HALO KENDAL – Akibat dampak curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi beberapa hari lalu di Kabupaten Kendal, membuat volume produksi penggilingan padi menurun. Hal tersebut diungkapkan salah seorang pengelola rice milling unit (RMU) atau tempat penggilan padi, yang biasa disebut selep, Wartono, di Desa Wonotenggang, Kecamatan Rowosari.
“Dampak dari curah hujan yang terjadi beberapa hari belakangan, membuat volume produksi penggilingan gabah di tempat kami menurun,” ungkapnya, Senin (9/1/2023).
Bahkan Wartono juga mengaku, akibat cuaca ekstem dan hujan lebat ini, pihaknya harus tiga kali menjemur gabah untuk kemudian digiling. “Biasanya kita jemur satu kali. Tapi kalau sekarang karena musim hujan paling tidak kita jemur sampai tiga kali, karena banyak kadar airnya,” ujarnya.
Wartono membeberkan, volume produksi penggilingan padi saat ini di tempatnya hanya di bawah 60 kuintal. Padahal sebelumnya selep yang dikelolanya bisa menangani penggilingan padi mencapai 20-30 ton perhari.
“Sejak musim hujan ini menurun drastis. Sekarang produksi perhari hanya 55 sampai 57 kuintal saja,” bebernya.
Lebih lanjut Wartono menjelaskan, saat ini harga beras di pasaran juga mengalami kenaikan. Dari yang semula Rp 10.400 per kilogram menjadi Rp 11.100 per kilogram. “Selain naik, sekarang kita susah mendapatkan gabah. Stok beras juga di selep kami sangat langka,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati mengatakan, panen padi bertepatan musim hujan tidak menjamin kelancaran kegiatan pengeringan dengan sinar matahari.
“Panen saat musim hujan kualitas padi jelek. Misal bisa dikeringkan biasanya daya simpan tidak bisa lama. Sebelum satu tahun saat diolah berasnya menjadi berwarna kuning,” ujarnya.
Pandu menegaskan, kerugian akan mengancam petani jika dalam keadaan demikian tidak terbuka pilihan cara pengeringan lain seperti peralatan mekanis atau mesin pengering. Menurutnya, petani bisa terdesak menjual hasil penen yang masih dalam kondisi basah, di mana kadar air cukup tinggi.
“Karena harga optimal di pasar bebas akan diperoleh jika kadar airnya cukup rendah yaitu sekitar 13 – 14 persen, karena layak disimpan lama dengan mutu padi maupun beras yang dihasilkan cukup baik,” tandasnya.
Solusinya, lanjut Pandu, untuk pengeringan bisa dengan menggunakan dryer. Namun biaya operasionalnya mahal. “Untuk skala kecil kelas-kelas RMU atau mesin penggilingan padi di Kendal secara perhitungan biaya produksi tidak masuk,” imbuh Pandu.(HS)