HALO REMBANG – Bupati Rembang, Abdul Hafidz, menerima piagam penetapan Memori Kolektif Bangsa (MKB), dari kepala Arsip Nasional Indonesia (ANRI), Rabu (29/5/2024), di Hotel Mercury Samarinda.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Rembang, Achmad Sholchan, mengatakan pengakuan ini diberikan atas penetapan “Arsip Jaringan Dagang Batik Lasem Awal Abad 20 (1900-1940)”, sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB), yang diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang dan Museum Nyah Lasem.
Penetapan MKB bertujuan mencatat arsip atau warisan dokumenter, yang memenuhi kriteria ke dalam register memori kolektif bangsa, yang dilaksanakan oleh ANRI.
Arsip ini mencerminkan sejarah pengalaman bangsa dan menjadi aset nasional yang menggambarkan identitas dan jati diri.
Pengajuan arsip ini diinisiasi oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Rembang bekerja sama dengan Museum Nyah Lasem.
Achmad Sholchan berharap penghargaan ini dapat memacu industri batik Lasem agar lebih dikenal di dalam dan luar negeri.
“Dengan dicatatnya arsip batik lasem ini di MKB, artinya diakui secara nasional. Harapannya batik tulis lasem ini semakin diketahui sebagai khasanah budaya lasem, semakin banyak dibeli, banyak produksi dan semakin sejahtera untuk masyarakat khususnya yang menekuni batik,” kata dia, seperti dirilis rembangkab.go.id.
Sholchan menambahkan, batik tulis di Pulau Jawa baru batik Lasem yang tercatat di MKB, memperkuat pengakuan sebagai batik tertua di Jawa.
Ratusan arsip jaringan dagang batik tulis Lasem yang diusulkan oleh Dinarpus bekerja sama dengan Museum Nyah Lasem sebelumnya dipresentasikan di ANRI pada 22 dan 23 Februari 2024.
Arsip ini kaya akan sejarah ekonomi, sosial, dan seni kreatif batik Lasem sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, serta batik Indonesia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi.
Arsip ini mencakup informasi tentang jaringan dagang dan pembelian alat batik dari luar daerah, seperti lilin atau malam dari Atapupu Timor, dan kain dari Surabaya dan Solo.
Selain itu, arsip dari perusahaan batik Lasem Liem Kioe An periode 1922 hingga 1940 berjumlah 73 teks, berupa surat, telegram, dan foto, berisi informasi tentang jaringan dagang batik dari Sumatra hingga Sulawesi.
Sebelumnya diberitakan, Dinarpus Kabupaten Rembang dan Yayasan Lasem Heritage, mengusulkan ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), agar Arsip Museum Nyah Lasem dapat masuk ke dalam daftar Memori Kolektif Bangsa (MKB).
Usulan ini telah melalui berbagai upaya, termasuk presentasi di ANRI, pada 22 dan 23 Februari 2024.
Kepala Dinarpus Kabupaten Rembang, Achmad Sholchan, mengatakan arsip-arsip yang disimpan di Museum Nyah Lasem, mengandung sejarah bangsa yang berkaitan dengan jaringan dagang batik Lasem.
Jaringan ini mencakup Sumatra, wilayah Indonesia bagian timur dan luar negeri seperti Singapura.
Salah satu arsip bahkan menunjukkan peran perempuan Lasem, terutama pemilik usaha batik Lasem, dalam mendirikan dapur umum untuk Tentara Republik Indonesia.
“Arsip-arsip ini kaya akan sejarah ekonomi, sosial, dan seni kreatif batik Lasem sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, serta Batik Indonesia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi, sehingga sangat penting,” kata dia.
Sholchan menjelaskan bahwa arsip perusahaan Batik Lasem Tio Oen Bien – Tio Swan Sien, dari tahun 1900 hingga 1930 berjumlah 104 arsip, berupa surat, kartu pos, kuitansi, dan foto.
Arsip ini mencakup informasi tentang jaringan dagang dan pembelian alat batik dari luar daerah, seperti lilin atau malam dari Atapupu Timor, dan kain dari Surabaya dan Solo.
Selain itu, arsip warga perusahaan batik Lasem Liem Kioe An periode 1922 hingga 1940 berjumlah 73 tekstual, berupa surat, telegram, dan foto. Arsip ini berisi informasi tentang jaringan dagang batik dari Sumatra hingga Sulawesi.
“Tujuan diajukannya arsip tentang bukti kisah sejarah batik Lasem menjadi MKB agar semakin populer lagi di tingkat nasional,. Batik Lasem ini memang sudah terkenal, namun secara arsipnya ini belum terungkap. Ternyata setelah kami telusuri, batik Lasem itu sudah ada sejak awal abad ke-19,” tambahnya. (HS-08)