TAHUN 2025, perekonomian Indonesia bergerak pelan sekali, mirip kereta api yang kehabisan bahan bakar di tengah rel panjang. Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama cuma capai 4,87 persen, mundur dari tahun lalu, kata Badan Pusat Statistik.
Daya beli rakyat merosot, harga barang harian melonjak, dan usaha dari kecil sampai besar cuma bisa bertahan tanpa maju. Keadaan ini bukan hal baru, tapi sekarang terasa lebih berat, dengan deflasi awal tahun yang sebenarnya tandakan orang lebih pilih hemat karena dompet tipis, bukan harga tenang. Pemutusan hubungan kerja massal dan gejolak dunia ikut bikin parah, sampai banyak yang bertanya, kapan roda ini berputar lagi tanpa tersendat.
Harga kebutuhan dasar jadi pemeran utama dalam sandiwara ini. Cabai, beras, minyak goreng, daging, semua naik harga, seolah sedang adu mahal. Inflasi memang dijaga sekitar 2,5 persen plus minus satu, ujar Bank Indonesia, tapi bagi para ibu di pasar, itu berarti belanja harian perlu tambah duit.
Ironis, deflasi Februari lalu malah jadi tanda bahaya bahwa rakyat lebih suka pegang uang daripada beli barang, takut besok lebih susah. Usaha besar pun ikut lemah. Pabrik berjalan di tempat, ekspor lambat karena pesanan dunia turun, dan modal asing ragu masuk. Akibatnya, mesin ekonomi negara seperti kendaraan tua yang mogok di lereng, sulit naik, gampang mundur.
Di sektor UMKM, yang biasa jadi penopang utama ekonomi, tapi kini lebih mirip balon yang kembang kempis. Banyak tutup atau potong pegawai, ditambah daya beli yang lemah karena pemecatan di bidang lain. Ibaratnya, UMKM ini bagai pejuang tanpa perlengkapan, berusaha keras, tapi musuh terlalu ganas. Padahal mereka sumbang besar ke hasil domestik bruto, tapi sekarang cuma bisa tahan badai dari luar dan dalam negeri.
Tak beda jauh, koperasi yang diharap jadi fondasi ekonomi juga ikut lesu, dengan bunga pinjam tinggi yang bikin anggota ragu ambil kredit. Beberapa bahkan kolaps atau sulit jalan karena pengelolaan jelek dan saingan dari bank swasta.
Ironis, lembaga yang seharusnya saling bantu, malah jadi korban pola yang lebih mementingkan untung kilat. Di situasi begini, pemerintah coba tolong dengan langkah baru, tapi tantangan tetap menanti.
Lebih dalam lagi, lesunya ekonomi ini perlihatkan celah besar antara yang punya dan yang tak punya. Yang kaya tambah makmur, sementara yang miskin tambah susah.
Jurang ini lebar, di mana segelintir orang bisa boros sementara banyak yang kesulitan. Di Semarang misalnya, restoran mewah, tempat dugem, kasino berkedok mesin ketangkasan, tempat prostitusi berkedok spa dan karaoke keluarga, dan cafe tetap ramai. Tapi kebanyakan anak pejabat dan pejabat itu sendiri sih yang memenuhinya.
Hedonis
Ekonomi lesu, tapi bagi yang berpunya, pesta makan malam mahal tetap jalan, sementara tetangga sebelah mikir cara dapat nasi sepiring dengan lauk layak.
Seakan kondisi ini seperti dua dunia, satu penuh latte art dan steak impor, satunya lagi antre pembagian Jumat Berkah. Belum lagi prilaku hedonis dari para wakil rakyat dan selebritis yang terpamerkan di media sosial, bikin darah makin mendidih. Potensi anarkisme pun hanya tunggu waktu.
Untung, pemerintah tak tinggal diam. Mereka salurkan dana Rp 200 triliun ke bank Himbara seperti BRI, Mandiri, dan lainnya, lewat aturan PMK Nomor 129 Tahun 2025. Uang ini mulai keluar September lalu, untuk dorong ekonomi, termasuk kredit murah ke UMKM dan koperasi.
Koperasi Merah Putih, atau lebih tepat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dibentuk buat sokong ekonomi daerah. Koperasi ini bisa pinjam dengan bunga rendah 2 persen, harapannya angkat UMKM dan desa yang lagi megap-megap. Bagus, seperti obat ampuh buat yang lagi sakit parah. Tapi, langkah selanjutnya tak selalu mudah.
Di balik asa besar, ada ancaman perilaku korup yang sudah jadi penyakit menahun di Indonesia. Potensi salah pakai dana Rp 200 triliun dan program Koperasi Merah Putih ini diwanti-wanti banyak orang, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang tegas bilang kalau ketahuan, langsung tangkap dan usir.
KPK ikut awasi agar program ini bersih dari praktik korupsi. Ironis, korupsi ini mirip tamu tak diundang yang selalu muncul di acara duit besar. Negara harus berusaha keras, awasi ketat, agar dana dan program ini betul sampai ke yang perlu, bukan ke saku segelintir orang.
Walau keadaan rumit, namun masih ada hikmahnya. Ekonomi lesu ini mengingatkan kita untuk atur duit lebih bijak, sokong usaha kecil sekitar, dan desak pemerintah jalankan program dengan benar.
Barangkali, tahun depan pertumbuhan ekonomi akan naik lagi. Sambil tunggu, tetap semangat, karena di Indonesia, banjir rob pasti bisa dilewati, meski kadang lewat jalan memutar. Pesan penulis, jangan lupa bahagia.(Tulisan ini disempurnakan AI-HS)