in

Bedah Jejak Tumenggung Bahurekso, Lesbumi Kendal Gelar ‘Semasa’

HALO KENDAL – Komunitas Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Kendal, menggelar acara “Semasa” atau Selapanan Malam Sabtu dengan tema “Menziarahi Jejak Tumenggung Bahurekso”, di Gedung PCNU Kendal, Jumat malam (10/11/2023).

Acara yang digelar untuk menyingkap jejak kepemimpinan Tumenggung Bahurekso tersebut menampilkan pembicara, KRMAP L Nuky Mahendranata Adiningrat (pemerhati budaya), Agus Sulistiyo (penulis buku), Ir Galih Setyo Aji SPWK (Tim Ahli Cagar Budaya Kendal), dan Kang Misbahul Munir (Ketua PC GP Ansor Kendal) selaku moderator.

Selain itu, juga hadir mewakili Ketua PCNU, KH Prof Tantowi, Kepala Kesbangpol Kendal, Alfebian Yulando dan Anggota Komisi D DPRD Kendal sekaligus mantan Bupati Kendal, Widya Kandi Susanti.

Sedangkan peserta yang hadir dari kalangan pemerhati seni dan budaya dari Kendal, Batang dan Pekalongan, perwakilan pondok pesantren, para anggota Lesbumi, serta masyarakat dan tenaga pendidik di Kendal.

Acara juga diisi dengan hiburan, penampilan dari SindLanPin Ngakustik (Musik Akustik) dan Tsalis Nafisaturrohmah (Baca Puisi).

Pemerhati Budaya asal Surakarta, L Nuky Mahendranata Adiningrat mengatakan, Tumenggung Bahurekso adalah sosok orang merakyat karena dibesarkan dari keluarga biasa, namun bisa menjadi sosok yang penting pada eranya di Kerajaan Mataram. Sehingga ini bisa menjadikan inspirasi  bagi generasi muda Kendal lebih semangat lagi.

“Dari sosok Tumenggung Bahurekso inilah kita banyak belajar tentang kegigihan, menjadi seorang yang amanah, memiliki integritas. Beliau adalah kesatria yang bisa menjadi panutan bagi generasi muda untuk membangun peradaban yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Sementara Galih Setyo Aji menyampaikan, Tumenggung Bahurekso memiliki semangat berjuang yang tinggi, selalu menjalankan tugas kerajaan dengan baik, sehingga pada waktu itu pihak penjajah sulit untuk masuk ke wilayah kerajaan Mataram.

Mewakili Ketua PCNU Kendal, Prof Tanthowi menekankan, peran Lesbumi dalam merawat tradisi dan budaya lokal khususnya di Kabupaten Kendal harus dikuatkan demi kelestarian nilai-nilai kultur yang ada.

“Tradisi dan budaya lokal Kabupaten Kendal jangan sampai hilang. Bahkan harus mampu mentransformasi ke dalam nilai-nilai kekinian,” tandasnya.

Tantowi juga berpesan, perjuangan dari Tumenggung Bahurekso ini harus terus dikenang dan menjadi contoh bagi para generasi muda untuk tetap bisa menumbuhkan semangat. Mereka telah memiliki pendahulu seorang kesatria yang berjuang untuk meraih kemerdekaan bangsa.

“Sehingga ini penting sekali ditekankan kepada kalangan generasi penerus Kendal. Supaya mereka tahu, siapa itu sosok Tumenggung Bahurekso,” pesannya.

Sementara Kepala Kesbangpol Kendal, Alfebian Yulando menyampaikan, pihaknya mengapresiasi apa yang dilakukan Lesbumi Kendal dalam memperingati Hari Pahlawan dengan menyajikan tema diskusi yang mengangkat Tumenggung Bahureksa.

Menurut pria yang akrab disapa Febi tersebut, kepemimpinan dan perjuangan Tumenggung Bahurekso sebagai Bupati pertama Kabupaten Kendal akan senantiasa dikenang oleh keluarga besar Kendal.

“Bukan saja karena keberaniannya dalam memperjuangkan kehidupan rakyat yang menjadi perhatian dan pengabdian. Tapi juga kecerdasan, kerja keras dan keberhasilannya dalam membagun daerah Kendal, menjadi dasar bagi Sultan Agung raja Mataram Islam mengangkatnya menjadi Bupati Kendal dan panglima Perang Mataram Islam menghadapi VOC di Batavia saat itu,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Agus Sulistiyo seorang penulis buku mengungkapkan, pengaruh Tumenggung Bahurekso sebagai Juru Diplomasi Sultan Agung dalam mengatasi wilayah Maritim dari Jepara, Demak, Kendal sampai Pekalongan. Ini membuktikan ketokohan Tumenggung Bahureksa diakui dan kuat.

“Tumenggung Bahureksa adalah Panglima perang Mataram yang menyerang VOC dengan jiwa ksatria dan penuh tanggungjawab, sampai harus gugur sebagai pejuang dan prajurit sejati,” ungkapnya.

Menangkal narasi yang beredar kalau Tumenggung Bahureksa gagal menyerang VOC dan meninggal dihukum mati, yang juga dicap sebagai pengkhianat terhadap Mataram, lebih lanjut Agus Sulistiyo menegaskan, jika informasi tersebut merupakan usaha untuk melemahkan mental dan moral prajurit Mataram.

“Catatan itu ditulis sekitar tahun 1700-an jauh setelah era Sultan Agung dan Bahureksa. Sehingga pengkaburan sejarah dimulai untuk memperkuat kekuasaan kolonial saja,” tandasnya.

Sedangkan mantan Bupati Kendal periode 2010-2015 yang sekarang menjabat sebagai Anggota DPRD Kendal, Widya Kandi Susanti berpesan, setiap keberadaan suatu bangsa atau daerah tidak pernah lepas dari sejarah.

“Untuk itu, ada pepatah dari pendahulu yang harus ditanamkan kepada generasi penerus, yaitu, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah meninggalkan begitu saja sejarah bangsa tersebut,” ungkapnya. (HS-06)

 

Assesor Mengapresiasi Presentasi Bupati Demak, Saat Evaluasi Smart City

Gagalkan Rencana Tawuran, Polrestabes Semarang Amankan Puluhan Remaja