HALO SEMARANG – Sekitar satu juta spesies di muka bumi, menurut laporan badan ilmu pengetahuan yang didukung PBB, saat ini tengah menghadapi ancaman kepunahan.
Menurut laporan The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) tersebut, spesies yang terancam punah tersebut, termasuk jerapah, burung beo, pohon ek, kaktus, dan rumput laut.
Walaupun sepintas tidak berakibat langsung pada manusia, namun ancaman kepunahan sejumlah spesies ini merupakan peringatan, karena kelak tetap dapat mempengaruhi kehidupan manusia.
Sebagian spesies yang kini menghadapi ancaman adalah rumput laut. Seperti dirilis news.un.org, Minggu (7/8/2022), rumput laut adalah tanaman yang selama ribuan tahun bisa bertahan di muka Bumi. Bahkan kerabat dari beberapa rumput laut modern saat ini, masih merupakan keturunan spesies yang sama 1,6 miliar tahun silam.
Rumput laut memainkan peran penting dalam ekosistem laut, menyediakan habitat dan makanan bagi biota laut. Varietas besar seperti rumput laut, juga merupakan bagian sistem perkembangbiakan ikan di bawah air.
Namun pengerukan mekanis, kenaikan suhu laut, dan pembangunan infrastruktur di pesisir, kini mengancam keberadaan spesies ini.
Tak hanya rumput laut, pepohonan dunia saat ini, termasuk kayu ek (oak), juga terancam akibat penebangan, penggundulan hutan untuk industri dan pertanian, kayu bakar untuk memasak, dan ancaman terkait iklim seperti kebakaran hutan.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) memperkirakan, 31 persen dari 430 jenis kayu ek di dunia terancam punah.
Berkurangnya hutan akibat deforestasi untuk pertanian dan bahan bakar, juga berdampak pada fauna, salah satunya jerapah. Diperkirakan hanya ada sekitar 600 jerapah Afrika Barat yang tersisa di alam liar.
Krisis keanekaragaman hayati saat ini, akan diperburuk oleh bencana, kecuali manusia mengubah cara berinteraksi dengan alam. Menurut para ahli PBB, saat ini manusia harus mulai berupaya untuk menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan.
“Laporan IPBES memperjelas bahwa spesies liar merupakan sumber makanan, tempat tinggal, dan pendapatan yang sangat diperlukan bagi ratusan juta orang di seluruh dunia,” kata Susan Gardner, Direktur Divisi Ekosistem di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).
Menurut dia, keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem perlu dipertahankan, agar tetap berkontribusi pada kesejahteraan manusia. Jika manusia terus melakukan eksploitasi sumber daya alam, tanpa berupaya menjaga ekosistem secara berkelanjutan, maka sama artinya dengan merusak spesies manusia.
“Ini mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan kita sendiri dan generasi berikutnya,” kata dia.
Lebih lanjut, laporan tersebut menggambarkan pentingnya masyarakat adat, untuk dapat mengamankan hak tenurial atas tanah mereka, karena mereka telah lama memahami nilai spesies liar dan telah belajar bagaimana menggunakannya secara berkelanjutan.
Saat ini, pemerintah di seluruh dunia menghabiskan lebih dari $500 miliar setiap tahun, dengan cara yang membahayakan keanekaragaman hayati, untuk mendukung industri seperti bahan bakar fosil, pertanian, dan perikanan.
Para ahli mengatakan dana ini harus digunakan kembali untuk memberi insentif pada pertanian regeneratif, sistem pangan berkelanjutan, dan inovasi positif alam. (HS-08)