HALO SEMARANG – Kertas map dan kardus bekas kemasan susu yang biasanya berakhir di tong sampah, di tangan Andi Purnomo (67), bisa menjadi barang kerajinan bernilai, yakni barongsai.
Setiap hari, warga Leduwi, Semarang Timur ini “berburu” kertas map dan kardus bekas.
“Saya rutin mencari kardus susu bekas dan map di tempat rosok, karena bisa diolah lagi jadi kerajinan barongsai. Saya beli Rp 30 ribu dapat 10 kilo. Barongsai yang saya buat rata-rata diameter kepalanya 30 sentimeter,” kata bapak tiga anak dan dua cucu ini , Sabtu (22/01/2022).
Andi yang sudah hampir 15 tahun menekuni pembuatan kerajinan ini, mengatakan memilih bahan baku dari kardus susu dan map bekas, karena murah dan gampang didapat.
Setiap kardus susu dan stopmap yang dikumpulkan kemudian dipotong kecil-kecil, dan kemudian dibentuk menyerupai kepala barongsai. Dia merekatkan seluruh bagian memakai lem gandum, hingga membentuk kepala hewan mitologi Tiongkok itu.
Dia mengakui, cuaca ikut menentukan keberhasilan membuat kerajinan ini. Ketika cuaca cerah dan sinar Matahari berlimpah, dia bisa membuat 10 kepala barongsai,
“Kalau sering hujan ya repot. Karena menjemur kepala barongsai baru bisa kering tiga hari,” akunya.
Andi yang semula adalah pemain barongsai itu juga menuturkan, awal mula membuat kerajinan itu memang tak bisa langsung jadi. Namun dia terus belajar secara autodidak, hingga bisa membuat produk yang layak untuk dipajang di lapak dasarannya, di tepi Jalan Wotgandul, kawasan Pecinan, Semarang Tengah.
“Tadinya saya pemain barongsai. Tapi berhubung usia sudah tua dan tidak laku lagi, mau gak mau ya harus cari akal buat bertahan hidup,” kata andi sembari membuat barongsai.
Dia mengaku saat ini benar-benar menggantungkan hidup dari hasil karyanya itu. Usia senja, membatasinya untuk melakukan banyak hal, dan yang kini mampu dilakukannya adalah membuat kerajinan tersebut.
“Jalan satu-satunya akhirnya ya bikin kerajinan barongsai ini. Ternyata karena ukurannya yang kecil, barongsai buatan saya sering dibeli buat mainan anak-anak. Saya bikin semirip mungkin dengan yang asli, saya pasangi lampu dan hiasan bulu dan syukurlah banyak orang yang nyari buat oleh-oleh saat Imlek,” kata dia.
Atas jerih payahnya, Andi mendapatkan banyak pesanan menjelang Imlek. Sehari ia dapat orderan 7-10 buah. Satu barongsai ia jual antara harga Rp 50 ribu-Rp 60 ribu tergantung perbedaan warnanya.
“Yang barongsai kepala hitam harganya Rp 60 ribu. Yang kepala kuning harganya Rp 50 ribu,” bebernya.
Ferry Hidayat Susanto, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Kota Semarang, berpendapat, barongsai tak bisa dilepaskan dari kebudayaan warga keturunan Tiongkok di Indonesia. Hal itu karena hewan mitologi ini, dipercaya mampu membawa keberuntungan, saat perayaan Imlek.
“Di Semarang pun barongsai mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Tionghoa . Maka ketika perayaan Imlek kita selalu menggelar atraksi barongsai untuk melestarikan kebudayaan leluhur sekaligus bentuk rasa cinta kepada bangsa Indonesia,” kata dia. (HS)