikan untuk embung atau wilayah resapan air, sedangkan wilayah yang aman dari banjir untuk lahan relokasi warga,” imbuhnya.

Namun kalau ada warga meminta relokasi, kata dia, tidak bisa juga dalam waktu dekat ini, karena akan terkendala dengan anggaran. “Bagi yang setuju direlokasi, sementara dipindah di rusun atau dibangunkan rusun, namun pembangunan rusun masih terkendala karena perlu anggaran dari pusat, ataupun dimasukkan ke APBD tahun 2024 nanti,” paparnya.

Pihaknya juga meminta Pemerintah Kota Semarang untuk segera menangani warga terdampak banjir, baik secara jangka panjang dan jangka pendek.
“Adanya banjir di Dinas Indah sudah berkali-kali, ini harus ditangani secara jangka panjang maupun jangka pendek. Kalau jangka panjang, tentu dengan melakukan normalisasi atau pelebaran sungai Pengkol dan Babon yang hulunya di wilayah Ungaran, sedangkan hilirnya berada di Kota Semarang. Itu juga menjadi skala prioritas pembangunan Kota Semarang, karena tiap tahun ada kejadian bencana banjir,” ujarnya.

Memang untuk normalisasi atau pelebaran sungai kewenangannya berada di pemerintah pusat, atau BBWS Pemali-Juana. “Misalnya, untuk melakukan normalisasi maupun pengerukan sedimentasi sungai. Pemkot hanya bisa meninggikan parafetnya atau diperkuat lagi,” jelasnya

Menurut Politisi PKS ini, memang selayaknya di wilayah Meteseh dan sekitarnya nantinya perlu dibuatkan embung, untuk menampung air dari warga sekitar. “Kalau jangka pendek, bisa ditangani menggunakan dana bantuan tidak terduga (BTT) milik Pemkot Semarang, yang skalanya tidak terlalu besar. Seperti bantuan logistik dan memperbaiki lagi parafetnya,” pungkasnya.

Sementara, Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti meminta warga Perumahan Dinar Indah, Meteseh, Tembalang bersabar menunggu rencana relokasi. Ita, sapaan akrab Hevearita G Rahayu mengakui, Pemerintah Kota Semarang memang sedang berupaya menyiapkan tempat relokasi bagi warga di Perumahan Dinar Indah yang rumahnya kerap diterjang banjir.

Namun, pihaknya tidak bisa langsung membangun mengingat anggaran terbatas. “Kalau minta cepat. Kan ya nanti, sabar. Kami tidak bisa mengeluarkan anggaran untuk membangun rumah mereka,” ujar Ita, Jumat (17/2/2023).

Ita memaparkan, pemkot sedang melakukan pengajuan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk pembangunan rumah susun (rusun). Maka, dia meminta warga untuk bersabar menunggu pengajuan tersebut.

Di sisi lain, kata Ita, Pemkot Semarang juga berupaya memperkuat tanggul agar tidak kembali jebol. Pihaknya pun tengah menganalisa kondisi hulu sungai.

“Saya sampaikan ke Sekda kenapa setiap kali hujan selalu peres. Ada sesuatu yang terjadi di hulu. Ini hampir beberapa hari peres. Kemarin tidak peres tapi tanggulnya ada yang bocor,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ita mengatakan, perumahan tersebut sebenarnya tidak mengantongi izin. Selain perumahan Dinar Indah, sebuah perumahan di Rowosari juga belum berizin. Terlebih, perumahan tersebut berada langsung di pinggir sungai.

“Kalau ada yang keberatan ya ke pengembang. Sebenarnya belum ada pengajuan perizinan. Membangun langsung di pinggir sungai. Adanya tembok seperti tembok rumah. Sehingga, risiko,” paparnya.

Dia meminta kesadaran pengembang menaati peraturan yang berlaku. Pengembang harus memenuhi proses perizinan terlebih dahulu sebelum menawarkan ke konsumen. Jika lokasi menyalahi aturan, perizinan tentu tidak akan terbit.

Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Kota Semarang, Ali mengatakan, lokasi rusun berada di Kelurahan Rowosari, Tembalang. Di sana, terdapat lahan bengkok seluas dua hektare. Lahan tersebut belum terpakai dan dinilai cukup untuk membangun rusun.

Dia mengakui, terkait sosialisasi pembangunan rusun memang belum dilakukan karena perencanaan pembangunan baru dalam tahap usulan. Pihaknya akan segera melakukan sosialisasi kepada warga jika perencanaan tersebut sudah matang.

“Yang jelas, kami mempersiapkan diri dulu. Kalau disetujui, nanti dibangunkan oleh PUPR,” terangnya.

Rusun ini, lanjut Ali, memang diutamakan untuk warga terdampak banjir. Namun menurutnya, tidak menutup kemungkinan dibuka untuk umum jika pemerintah pusat membangunkan lebih dari jumlah warga yang terdampak.

“Kami meminta dua twin blok dengan tiap blok sebanyak 44 unit dengan fasilitas yang lengkap. Dan warga tinggal masuk saja,” ungkapnya.(HS)

Enam Podium Diraih Atlet ISSI Kendal di Ajang ‘Kandang Pitik Fun Race’ di Wonogiri

Berikan Informasi Perguruan Tinggi, Imaken Campus Expo Digelar di Kendal