in

Sampai April Terjadi 38 Kasus, Damkar Semarang Imbau Masyarakat Waspadai Kebakaran saat Musim Kemarau

HALO SEMARANG – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan berhati-hati terjadinya musibah kebakaran, terutama saat cuaca ekstrim dan suhu udara cukup panas terik seperti sekarang ini.

Antisipasi kerawanan kebakaran bisa dari masalah sampah terutama daun kering yang mudah sekali terbakar di saat cuaca ekstrim dan suhu panas yang terik.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Nurcholis meminta masyarakat untuk ikut mengantisipasi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat dalam kondisi masih menyala.

Kemudian tidak menaruh atau menyimpan korek gas di dalam mobil, karena dari beberapa kali kasus kejadian kebakaran roda empat karena dipicu di dalam mobil ada korek gas. Kondisi mobil parkir di luar saat cuaca panas bisa memicu terjadinya kebakaran, selain masalah kondisi tertentu mobil itu sendiri.

“Selain itu, ranting-ranting pohon yang telah mengering dan sampah daun bisa diantisipasi dengan dipotong dan dipungut. Tidak kalah penting lagi mengecek sambungan listrik, kebanyakan kebakaran terjadi rata-rata pada saat waktu puncak beban pemakaian listrik, yakni antara dari pukul 17.00 WIB – 19.00 WIB, sehingga membuat peralatan listrik menjadi panas. Lebih-lebih di musim kemarau ini. Mudah menyulut kasus kebakaran,” terangnya, Kamis (4/5/2023).

Kemudian, di rumah tangga bisa mengantisipasi dengan selalu berhati-hati dalam pemakaian kompor gas.

“Peralatan listrik maupun regulatornya harus punya standar (SNI), dan jika pergi dalam waktu lama bisa dilepas selang regulatornya. Dan kalau di rumah tangga sebaiknya tersedia APAR atau alat pemadam kebakaran ringan minimal ukuran 3 kg. Karena kasus kebakaran berawal dari api kecil, kalau makin cepat ditangani api bisa dikendalikan agar tidak membesar,” imbuhnya.

Kasus kejadian kebakaran tidak hanya di pemukiman padat penduduk, lanjut dia, tapi juga bangunan pabrik juga rawan kebakaran saat musim kemarau ini. Seperti pabrik bahan kimia, plastik, furniture.

“Biasanya di pemukiman padat, karena masalah sambungan listrik, maupun dari penggunaan kompor gas rumah tangga dan lainnya,” jelasnya.

Sedangkan data jumlah kasus kejadian kebakaran di Kota Semarang periode Januari – April 2023, terjadi sebanyak 38 kasus musibah kebakaran. Terbanyak pada bulan Januari ada 13 kasus, Februari ada 5 kasus, Maret ada 8 kasus dan April 12 kasus. Terbanyak kasus kebakaran menimpa pada bangunan perumahan, bangunan campuran, bangunan industri dan rumput ilalang serta lainnya.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Sutikno menjelaskan, suhu di Kota Semarang yang tercatat di BMKG Semarang terpanas terjadi pada tanggal 19 April 2023, yaitu mencapai 35 derajat celcius, dan secara umum suhu rata-rata maksimumnya adalah 34 derajat celcius.

“Dengan kondisi panas ini masih belum tergolong ekstrim,” paparnya.

Sedangkan musim kemarau untuk Jawa Tengah puncaknya diperkirakan di bulan Agustus, sehingga kondisi panas dan gerah ini akan dirasakan masih cukup panjang.

“Jadi diimbau masyarakat untuk mengurangi aktifitas tidak penting di luar ruangan dan bijak menghadapi musim kemarau yang menyebabkan suhu udara panas ini. Umumnya saat musim kemarau itu memiliki fenomena jika siang panas dan ketika dini hari hingga pagi cenderung lebih dingin dari biasanya karena tutupan awan yang sedikit,” imbuhnya.

Dikatakan Sutikno, suhu panas yang dirasakan di Kota Semarang dan sebagian besar wilayah Jawa Tengah pada dasarnya tidak ada kaitannya dengan fenomena gelombang panas atau “heatwave” yang melanda beberapa negara di Asia. Seperti Bangladesh, India dan Cina serta beberapa negara Asia lainnya.

“Suhu udara panas yang kita rasakan saat ini karena memang fenomena alam biasa karena dipengaruhi gerak semu matahari di bulan April ini. Karena posisi matahari berada di atas Khatulistiwa dan bergerak ke Utara, selain itu wilayah Jateng secara umum sudah memasuki musim kemarau di bulan April ini termasuk Kota Semarang, kecuali wilayah pegunungan Tengah (Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara) yang musim kemaraunya di bulan Juni mendatang,” terangnya.

Namun, kata dia, masyarakat harus tetap waspada potensi hujan lebat dalam durasi singkat pada sore-malam hari di wilayah Semarang dan sekitarnya yang disertai petir dan angin kencang. (HS-06)

 

Sinergitas Kadin dengan Pemda Dibutuhkan untuk Tingkatkan Ekonomi Daerah

Pemilik SMP Perdana Ditemukan Tak Bernyawa di Sekolah, Diduga Sudah Meninggal Dua Minggu