KONDISI makam salah satu ulama Mbah Luhung atau Habib Luhung Alwi bin Hasan bin Toha bin Yahya, di Jalan Tunggu Raya Timur, Perum Cluster Dahlia, Meteseh, Tembalang, Kota Semarang terlihat nampak kurang terawat. Selain tidak ada papan nama yang mencolok sebagai penanda makam, beberapa fasilitas pendukung yang dibangun pun mulai rusak karena termakan usia. Bahkan, untuk biaya perawatan saat ini hanya mengandalkan sedekah dari peziarah.
Padahal, sosok Mbah Luhung merupakan tokoh ulama penyebar agama Islam di masa lampau, khususnya di wilayah Tembalang, Kota Semarang. Dari berbagai sumber, Habib Luhung Alwi bin Hasan bin Toha bin Yahya, dimakamkan di Jalan Tunggu Raya Timur, Perum Cluster Dahlia, Meteseh. Kini kondisi kompleks makamnya membutuhkan perhatian berupa perawatan oleh Pemerintah kota Semarang.
Juru kunci area pemakaman Mbah Luhung, Ahmad Susanto Albari menjelaskan, makam yang dikenal sebagai Mbah Luhung ini merupakan putra dari Habib Hasan dan masih memiliki hubungan darah alias nasab dengan Habib Toha atau Mbah Depok yang makamnya ada di Jalan Depok Kelurahan Kembangsari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Revitalisasi dari Pemkot Semarang, sebenarnya sudah dilakukan pada tahun 2019 lalu.
“Area pemakaman ini ditemukan tahun 2017 lalu oleh Habib Lutfi bin Yahya, sebenarnya tahun 2013 sudah ditemukan makam Mbah Luhung, dan baru diketahui masih keluarga Habib Lutfi pada tahun 2017 itu,” kata Ahmad Susanto Albari, Minggu (28/5/2023).
Sebelum ditemukan, lanjut pria yang akrab disapa Gus Susanto, Mbah Luhung merupakan kakek dari Habib Lutfi. Dahulu pada tahun 2013, sebelum dilakukan pembangunan area pemakaman ini masih kawasan hutan dan berada di dekat sungai.
“Karena dulu belum tahu ini makam siapa, tetap saya rawat dan alhamdulilah ketemu ternyata kakek dari Abah (Habib Lutfi),” paparnya.
Sekitar tahun 2018 dan 2019, area pemakaman dilakukan revitalisasi, misalnya pavingisasi dan bangunan lainnya. Namun karena termakan usia, akhirnya banyak atap atau eternit yang rusak dan jebol.
Gus Susanto sendiri berharap Pemkot Semarang bisa memberikan bantuan berupa pembangunan ulang fasilitas pendukung. Tujuannya agar peziarah bisa nyaman, dan bisa dijadikan kawasan wisata religi.
“Peziarah sebenarnya banyak, mohon bisa kembali diperhatikan agar wisatawan juga nyaman. Selain itu butuh dibangun pagar, karena banyak anak-anak yang bermain di sungai dan cukup membahayakan,” tambahnya.
Untuk perawatan sehari-hari, dia mengaku hanya mengandalkan sedekah dari peziarah yang datang setiap hari dan kemudian dikumpulkan. Itupun jumlahnya tidak seberapa, kadang terkumpul Rp 100 ribu, kadang lebih. Uang sebesar itupun habis untuk perawatan dan membayar listrik yang tiap bulannya sekitar Rp 100 ribu.
“Saya berharap kepada pemkot untuk lebih memperhatikan, misal mengganti lampu dan perbaikan lainnya. Apalagi kamar mandi yang ada masih belum jadi,” pungkasnya.
Inventarisasi
Terkait kondisi makam ulama yang kurang terawat, Sekretaris Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Murni Ediati mengatakan, Pemerintah Kota Semarang siap untuk mensupprot apa yang bisa dibangun nantinya. Apalagi sebagai ulama di Kota Semarang, Mbah Luhung merupakan tokoh ulama besar.
“Bagaimanapun beliau salah satu ulama besar dan memiliki sejarah bagi perkembangan Kota Semarang. Kami sedang melakukan inventarisasi semua makam ulama berkenaan dengan program dalam merawat makam ulama. Ternyata ada banyak makam ulama, sementara ini yang telah kami inventarisasi dan ada 400 makam yang terdata. Lokasi makam tersebut ada yang di dalam rumah warga dan kompleks pemakaman umum,” jelasnya, Minggu (28/5/2023).
Saat ini, pihaknya masih konsen pembangunan di makam ulama yang sering dikunjungi peziarah, seperti makam Sholeh Darat, nantinya akan merambah pembenahan ke makam lainnya seperti Sunan Ing, Makam ulama Syafii dan makam mbah Kiai Genuk di kompleks eks-Wonderia.
“Kita sudah ada skala prioritasnya, tapi untuk makam Mbah Luhung ini akan segera kita cek lokasinya, dan bisa mensupprot apa yang dibutuhkan untuk dibangun nantinya,” kata Pipie, sapaan akrabnya.
Sebagai informasi, Habib Luhung Alwi merupakan anak Habib Hasan yang ke-4 dan konon meninggal dunia di usia 41 tahuh. Belum banyak catatan sejarah yang bisa diungkap untuk saat ini. Namun banyak peziarah yang kerap datang ke makam tersebut, biasanya merupakan jamaah pengajian Habib Lutfi.(HS)