POTENSI wisata alam di Kota Semarang cukup banyak. Selain berupa pantai, juga ada curug atau air terjun yang ternyata tak kalah indah dan jadi daya tarik wisatawan.
Seperti salah satunya yang akhir- akhir ini sedang moncer, yakni Curug Kedung Kudhu di wilayah Kalipepe, Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Keberadaannya terus didorong untuk menjadi destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan.
Untuk bisa mencapai Curug Kedung Kudhu itu, wisatawan butuh menyiapkan stamina yang prima. Karena memiliki jalur dan medan yang terbilang menantang di sepanjang perjalanan, namun justeru bisa memacu adrenalin. Dan juga pas bagi mereka yang punya hobi travelling.
Untuk makin memperkenalkan destinasi Curug Kedung Kudhu ini, sekaligus menyambut perayaan Peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-79, belum lama ini sejumlah warga Pudakpayung beserta Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Deswita) Kelurahan Pudakpayung serta pejabat pemangku wilayah setempat, ikut mencicipi jalur ekstrem sekaligus mempromosikan salah satu wisata potensial di Pudakpayung ini.
Mereka pun nampak antusias dan kompak menjelajahi medan dengan start di kompleks pengolahan air PDAM Tirta Moedal di RW 01, Kalipepe, Pudakpayung.
Rombongan disuguhi oleh pemandangan hutan rimbun, dan terdengar suara merdu burung yang bersahutan. Di belakang kompleks pengolahan air PDAM Tirta Moedal, sudah mulai terdengar gemercik air yang bersumber dari mata air yang cukup melimpah.
Untuk sumber air yang cukup besar ini, warga sekitar telah memanfaatkannya untuk usaha produktif yakni budidaya ikan. Dulu juga sempat dipergunakan oleh Kodam IV/Diponegoro untuk pemeliharaan tanaman.
Di persimpangan jalan yang ada di belakang komplek pengolahan air PDAM, jika wisatawan mengambil jalur lurus, hanya sekitar 500 meter juga akan dijumpai destinasi Vihara Shima 2500 Budha Jayanti, Bukit Kasap, yang bernilai sejarah dan konon usianya menyamai usia Candi Borobudur.
Tapi kali ini, rombongan warga dan pengurus Deswita Pudakpayung memilih untuk jalur ke kiri, yaitu yang ke arah Curug Kedung Kudhu, dengan jarak tempuh sekitar satu kilometer. Di sepanjang jalan wisatawan akan ditemani berupa saluran pipa-pipa tua air minum peninggalan masa Belanda. Menariknya, setelah hampir setengah perjalanan, akan menemukan jalan turunan berupa sejumlah undakan, yang dinamakan Ondo Rante. Bangunan ini juga merupakan peninggalan pembangunan masa lalu.
Saat melanjutkan perjalanan, wisatawan pun harus ekstra hati-hati. Karena segera melewati jalur turun-naik yang cukup tajam, tangga yang berkelok, dan di sisi kanan jalan berupa tebing yang curam. Bahkan sebagian jalan nampak berlubang akibat tergerus air.
Meksipun sudah hampir sampai, sebelum mencapai curug, terbentang sebuah jembatan peninggalan Belanda. Jembatan ini dinamai Jembatan Dung Kopyah, yang menghubungkan Pudakpayung-Pakintelan, Kecamatan Gunungpati.
Di sini wisatawan atau pengunjung bisa berswafoto dulu, dengan latar belakang pemandangan alam. Serta di bawahnya mengalir air Kali Garang dengan hamparan bebatuan.
Dari posisi jembatan ini, makin terlihat lokasi Curug Kedung Kudhu. Meski perasaan letih dan haus masih dirasakan, seketika akan hilang dan semuanya terbayar lunas setelah melihat keindahan alam Curug Kedung Kudhu.
Dari puncak curug, nampak air mengalir deras membuat suasana terasa makin sejuk, meski dari jarak beberapa meter. Apalagi setelah menyentuh air curug dan membasuh muka ataupun mandi, akan menjadi pengalaman pribadi yang tak terlupakan.
Ketinggian curug ini sekitar 22 meter dan kedalaman sekitar 1,5 hingga 1,8 meter. Aliran air mengarah ke Kaligarang hingga Sungai Banjir Kanal Barat (BKB).
Menurut Lurah Pudakpayung, Pamirah yang juga ikut serta dalam rombongan, menjelaskan bahwa pemberian nama destinasi Curug Kedung Kudhu ini dilakukan oleh warga setempat.
“Menurut warga yang ditemui, karena di bawah curug itu ada Kedung Kudu, maka curug ini dinamai Curug Kedung Kudu,” katanya.
Untuk pengembangan potensi wisata ke depannya, pihaknya meminta adanya dukungan dari Pemkot Semarang.
“Diharapkan dengan makin dikenalnya destinasi Curug Kedung Kudhu ini oleh masyarakat, bisa meningkatkan kunjungan ke destinasi wisata ini,” ungkapnya.
Salah satu anggota Kelompok Sadar Wisata Kelurahan Pudakpayung, Devie menambahkan, Curug Kedung Kudhu ini berasal dari lima mata air yang murni. Salah satu mata airnya diyakini sangat berkhasiat oleh masyarakat sekitar. Karena pernah salah satu warga sembuh dengan minum air dari curug itu.
“Warga sekitar pun juga menyakini berkhasiat menambah awet muda, dan mempercepat menemukan jodohnya,” jelasnya, baru-baru ini.
“Dan Curug Kedung Kudhu ini menjadi salah satu satu wisata yang dikelola warga. Curug ini adalah destinasi ke empat, setelah vihara, Ondo rante dan jembatan,” ujar Devie.
Sedangkan perjalanannya sendiri untuk sampai ke destinasi ini, kata Devie, dua sampai tiga kilometer atau dengan jarak tempuh sekitar satu jam.
“Adapun paket wisata ditawarkan dengan dibandrol mulai Rp 70 ribu – Rp 100 ribu per orang,” katanya.
Spot lainnya, kata Devie, wisatawan bisa diajak untuk merasakan keseruan di destinasi wisata Kedung Beras. Objek wisata ini telah dilengkapi arena mainan anak-anak, kolam renang, kolam pancing serta spot-spot untuk selfi, gedung pertemuan serta tempat parkir yang memadai.
Di Kedung Beras ini, rombongan pun disuguhi dengan makanan tradisional, jajan pasar serta nasi yang dibungkus dengan godong (daun) jati yang dinamai Sego Berkat. Dimana Sego Berkat ini sendiri memiliki filosofi yaitu Sejahterakan Wargo dengan Pemberdayaan Masyarakat.
Wisatawan yang datang dijamin akan merasa betah dan puas untuk menikmati sensasi kuliner dan juga pemandangan alam yang luar biasa serta masih asri. (HS-06)