DI tengah hiruk-pikuk feed TikTok yang tak pernah berhenti bergulir, tiba-tiba muncul klip pendek: seorang pria tampan berjas mahal, CEO perusahaan raksasa, jatuh dari mobil mewahnya dan bangun sebagai pekerja serabutan di kampung kumuh.
Lalu, dia bertemu gadis desa sederhana yang ternyata punya hati emas. Cinta beda kasta pun meledak, lengkap dengan intrik keluarga menggambarkan dua sisi jelas, antagonis dan protagonis. Satu klip habis, jari otomatis geser ke yang berikutnya.
Selamat datang di era demam dracin, drama China pendek yang membuat jutaan pengguna Indonesia ketagihan seperti makan mi instan pedas level maksimal.
Fenomena ini bukan sekadar hiburan murah, ia adalah cermin lucu sekaligus menyedihkan dari selera kita yang doyan cerita klise tapi nagih.
Bayangin saja, unduhan aplikasi short drama di Asia Tenggara melonjak 120% sepanjang paruh pertama tahun 2025.
Indonesia jadi juara dunia dalam hal ini, dengan jutaan pengguna yang menjadikan TikTok sebagai bioskop mini. Data dari Omdia menunjukkan aplikasi micro-drama top seperti ReelShort dan DramaBox mencapai hampir 200 juta pengguna aktif bulanan global pada Maret 2025, dan Indonesia memimpin di Asia Tenggara.
Nilai bisnisnya sudah tembus Rp 132 triliun pada 2024, mayoritas dari produksi China yang murah meriah tapi untung selangit. Di TikTok, tagar #shortmovie saja sudah dilihat 17,2 miliar kali, sementara #shortfilm capai 29 miliar.
Influencer lokal ikut meramaikan, dari editan lucu, translete ke bahasa Indonesia, hingga review yang bikin penasaran, sementara komunitas penggemar di X dan Instagram saling berbagi link aplikasi seperti FlexTV atau Sereal+.
Tapi, mari kita bedah klisenya dengan pisau satir. Tema favorit? CEO kaya yang nyamar jadi orang miskin, atau anak konglomerat yang tiba-tiba alami kehidupan biasa setelah kecelakaan dramatis atau hilang.
Ironisnya, ini seperti versi murahan dari dongeng Cinderella, tapi bukannya soal sepatu emas, di sini CEO amnesia jatuh ke pelukan pembantu rumah tangga yang ternyata keturunan bangsawan tersembunyi.
Atau, ingat Pride and Prejudice karya Jane Austen? Kisah cinta beda kasta antara Elizabeth Bennet dan Mr Darcy yang penuh konflik sosial dan introspeksi diri.
Nah, di dracin, itu diringkas jadi 60-90 detik plot twist: “Aku miskin, tapi hatiku kaya!” sambil musik dramatis membahana.
Hiperbola? Tentu, karena di dunia nyata, CEO kaya lebih sibuk urus target profit daripada jatuh cinta impulsif. Tapi di TikTok, ini jadi obat mujarab buat penonton yang capek dengan rutinitas harian, membuat mereka bermimpi ditaksir miliarder sambil scroll ponsel pintar malam-malam.
Menarikya cara dracin ini membungkus kisah klise dalam kemasan adiktif. Seperti kata seorang pengguna di X, “Drama Cina di TikTok ini mengandung kokain keknya. Nggak sadar tiba-tiba nonton sampe habis.”
Influencer ikut memperkuat, dengan campaign yang relate: editan lucu CEO “miskin” yang salah kostum, atau thread tentang “bagaimana dracin bikin aku lupa tagihan listrik.”
Komunitas penggemar di Indonesia bahkan geser dari drakor ke dracin. Tapi, di balik tawa, ada kritik: ini escapism berlebih yang bikin orang lupa realitas sosial.
Di China sendiri, pemerintah mulai batasi tema CEO-gadis miskin karena dianggap memicu khayalan berlebih pada perempuan muda. Di Indonesia, malah sebaliknya, kita impor dan konsumsi massal, duit mengalir ke kantong produsen China, sementara industri lokal sibuk produksi horor pocong atau hantu pelakor yang gentayangan cari “gadun”.
Lihat saja dampaknya. Gen Z Indonesia suka dracin karena durasi pendek dan unlimited kelucuan.
Tapi, ini mirip film Hollywood seperti The Prince and Me (2004), di mana pangeran Denmark nyamar jadi mahasiswa biasa dan jatuh cinta. Bedanya, di sana ada kedalaman karakter; di dracin, semuanya hiperbola: musuh jadi pacar dalam satu episode, kekayaan hilang tapi cinta abadi.
Ironis, karena sementara kita ketawa lihat CEO “miskin” makan mi instan, di dunia nyata, kesenjangan sosial Indonesia makin lebar. Data Statista menunjukkan Indonesia punya pengguna TikTok terbesar, tapi konten impor mendominasi, membuat kita jadi konsumen pasif. Ini seperti makan junk food setiap hari, enak, tapi lama-lama bikin sakit ginjal.
Transisi ke sisi positif, fenomena ini bisa jadi pelajaran. Dracin sukses karena produksi murah, plot cepat, dan distribusi via TikTok yang luas. Kenapa Indonesia nggak bikin versi lokal? Alih-alih impor, ciptakan drama pendek tentang anak kampung yang jadi entrepreneur, atau cinta beda suku tanpa klise berlebih.
Bandingkan dengan karya sastra Indonesia seperti Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, yang punya kedalaman budaya tanpa perlu CEO amnesia.
Atau film seperti Ada Apa dengan Cinta dan Dilan? yang ikonik karena relate dengan realitas remaja. Dengan begitu, kita bisa geser dari ketergantungan pada “micin China” ke konten asli yang bangun identitas.
Pada akhirnya, dracin ini lucu sebagai hiburan sementara, tapi jangan sampai bikin kita amnesia pada potensi sendiri.
Daripada nunggu CEO kaya nyamar di kampung kita, mending kita yang nyamar jadi produser handal. Siapa tahu, besok TikTok banjir drama Indonesia yang bikin China ketagihan balik. Itu baru plot twist yang epik, dan tanpa bayar episode lanjutan!(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


