in

Banjir Tak Kunjung Surut dan PSIS Kalah Terus, Lengkap Sudah Penderitaan Ini

Foto ilustrasi AI.

PAGI di Semarang biasanya dimulai dengan aroma kopi, lumpia goreng, dan suara klakson kendaraan yang ribut di jalan raya. Tapi akhir-akhir ini, rutinitas itu terganggu oleh cipratan air keruh yang naik setinggi betis, khususnya di Jalan Kaligawe dan sekitar.

Pada 23 Oktober lalu, hujan deras mengguyur kota ini selama berjam-jam, meninggalkan genangan yang kini sudah memasuki hari ketujuh. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat 63.450 warga terdampak di lima kecamatan: Gayamsari, Genuk, Pedurungan, Semarang Utara, dan Semarang Timur.

Tiga nyawa melayang, termasuk seorang anak berusia tujuh tahun yang terseret arus di Genuk. Beberapa kelurahan di Gayamsari masih basah kuyup dengan ketinggian air 10 hingga 80 sentimeter, sementara Jalan Pantura Kaligawe Raya lumpuh total, membuat truk kontainer parkir seperti patung raksasa di tengah lautan mini.

Warga di Muktiharjo Kidul sudah hafal rasanya mengemasi barang ke posko pengungsian. Mereka duduk lesu di terpal darurat, sambil memandang langit yang seolah-olah punya dendam pribadi.

Tapi kali ini, banjirnya seperti tamu tak diundang yang betah berlama-lama. Normalisasi Banjirkanal Timur yang dijanjikan sejak tahun lalu, mungkin ikut terbawa arus ke laut.

Ironisnya, saat petugas BPBD sibuk membantu warga, air justru naik lagi, seolah mengejek upaya itu. Genangan ini bukan sekadar air hujan; ia seperti metafor hidup di Semarang, datang tiba-tiba, merusak segalanya, lalu pergi pelan-pelan sambil meninggalkan lumpur tebal yang susah dibersihkan.

Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk upaya evakuasi, satu berita lain menyusup masuk seperti duri di sepatu basah: PSIS kalah terus. Klub kebanggaan warga Semarang ini, yang punya sejarah panjang sejak 1932-an dan pernah mengguncang Liga 1, kini terpuruk di dasar klasemen Grup B Pegadaian Championship Liga 2 2025/2026.

Dari tujuh laga yang sudah dimainkan, Laskar Mahesa Jenar mengumpulkan satu poin saja, hasil imbang tipis yang terasa seperti kemenangan moral bagi yang lain. Rekor kekalahan berturut-turut, termasuk 0-2 dari Deltras FC pada 26 Oktober di Sidoarjo, dan 0-5 dari PSS Sleman seminggu sebelumnya.

Selisih gol minus 15, seperti lubang hitam yang menelan harapan suporter. Pemain bintang masa lalu seperti Harri Nur atau bahkan legenda seperti Tugiyo pasti geleng-geleng kepala melihat skuad ini: tendangan bebas melambung ke tribun, umpan silang mendarat di kaki lawan, dan kiper yang seolah alergi terhadap bola bersih.

Transisi dari banjir ke lapangan hijau terasa begitu mulus, seakan alam dan olahraga berkonspirasi untuk menyempurnakan duka kota ini. Bayar tagihan listrik susah, sinyal hilang di tengah genangan. Cari hiburan? Nonton pertandingan PSIS lewat streaming, tapi yang muncul malah replay gol ke gawang tim kebanggaan.

Warga Jalan Padi Raya yang biasa bersepeda ke pasar kini berjalan kaki di air setinggi lutut, sambil bergumam tentang strategi pelatih dan buruknya manajemen yang seolah dirancang untuk kalah indah.

Satu poin dari tujuh laga bukan sekadar statistik; itu seperti laporan keuangan yang bikin investor dan suporter kabur.

Yang lebih menyedihkan, kedua musibah ini saling melengkapi seperti kopi dan gula yang kebanyakan. Banjir merendam rumah, PSIS merendam semangat.

Saat wilayah pesisir Semarang lumpuh oleh air, suporter di kota duduk termenung di warung kopi, memandang layar ponsel yang basah kuyup. Pemerintah kota sudah gerak cepat dengan menambah pompa air, tapi efektivitasnya seperti tendangan PSIS, banyak usaha, nol hasil.

Wali Kota Semarang turun langsung ke lapangan sambil konferensi pers 29 Oktober 2025, tapi warga hanya tersenyum kecut.

Sama seperti manajemen PSIS yang berjanji perbaikan skuad musim ini, tapi hasilnya? Enam kekalahan beruntun, seolah bola bulat itu punya musuh tak kasat mata.

Tak heran jika warga Semarang kini jadi ahli bertahan. Mereka belajar berenang di genangan sambil menganalisis taktik klub kebanggaannya yang gagal total.
Anak-anak di pengungsian main bola plastik, berpura-pura jadi Basajum Latuconsina yang hilang arah. Dan di malam hari, saat air mulai surut sedikit, lagu “Bersinar (PSIS Semarang)” terdengar dengan nada pilu, seolah mengingatkan bahwa kemenangan terakhir PSIS di kompetisi ini sudah seperti kenangan pudar.

Data dari situs resmi Liga Indonesia menunjukkan PSIS sebagai tim terburuk di grupnya, dengan rata-rata gol per laga nol koma sesuatu. Banjirnya? BPBD melaporkan 24 kelurahan terendam, dengan 22.653 kepala keluarga kehilangan akses ke pasar dan sekolah. Gabungan sempurna: air mengalir deras, gol mengalir ke gawang sendiri.

Mungkin suatu saat, saat pompa air akhirnya menang melawan gravitasi dan pelatih PSIS menemukan rumus ajaib untuk sundulan tepat sasaran, warga bisa tertawa lepas.

Dan siapa tahu, besok pagi, banjir surut dan headline koran berisi berita kemenangan perdana PSIS.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Menperin Sebut Industri Agro Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kejuaraan Atletik Ganesha Open Piala Wali Kota Salatiga dan Piala Ketua DPRD Bakal Perkenalkan Kategori TK