in

Ada Kriuk Belalang Goreng di Gebyar Ramadan 2023 Blora

Produk belalang goreng yang dijual di Gebyar Ramadan 2023 di seputar Alun-alun Blora, Jawa Tengah. (Foto : blorakab.go.id)

HALO BLORA – Bagi warga Kabupaten Blora yang menyukai walang (belalang) goreng, selama Ramadan ini dapat memperolehnya di Gebyar Ramadan 2023 di seputar Alun-alun Blora, Jawa Tengah.

Warga Kecamatan Blora, Slamet yang merupakan pelaku usaha kecil menengah (UKM) walang goreng itu, mengatakan dia menggunakan bahan baku berupa walang kayu, dari Kabupaten Tuban.

Hasilnya pun, menurut dia sangat menjanjikan. Dalam dua hari berjualan, omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp 500 ribu per hari.

“Dalam dua hari ini, omzetnya Rp 500 ribu. Ini jenisnya walang kayu, diambil dari wilayah Kabupaten Tuban, di Blora sudah jarang. Kalau di Blora, adanya walang utes,” kata Slamet di Blora, Kamis (6/4/2023), seperti dirilis blorakab.go.id.

Adapun harga walang goreng yang dijualnya, untuk kemasan mika berukuran kecil Rp 5.000 dan ukuran wadah besar Rp50.000 per boks.

Dirinya mengucapkan terima kasih, kepada Dekranasda Blora dan Dindagkop UKM Blora, yang telah menggelar Gebyar Ramadan 2023.

“Gebyar Ramadan 2023 ini memotivasi pelaku UMKM seperti saya untuk bangkit.  Terima kasih Dekranasda Blora dan Dindagkop UKM Blora,” ucapnya.

Bagi warga yang ingin mendapatkan walang goreng, bisa langsung menuju stand Slamet di depan BRI Blora atau arah tenggara Alun-alun Blora.

Sementara itu Rahmat Widodo, salah seorang pengemar walang goreng mengaku sangat senang bisa membeli walang goreng sambil ngabuburit.

“Suka walang goreng, kriuk sekali. Saya beli untuk cemilan nanti, mantap pokoknya,” kata Rahmat.

Sementara itu makanan yang juga banyak terdapat di Yogyakarta ini, sudah masuk dalam daftar Warisan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, disebutkan walang goreng masuk pada tahun 2013 dengan nomor regristrasi 2013003320, dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.

Disebutkan bahwa belalang goreng, bagi sebagian perantau dari Gunung Kidul, dianggap sebagai emas merah.

Hal itu karena makanan ini sangat sulit didapat di luar Gunung Kidul.

Belalang yang masih mentah, banyak dijajakan di pinggir jalan, misalnya di antara Wonosari-Semanu.

Biasanya para pencari belalang, mulai berburu sehabis hujan reda, dengan peralatan jaring kecil dan tongkat galah panjang, serta wadah belalang.

Selain disetorkan ke warung-warung yang biasa menyediakan belalang, para pencari juga menjajakan sendiri belalang tangkapannya di pinggir jalan. Belalang-belalang itu direnteng pada sebuah lidi kelapa, tiap rentang berisi 10 ekor. (HS-08).

Pantau Harga Kebutuhan Pokok, Pj Bupati Pati Prediksi Harga Daging Sapi Bakal Naik

Sambut Pemudik, DPUPR Blora Cat Ulang Kanstin Trotoar di Pemuda