in

Buka Edukasi & Talkshow Pangan dan Gizi, Mbak Ita Berharap Wujudkan Ketahanan Pangan Dimulai dari Keluarga

HALO SEMARANG – Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mendorong masyarakat mulai mewujudkan ketahanan pangan di Kota Semarang dengan menyiapkan kebutuhan pangan secara mandiri, yakni dari hasil menanam atau urban farming di lingkungannya masing-masing.

“Saya melihat bahwa ketahanan pangan Kota Semarang berawal dari keluarga, kalau dalam satu keluarga bisa menanam tanaman, contohnya ada komoditas bawang merah, kita sekarang bisa menambah bawang merah kan sudah uji coba di demplot, termasuk di rumah saya ternyata berhasil, baik di tanam polibag, tanah, maupun sistem vertikal,” katanya, usai menghadiri acara Edukasi &Talkshow Pangan dan Gizi yang digelar Dinas Ketahanan Pangan di Aula Balaikota, Selasa (30/4/2024).

Menurut Mbak Ita, sapaan akrabnya, berbicara mengenai ketahanan pangan keluarga, sebenarnya cukup memanfaatkan lahan di sekitar rumah.

“Kan nggak butuh berkilo-kilo, kalau bahasa Jawanya “sak madyo” atau secukupnya saja, yang diperlukan sekarang misalnya cabe, tomat, justru harganya menjadi pemicu inflasi, harganya kelihatan sepele tapi jadi penyebab inflasi di daerah- daerah menjadi tinggi,” ungkapnya.

Sehingga, kata Mbak Ita, ketahanan pangan keluarga khususnya di Kota Semarang harus bisa diimplementasikan.

“Mengingat apa yang kita punya di Kota Semarang, lahan masih banyak, supporting bibit Pemkot juga bisa membantu yang terpenting ada “krentek” (niatnya-red) saja ibu- ibu untuk menanam,” katanya.

Apalagi, jelas Mbak Ita, saat ini harga bawang merah di pasaran cukup tinggi di kisaran Rp 60 ribu perkilogramnya.

“Memang bawang merah dan putih adalah bumbu utama bahan dasar untuk memasak. Kalau tidak ada bawang, kan rasanya kurang enak. Begitu juga telur, bisa dibuat kelompok-kelompok tani, kalau merasa berat, kemarin ada perdu semerbak, lalu ada budidaya ikan, tinggal niatan saja, kalau mau butuh sarana dan prasarana Pemkot mensupportnya. Tapi kalau masyarakat tidak mau menjalani ya bagaimana,” ujarnya.

“Saya apresiasi dan sambut baik acara seperti ini, namun kedepan bisa dibuat acara serupa dan bisa digelar lagi, tapi jangan di gedung diganti di outdoor biar ibu- ibu tahu, melihat langsung di lokasi atau kebunnya seperti apa. Karena sudah tidak perlu lahan luas, contohnya di Ngaliyan besok saya mau panen, katanya ada tanaman cabe, timun, selada, bahkan disana sudah bisa dijual. Sementara di Tlogomulyo semua ibu RW dikasih lahan sendiri -sendiri mereka menanam sayur seperti pare dan dijual ke warung-warung ramesan dan bisa menghasilkan uang dan menambah pemasukan,” imbuhnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Endang Sarwiningsih mengatakan, bahwa kegiatan Edukasi dan Talkshow Pangan dan Gizi merupakan bentuk kolaborasi dari OPD, pihak kecamatan dan kelurahan. Diiikuti oleh kader PKK Tingkat Kecamatan dan Kelurahan se Kota Semarang.

“Dengan harapan, di Kota Semarang tidak ada lagi daerah memiliki kerawanan pangan, hanya di satu daerah tapi sekarang sudah naik kelas. Seperti yang disampaikan Ibu Walikota Semarang, bahwa ketahanan pangan perlu terus digalakkan, agar mencapai daulat pangan. Sehingga perlu langkah dari dinas untuk mengedukasi kader PKK terkait pangan dan gizi,” katanya.

“Ibu-ibu inilah yang gercep ikut memberikan edukasi kepada masyarakat, agar lahan yang ada bisa melaksanakan ketahanan pangan dengan menanam tanaman di halaman rumahnya digalakkan lagi, bagi yang lahannya terbatas dipakai media pot,” imbuhnya.

Harapannya, kata dia, ibu-ibu tidak perlu belanja di pasar, minimal untuk kebutuhan sendiri dan tidak berpengaruh dengan harga pangan di pasaran.

“Apalagi dengan situasi peperangan di beberapa negara sebagai penghasil pangan menyebabkan harga bahan pangan terutama bahan impor makin mahal. Selain mengedukasi bahan pangan pendamping beras, sehingga masyarakat secara berlahan juga memiliki alternatif pangan selain beras, tapi bergizi, serta tidak mengandung borax, pewarna tekstil sehingga masyarakat menjadi sehat, produktif dan makin berdaya saing,” pungkasnya. (HS-06)

Kebakaran di Kos Lamper Tengah Semarang, 10 Motor Hangus

Hadapi Bonus Demografi, Pj Gubernur Jateng Dorong Ciptakan SDM Berkualitas