
SEMARANG – Temuan kasus penyebaran virus HIV di Kota Semarang justru meningkat di kalangan Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau homo seksual. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono mengungkapkan, jika tren kenaikan tersebut terjadi sejak 6 tahun terakhir.
“Di mana di 2013 ditemukan 43 kasus, 2014 sebanyak 73 kasus, 2015 sebanyak 63 kasus, 2016 sebanyak 112 kasus, 2017 sebanyak 147 kasus, 2018 sebanyak 110 kasus,” ujar Widoyono, Jumat (14/12).
Dikatakan, risiko terjangkit HIV melalui perilaku homo seksual sangat tinggi. Meski begitu, Pemkot Semarang melalui Dinas Kesehatan terus melakukan pendampingan kepada Orang Dengan HIV/AIDS (Odha).
Jumlah temuan kasus penyebaran HIV dari perilaku homo seksual justru lebih tinggi jika dibandingkan dengan penyebaran oleh Wanita Pekerja Seks (WPS) di Kota Semarang. Di mana data Dinkes Kota Semarang menyebutkan, jika temuan kasus dari WPS sejak 6 tahun terakhir cenderung menurun.
“Di 2013 sebanyak 40 kasus, 2014 sebanyak 41 kasus, di 2015 sebanyak 47 kasus, 2016 sebanyak 30 kasus, 2017 sebanyak 43 kasus, dan 2018 sebanyak 35 kasus,” katanya.
Apabila dihitung secara komulatif pada tahun 2018, untuk temuan kasus penderita HIV di Kota Semarang mencapai 546.
“Itu jumlah penderita sampai November 2018,” katanya.
Dari jumlah komulatif tersebut, 25 persen merupakan warga dengan identitas Kota Semarang. Sisanya justru beridentitas luar Kota Semarang.
“Antara penduduk dan non penduduk Semarang banyak yang luar daerah,” katanya.
Selama tahun 2018 jumlah lelaki yang ditemukan terinfeksi HIV sebanyak 58 persen atau 338 orang. Sedangkan perempuan 42 persen atau sebanyak 2018 orang.
“Sedangkan komulatif, mulai 2007 sampai 2018 yang kena HIV positif, paling besar pelanggan WPS mencapai 30 persen, kemudian pasangan resiko tinggi, lelaki seks lelaki (homo) mencapai 15 persen,” katanya.
Fenomena lain yang muncul di Kota Semarang sekaligus menambah daftar penyebaran HIV yaitu melalui profesi Pria Pekerja Seks (PPS). Selain melayani sesame jenis, PPS juga melayani berlainan jenis.
Meski Kota Semarang menduduki peringkat atas temuan kasus HIV, menurut Widoyono itu merupakan sebuah prestasi. “Prestasi karena kami menemukan, belum tentu di wilayah lain yang jumlahnya sedikit yang terjangkit sedikit. Mungkin saja belum ditemukan,” katanya.
Saat ini Pemkot Semarang baru dapat melakukan penekanan terhadap angka kematian akibat HIV/AIDS. Penekanan tersebut dilakukan dengan pemberian motivasi kepada ODHA, maupun dengan pengobatan gratis.
“Kami berikan obat gratis kepada yang terjangkit. Selain itu perawatan juga gratis,” ujarnya.
Dikatakan Widoyono, dari 2007 hingga 2018 penderita AIDS masih didominasi oleh profesi karyawan, kemudian ibu rumah tangga, pelajar, dan mahasiswa.
Sementara di 2018 wilayah paling tinggi ditemukan kasus HIV/AIDS yaitu Semarang Utara dengan 149 kasus. Disusul Semarang Barat dengan 122 kasus, Tembalang dengan 107 kasus, Pedurungan dengan 104 kasus, dan Semarang Timur 86 kasus.
“Yang paling rendah itu ada di Kecamatan Tugu sebanyak 22 kasus dan Kecamatan Mijen sebanyak 22 kasus. Itu juga karena penduduknya disana paling sedikit,” ujarnya. Adanya klinik VCT di masing-masing puskesmas dan rumah sakit juga mempermudah ditemukannya kasus HIV/AIDS di Kota Semarang. (Halo Semarang)