HALO SALATIGA – Masyarakat Kota Salatiga dan sekitarnya, memadati di depan Balai Dukuh Nanggulan, Kelurahan Kutawinangun Kidul, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, belum lama ini, untuk memeriahkan Grebeg Kutowinangun Kidul.
Acara tersebut merupakan puncak kegiatan pada hari sebelumnya, seperti lomba drumblek dan pasar UMKM yang menyediakan beberapa kuliner khas.
Kegiatan Grebeg ini juga berkolaborasi dengan kelompok KKN Unnes Giat 6, dengan upaya pengenalan budaya di Kutowinangun Kidul, serta salah satu internalisasi nilai-nilai Pancasila.
Mulai ziarah ke makam para pahlawan seperti Johar Manik, Suryomertonggo dan para pahlawan, serta bersih-bersih tempat ibadah untuk mewujudkan lingkungan bersih dan sehat.
“Tujuan acara ini (Grebeg Kutowinangun Kidul-red) untuk melestarikan kebudayaan, ucapan syukur terhadap hasil bumi dan UMKM daerah setempat. Selain itu juga menilik kembali nilai-nilai historis dari perjuangan Pangeran Diponegoro di Salatiga,” kata mahasiswa KKN Unnes Giat 6, Maulana Nurul Izza.
Grebeg Kutowinangun Kidul itu, dihadiri Pj Wali Kota Sinoeng Noegroho, perwakilan dari DPR RI, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Ketua DPRD, Sekda, Camat Tingkir yang diwakili oleh Sekcam beserta jajarannya, tokoh agama dan masyarakat Kota Salatiga.
Dalam acara tersebut, terdapat acara kirab budaya dengan rute dimulai dari Jl Senjoyo, menuju ke Jl Nanggulan, dan berpusat di panggung kehormatan. Acara diawali oleh napak tilas perjalanan Pangeran Diponegoro dengan Johar Manik dikali banteng.
Menurut Nurul, prosesi napak tilas tersebut dipimpin ketua DPR Kota Semarang dan diikuti oleh pejabat pemerintah setempat dan kelompok KKN Unnes Giat 6 Kelurahan Kutowinangun Kidul. Setelah itu, ada Kenduri Ageng yang langsung dipimpin oleh PJ Walikota dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng.
“Tumpeng sebagai perumpamaan berbentuk kerucut yang mengandung makna mengarah kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pusat dari ungkapan syukur kerukunan, persaudaraan, serta toleransi,” ujarnya.
Selain itu, terdapat pula acara lainnya yang tak kalah menarik seperti Tari Bulkiyo Johar Manik, Hadrah Rebana Selawatan, kirab budaya dari perwakilan setiap RW.
Ia mengatakan, ada pentas seni jaranan yang dimeriahkan oleh Karya Budaya Rukun Sentosa (KBRS) mengajak generasi milenial untuk aktif dalam pelestarian budaya dan sejarah.
Pada grebeg tahun ini, setiap RW menampilkan karya seni dengan rangkaian yang menarik, seperti halnya RW7 kirab bertemakan “Bali Majapahit” diawali dengan gunungan yang bermakna tempat yang sakral dan suci.
Bukan hanya itu, RW6 juga menampilkan perpaduan budaya nusantara yang menggambarkan Salatiga sebagai kota Indonesia Mini.
Di dalamnya ada Reog Ponorogo, ada budaya Betawi, budaya Jawa Timur hingga budaya Bali.
Semua berjalan bergantian untuk menuju lapangan Kalibanteng Blondo Celong, Kutowinangun Kidul, Tingkir, Kota Salatiga. (HS-08)